BANYUMAS, DMNETWORK – Sebelum memasuki kawasan makam leluhur dan kyai, masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, terlebih dahulu menjalani prosesi sungkem dan caos bekti kepada bedogol.
Ritual tersebut menjadi tahapan awal yang wajib dilakukan sebelum warga melaksanakan ziarah ke makam leluhur. Dalam tradisi Bonokeling, bedogol merupakan tokoh adat yang memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan tata cara kehidupan masyarakat adat.
Melalui prosesi sungkem dan caos bekti, warga menyampaikan penghormatan sekaligus memohon doa sebelum memasuki area pemakaman leluhur. Tradisi itu juga menjadi simbol tata krama adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Bonokeling, caos bekti tidak hanya dimaknai sebagai seremonial adat. Prosesi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya penghormatan kepada sesepuh, leluhur, dan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat.
Ritual caos bekti juga dilaksanakan menjelang Perlon Besar, tradisi tahunan yang digelar sepekan setelah Idul Adha. Dalam perayaan tersebut, warga adat melakukan penyedekahan daging hewan dan berbagai makanan sebagai ungkapan syukur atas rezeki, keselamatan, dan ketenteraman hidup yang mereka rasakan.
Pada Perlon Besar tahun ini, masyarakat adat Bonokeling menyembelih sedikitnya 15 ekor kambing. Daging hasil penyembelihan kemudian diolah secara gotong royong di rumah salah satu bedogol.
Sejak pagi, warga bersama-sama menyiapkan bumbu, memasak, hingga mendistribusikan makanan kepada seluruh anggota komunitas adat. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai kelompok usia, mulai dari orang tua hingga generasi muda.
Menurut masyarakat Bonokeling, tradisi sedekah daging bukan sekadar kegiatan berbagi makanan. Tradisi tersebut menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga nilai gotong royong yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman, berbagai ritual adat seperti caos bekti dan Perlon Besar masih terus dipertahankan. Bagi warga Bonokeling, tradisi tersebut bukan hanya bagian dari identitas budaya, tetapi juga cara menjaga hubungan dengan leluhur serta memperkuat solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. (GK)