Sosok Senyap David Harold Waromi, Pendeta Papua yang Bergerak Diam untuk Petani Indonesia

5 Min Read
David Harold Waromi. Ketua DPW Papua Tani merdeka Indonesia (mr/dmnetwork)

DMNETWORK.COM – BOGOR – Di sebuah sudut pelatihan pertanian di kawasan Ciawi, Bogor, seorang pria Papua tampak duduk bersama peserta lain. Ia tidak datang dengan iring-iringan protokoler. Tidak pula membawa aura pejabat yang biasanya mudah dikenali dari jarak beberapa meter. Pakaiannya sederhana. Cara bicaranya tenang. Ia mengikuti sesi demi sesi Diklat Tani Merdeka Indonesia seperti peserta biasa.

Tak banyak yang mengetahui siapa dirinya.

Baru menjelang acara usai, sejumlah anggota mulai menyadari bahwa lelaki itu ternyata bukan orang biasa. Seorang staf menghampirinya sambil membawa perlengkapan pribadi dan dokumen perjalanan. Beberapa peserta saling berbisik. Nama itu perlahan menyebar dari mulut ke mulut: David Harold Waromi.

Seorang pendeta. Sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari Papua.

- Iklan -
Ad imageAd image

Namun yang lebih membekas bukan status politiknya. Melainkan apa yang terjadi setelah acara selesai. Sejumlah petugas kebersihan, satpam lokal, hingga pekerja teknis kegiatan satu per satu dipanggil. Waromi membagikan uang dan bantuan secara diam-diam. Tidak ada dokumentasi resmi. Tidak ada panggung simbolik. Bahkan sebagian peserta baru mengetahui tindakan itu setelah semua orang mulai meninggalkan lokasi pelatihan.

“Beliau seperti sengaja menyembunyikan dirinya,” ujar seorang peserta diklat yang hadir saat itu.

Di tengah lanskap politik nasional yang sering dipenuhi pertunjukan citra, sosok Waromi justru bergerak seperti arus bawah tanah: tenang, senyap, tetapi terasa pengaruhnya.

Nama David Harold Waromi memang tidak terlalu sering muncul dalam hiruk-pikuk politik Jakarta. Namun di Papua, terutama dalam jaringan gereja dan komunitas sosial, namanya cukup dikenal. Ia menjabat anggota DPD RI mewakili Papua dan aktif di Komite III yang membidangi pendidikan, agama, kesehatan, hingga kesejahteraan sosial.

Latar belakangnya sebagai pendeta membuat pendekatan politiknya berbeda. Ia tidak membangun citra melalui retorika keras ataupun manuver politik terbuka. Dalam banyak kegiatan, Waromi justru lebih sering hadir sebagai pelayan masyarakat. Ia dekat dengan lingkungan gereja, terutama jaringan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

- Iklan -
Ad image

Di Jayapura dan sejumlah wilayah pedalaman, ia kerap terlibat dalam kegiatan bantuan bagi lansia, anak yatim, hingga pelayanan jemaat. Tetapi belakangan, jalur perjuangannya meluas ke sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Momentum itu terlihat ketika ia dipercaya menjadi Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Papua periode 2025–2030. Pelantikannya dilakukan langsung oleh Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir.

Di tangan Waromi, isu pertanian tidak hanya dibicarakan sebagai proyek ekonomi, melainkan juga martabat sosial masyarakat Papua. Ia mendorong berbagai program seperti penanaman jagung, pengembangan kopi Papua, distribusi bibit padi gogo, hingga penguatan swasembada pangan berbasis kampung.

Dalam beberapa pidatonya, Waromi berulang kali mengingatkan bahwa Papua tidak boleh terus diposisikan sekadar sebagai penerima bantuan dari pusat.

“Papua harus menjadi pelaku kebijakan pangan nasional,” ujarnya dalam satu forum pemberdayaan petani.

Kalimat itu menjadi penanda arah pikirannya. Bahwa tanah Papua, dengan seluruh kekayaan alamnya, tidak cukup hanya dibicarakan sebagai objek pembangunan. Papua, menurutnya, harus menjadi subjek yang menentukan masa depannya sendiri.

Di titik inilah profil Waromi menjadi menarik. Ia berdiri di persimpangan tiga dunia sekaligus: gereja, politik nasional, dan gerakan petani.

Di gereja, ia berbicara tentang pelayanan.

Di parlemen, ia bergerak dalam jalur kebijakan.

Di tengah petani, ia berbicara tentang tanah, benih, dan kemandirian pangan.

Kombinasi itu membuat sosoknya tampak berbeda dibanding banyak elite Papua lain yang lebih identik dengan politik kekuasaan atau perebutan sumber daya. Waromi justru hadir dengan pendekatan yang lebih membumi. Ia memilih masuk ke ruang-ruang kecil: ladang warga, komunitas gereja, hingga pelatihan petani.

Barangkali karena itulah banyak orang tidak langsung mengenali siapa dirinya.

Tidak ada kemewahan mencolok yang mengelilinginya. Tidak ada jarak sosial yang sengaja dipasang. Bahkan dalam pelatihan di Ciawi itu, ia tetap tidur, makan, dan mengikuti agenda bersama peserta lain tanpa perlakuan khusus.

Seorang panitia menggambarkan kesannya dengan kalimat sederhana:

“Kalau tidak diberi tahu, kami kira beliau hanya peserta biasa dari Papua.”

Tetapi justru di situlah letak kekuatan figur seperti David Harold Waromi. Ia tidak sedang membangun panggung tentang dirinya sendiri. Ia bergerak perlahan, seperti cenderawasih yang tidak perlu berisik untuk membuat orang menoleh.

Di Papua hari ini, ketika banyak tokoh tampil lewat baliho besar dan perang citra media sosial, Waromi memilih jalur berbeda: bekerja dalam diam, lalu membiarkan masyarakat yang bercerita.(mr)

Share This Article