JAKARTA, DMNETWORK – Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menegaskan bahwa program cetak sawah tidak dapat dinilai sebagai proyek yang langsung menghasilkan produksi pangan dalam waktu singkat. Menurut dia, lahan sawah yang baru dibuka membutuhkan waktu antara satu hingga empat tahun sebelum mencapai tingkat produktivitas yang optimal.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono untuk menjawab berbagai kritik yang menilai program cetak sawah belum memberikan dampak signifikan dalam jangka pendek.
“Kalau yang ini kadang-kadang butuh setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan sampai empat tahun sampai lahannya optimal sebagai lahan pertanian,” kata Sudaryono dalam keterangannya.
Menurut Sudaryono, proses pengembangan sawah baru berbeda dengan pembangunan infrastruktur fisik yang hasilnya dapat langsung terlihat setelah proyek selesai dikerjakan. Pada lahan pertanian, terdapat tahapan penyesuaian yang harus dilalui sebelum lahan mampu menghasilkan panen secara maksimal.
Ia menjelaskan, lahan yang baru dicetak umumnya masih memerlukan proses perbaikan struktur tanah, penyesuaian sistem pengairan, serta adaptasi pola budidaya. Faktor-faktor tersebut menjadi penentu keberhasilan produksi pada tahun-tahun awal pengelolaan.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat melihat program cetak sawah sebagai investasi jangka menengah dan panjang dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Jangan dibayangkan hari ini dikeruk jadi sawah, besok langsung panen 5 sampai 10 ton. Tidak seperti itu,” ujar Sudaryono.
Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa program cetak sawah tidak hanya berfokus pada pembukaan lahan baru. Pemerintah juga menyiapkan berbagai dukungan pendukung produksi, mulai dari penyediaan alat dan mesin pertanian, benih unggul, pendampingan petani, hingga pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan luas baku sawah dan memperkuat kapasitas produksi pangan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tantangan perubahan iklim.
Pemerintah menargetkan perluasan areal sawah baru dalam skala ratusan ribu hektare dalam beberapa tahun mendatang. Namun, hasil program tersebut, menurut Sudaryono, perlu diukur dalam kerangka keberlanjutan produksi pangan, bukan semata-mata dari capaian panen pada tahun pertama setelah lahan dibuka. (GK)