Panglima Jilah Ajak Jokowi Bintangi Film Kolosal Dayak dan Hadiri Agenda Budaya di Kalimantan

3 Min Read
Ketua Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) Panglima Jilah menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Rabu 20 Mei 2026 ( gk/dmnetwork )

DMNETWORK — Ketua Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, melakukan pertemuan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kediamannya di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, Rabu (20/5). Pertemuan tersebut berlangsung hangat dengan nuansa budaya, kebangsaan, dan semangat menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Kedatangan Panglima Jilah ke Solo bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Dalam kesempatan itu, tokoh adat Dayak tersebut secara langsung mengundang Jokowi untuk menghadiri kegiatan budaya Dayak yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang di Kalimantan.

Tak hanya membahas agenda adat, pertemuan itu juga menghasilkan gagasan menarik terkait produksi film kolosal bertema sejarah dan budaya Dayak. Panglima Jilah mengungkapkan, Jokowi diajak untuk ikut bermain dalam film tersebut, bahkan direncanakan memerankan tokoh utama.

Menurut Panglima Jilah, film itu akan mengangkat kisah masa lampau masyarakat Dayak serta hubungan historis dengan Jawa dan kerajaan Majapahit. Cerita tersebut dikemas sebagai upaya memperkenalkan sejarah Nusantara dari perspektif budaya lokal yang selama ini jarang diangkat ke layar lebar.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Peran beliau peran utama. Film ini menceritakan Dayak masa lampau dan kolaborasi dengan Jawa serta Majapahit,” ujar Panglima Jilah usai pertemuan.

Ia menilai, keterlibatan Jokowi dalam film budaya tersebut dapat menjadi simbol kuat persatuan nasional sekaligus bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya daerah. Panglima Jilah juga menyebut respons Jokowi terhadap gagasan itu cukup positif.

Selain membahas film dan budaya, keduanya turut berdiskusi mengenai kondisi kebangsaan saat ini. Panglima Jilah menegaskan pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Ia menilai keberagaman budaya Indonesia justru menjadi kekuatan besar bangsa apabila dirawat bersama.

Pertemuan tersebut juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal terus mendapat ruang dalam percakapan nasional. Bagi komunitas adat Dayak, pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui ritual dan tradisi, tetapi juga lewat medium kreatif seperti perfilman agar lebih mudah dikenal generasi muda.

Rencana produksi film kolosal Dayak itu pun disebut akan melibatkan berbagai unsur budaya asli Kalimantan, mulai dari tarian adat, busana tradisional, hingga cerita rakyat yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Nusantara.

- Iklan -
Ad image

Langkah Panglima Jilah mengangkat budaya Dayak melalui industri kreatif dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. Kehadiran figur nasional seperti Jokowi diharapkan mampu menarik perhatian publik lebih luas terhadap kekayaan budaya Dayak dan sejarah hubungan antardaerah di Indonesia.(*)

Share This Article