REMBANG, DMNETWORK — Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati, KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, menilai Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama harus menjadi momentum untuk mengembalikan PBNU pada Khittoh 1926 sebagai organisasi perjuangan ulama dan umat.
Dalam keterangannya di Sarang, Rembang, Minggu (24/5/2026), Gus Rosikh menegaskan PBNU jangan sampai terseret dalam kepentingan geopolitik internasional yang dinilai dapat menjauhkan organisasi dari ruh perjuangan Nahdliyin.
Menurut dia, sejak berdiri, NU memiliki fondasi perjuangan dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, mempertahankan kedaulatan bangsa, hingga membela kaum tertindas di berbagai belahan dunia, termasuk perjuangan rakyat Palestina.
“Muktamar ke-35 harus menjadi momentum muhasabah besar. PBNU jangan sampai hanya menjadi stempel agenda global yang bertentangan dengan cita-cita para muassis NU,” ujar Gus Rosikh.
Ia menyoroti berbagai dinamika yang berkembang di tubuh PBNU dalam beberapa waktu terakhir, termasuk pembentukan jejaring strategis global yang dinilai perlu dikaji secara kritis agar tidak mengaburkan identitas organisasi.
Dalam dokumen analisis yang beredar di kalangan Nahdliyin, kata dia, terdapat sejumlah catatan terkait arah kemitraan strategis internasional yang melibatkan PBNU. Dokumen itu juga memuat dorongan agar organisasi tetap menjaga independensi dan tidak terseret dalam kepentingan global tertentu.
Selain itu, Gus Rosikh menekankan pentingnya mengembalikan supremasi Syuriyah sebagai otoritas tertinggi dalam menentukan arah perjuangan organisasi. Menurutnya, penguatan peran ulama menjadi penting agar NU tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik maupun geopolitik sesaat.
Ia juga menilai NU harus tetap menjadi rumah besar umat Islam yang independen, dekat dengan rakyat, pesantren, dan tradisi keilmuan yang mandiri.
“Kalau NU kehilangan independensinya, maka yang hilang bukan hanya marwah organisasi, tetapi juga kepercayaan umat,” katanya.
Gus Rosikh turut mendorong pembenahan kaderisasi internal agar tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Ia mengingatkan pentingnya menjaga ruang kaderisasi organisasi dari pengaruh ideologi yang dinilai tidak sejalan dengan garis perjuangan NU.
Menurut dia, Muktamar Ke-35 NU harus menjadi forum konsolidasi moral dan ideologis untuk memperkuat persatuan warga Nahdliyin serta meneguhkan posisi NU sebagai benteng keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
“NU harus kembali menjadi jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berkhidmat untuk umat,” ujar Gus Rosikh.