DMNETWORK.COM – TEMANGGUNG – Tradisi Nublek Kopi kembali digelar masyarakat Desa Gunung Gempol, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebagai penanda dimulainya musim panen kopi Robusta tahun 2026. Tradisi turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat petani kopi, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya di kawasan lereng pegunungan Temanggung.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi adat yang dipimpin sesepuh desa bersama tokoh masyarakat setempat. Setelah doa bersama digelar, warga kemudian melakukan pemetikan buah kopi secara serentak di area perkebunan milik warga.
Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diberikan Tuhan sekaligus harapan agar musim panen tahun ini membawa keberkahan bagi para petani kopi di Gunung Gempol.
Suasana kebersamaan tampak kuat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari petani, pemuda desa hingga kaum perempuan turut ambil bagian dalam prosesi adat dan pemetikan kopi.
Bagi masyarakat Gunung Gempol, Nublek Kopi bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya desa yang diwariskan lintas generasi. Mayoritas warga di wilayah tersebut menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kopi Robusta yang selama ini menjadi komoditas unggulan Temanggung.
Dalam keyakinan masyarakat setempat, tradisi Nublek Kopi juga memiliki nilai spiritual yang kuat. Melalui doa dan prosesi adat, warga berharap diberikan keselamatan, kelancaran rezeki, serta hasil panen yang melimpah selama musim panen berlangsung.
Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, tradisi ini juga mulai menarik perhatian wisatawan dan pegiat kopi dari berbagai daerah. Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan langsung proses adat masyarakat petani kopi sekaligus menikmati suasana alam pegunungan yang masih asri.
Desa Gunung Gempol sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kopi Robusta di Kabupaten Temanggung. Kondisi geografis yang berada di dataran tinggi dengan udara sejuk membuat kopi dari wilayah tersebut memiliki karakter rasa khas yang diminati pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat desa juga mulai mengembangkan konsep desa wisata berbasis konservasi lingkungan dan edukasi kopi. Tradisi Nublek Kopi menjadi salah satu agenda budaya yang rutin dipromosikan untuk memperkuat potensi wisata lokal.
Sejumlah warga berharap musim panen tahun ini memberikan hasil lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Faktor cuaca yang relatif mendukung selama masa pertumbuhan tanaman kopi membuat petani optimistis kualitas dan produksi kopi Robusta Gunung Gempol meningkat.
Sesepuh adat setempat mengatakan tradisi Nublek Kopi akan terus dijaga sebagai warisan budaya masyarakat desa. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya mengajarkan rasa syukur, tetapi juga memperkuat solidaritas antarwarga di tengah aktivitas panen.
“Kopi bukan hanya soal hasil kebun, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat di sini. Tradisi ini menjadi pengingat agar warga tetap menjaga kebersamaan dan alam,” ujarnya saat prosesi berlangsung, Rabu (20/5/2026).
Dengan semakin dikenalnya tradisi Nublek Kopi, masyarakat berharap potensi kopi Temanggung tidak hanya berkembang dari sisi ekonomi, tetapi juga mampu memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal.(*)