DMNETWORK.COM – JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperkuat dukungan operasi penanganan bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain mengerahkan prajurit ke wilayah terdampak, TNI menyiapkan pesawat Hercules dan kapal perang Republik Indonesia (KRI) untuk mendukung kebutuhan penanganan di lapangan.
Kesiapan sarana tersebut ditujukan untuk menunjang mobilisasi personel dan distribusi logistik. Pengoperasiannya akan disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan kondisi bencana.
Kapuspen TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan pengerahan kekuatan tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa.
“TNI mengerahkan Hercules dan KRI untuk membantu penanganan bencana serta mendukung kebutuhan masyarakat terdampak,” kata Nas dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).
Empat Satuan Dikerahkan
Dukungan personel berasal dari sejumlah satuan TNI yang berada di wilayah sekitar lokasi bencana.
Prajurit dari Kodim 1603/Sikka, Kodim 1612/Manggarai, Kodim 1602/Ende, serta Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/Wakanga Mere diterjunkan untuk membantu evakuasi dan penanganan warga.
TNI juga membangun koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana.
Koordinasi dilakukan bersama Polri, BNPB, BPBD, Basarnas, serta instansi terkait lainnya agar penanganan dapat berlangsung cepat dan terintegrasi.
BNPB Catat 14 Korban Meninggal
Data BNPB hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 12.30 WIB mencatat 14 orang meninggal dunia akibat gempa.
Rinciannya, enam korban berada di Kabupaten Manggarai, lima korban di Kabupaten Manggarai Timur, dan tiga korban di Kabupaten Sikka.
Selain korban meninggal, terdapat dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Sekitar 2.000 warga tercatat mengungsi maupun melakukan evakuasi secara mandiri.
BNPB juga mencatat sekitar lima kepala keluarga terdampak.
Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan, kemudian Kabupaten Manggarai Timur.
74 Rumah Rusak
Dampak gempa juga terlihat pada bangunan tempat tinggal dan fasilitas publik.
BNPB mencatat 54 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.
Kerusakan fasilitas publik meliputi lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan.
Jumlah tersebut masih merupakan data sementara. BNPB masih melakukan verifikasi dan validasi untuk memastikan kondisi korban serta tingkat kerusakan di masing-masing wilayah.
Karena proses pendataan masih berjalan, data korban maupun kerusakan dapat mengalami perubahan.
TNI bersama pemerintah dan lembaga terkait terus menyiapkan dukungan operasional agar proses evakuasi, distribusi bantuan, serta penanganan masyarakat terdampak dapat berjalan secara efektif.(*)