JOMBANG, DMNETWORK – Ratusan anggota organisasi kemasyarakatan Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama santri, pesilat Pagar Nusa, Padepokan Lingpasraga, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Jawa Timur, dan masyarakat mengikuti Kirab Merah Putih di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Kirab tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia sekaligus menyambut Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Kegiatan itu juga menjadi bentuk solidaritas terhadap masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak gempa bumi.
Kirab dimulai dari kawasan Monumen Ringin Contong menuju Alun-alun Jombang. Para peserta membentangkan kain merah putih sepanjang sekitar 300 meter dalam perjalanan sejauh kurang lebih 4 kilometer.
Rombongan berjalan perlahan menyusuri jalan kota. Kehadiran ratusan peserta dengan bentangan kain merah putih tersebut menarik perhatian warga yang berada di sepanjang jalur kirab.
Ketua Umum PNIB sekaligus penggagas kegiatan, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengatakan kirab tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial dalam menyambut peringatan kemerdekaan.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali peran pemuda, santri, ulama, dan berbagai elemen masyarakat dalam perjalanan sejarah bangsa.
“Acara kirab kali ini untuk memperingati hari sakral Proklamasi 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa. Selain itu juga dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang,” ujar Gus Wal kepada wartawan seusai kegiatan.
Ia mengatakan, keterlibatan pemuda dan santri dalam kirab juga dimaksudkan untuk mengingatkan generasi sekarang mengenai kontribusi mereka dalam sejarah Indonesia.
Selain itu, menurut Gus Wal, kegiatan bersama Pagar Nusa dan BEM PTNU Jawa Timur tersebut merupakan bentuk solidaritas bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa.
“Kirab Merah Putih PNIB di Jombang bersama Pagar Nusa dan BEM PTNU Jawa Timur juga merupakan bentuk solidaritas, empati dan simpati untuk saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur,” katanya.
“Duka Flores NTT adalah duka kami dan duka seluruh Indonesia,” lanjut dia.
Ingat peran ulama dalam sejarah kemerdekaan
Gus Wal juga mengingatkan pentingnya mengenang peran ulama dan para kiai dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia menyebut ungkapan “Jas Merah” atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah perlu berjalan beriringan dengan apa yang ia sebut sebagai “Jas Hijau”, yakni Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama.
Menurut dia, sejarah perjuangan bangsa perlu terus disampaikan kepada generasi muda agar tidak terputus dari ingatan kolektif masyarakat.
“Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah dan Jas Hijau, Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama menjadi pengingat pentingnya peran para pendahulu dan pendiri bangsa,” ujar Gus Wal.
Ia menilai kirab tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk membuat kegiatan yang meriah, tetapi juga membawa pesan kebangsaan.
“Bukan sekadar gebyar ramai saja,” katanya.
Gus Wal juga menyinggung peran pemuda dalam proses menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Ia menyebut peristiwa Rengasdengklok sebagai salah satu catatan sejarah yang menunjukkan adanya desakan dari kelompok pemuda kepada Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.
Sementara itu, menurut dia, peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan juga tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia, termasuk dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Ia mengaitkannya dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.
“Peran santri yang tak kalah heroiknya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru seumur jagung saat itu ditandai dengan peristiwa 10 November Surabaya,” ujar Gus Wal.
Serukan kewaspadaan terhadap intoleransi
Dalam kesempatan tersebut, PNIB juga menyerukan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk intoleransi, radikalisme, terorisme, anarkisme, premanisme, serta gagasan yang dinilai dapat mengancam persatuan bangsa.
Gus Wal mengatakan berbagai persoalan tersebut harus diantisipasi melalui penguatan persatuan dan kehidupan masyarakat yang rukun.
“Intoleransi adalah ibu kandung dari aksi radikalisme, anarkisme, terorisme dan premanisme. Semua merupakan musuh rakyat yang tidak terlihat namun nyata terjadi,” katanya.
Ia mengajak masyarakat Jombang dan Jawa Timur menjaga lingkungan serta kerukunan antarwarga.
“Jombang dan Jawa Timur kondusif dengan saling jaga tetangga, jaga kampung dan jaga persatuan,” ujar Gus Wal.
Ia berharap pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum untuk memperkuat kerukunan masyarakat dan menunjukkan kehidupan sosial yang harmonis.
“Mari dukung dan sukseskan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dengan semangat khidmat kepada para kiai, dengan ceria, senang dan gembira,” katanya.
PNIB dorong kemerdekaan dimaknai secara substantif
Selain memperingati kemerdekaan dan menyambut Muktamar NU, PNIB melalui kegiatan tersebut menyampaikan sejumlah pesan kebangsaan.
Gus Wal mengatakan kemerdekaan tidak semestinya hanya dipahami sebagai peringatan tahunan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.
PNIB, kata dia, mendorong pemerintah untuk menjadikan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai bagian penting dalam penguatan dasar dan pilar kebangsaan.
“Momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia ini semoga menjadi pengingat agar negara, bangsa dan rakyat Indonesia merdeka 100 persen,” kata Gus Wal.
Ia kemudian menyampaikan harapan agar kemerdekaan Indonesia juga dimaknai sebagai upaya membebaskan masyarakat dari berbagai persoalan yang dapat mengancam kehidupan berbangsa.
“Merdeka dari korupsi, intoleransi, terorisme, khilafah, radikalisme, anarkisme dan premanisme. Merdeka 100 persen, Merah Putih 100 persen, bukan setengah-setengah,” pungkasnya. (Rist)