Catatan Redaksi Malam Malam Ketika Kampung Mengingat Kemerdekaan

8 Min Read
Ilustrasi gambar malam tirakatan (DMNetwork)

Orang-orang hanya duduk. Mendengarkan doa. Mengheningkan cipta. Mengenang mereka yang sudah tidak ada

DMNETWORK – Malam ini kampungku agak lain. Tidak terlalu ramai. Tidak pula benar-benar sepi. Ada suara anak-anak yang masih berlarian, ada ibu-ibu yang sibuk mengatur makanan, ada bapak-bapak yang sesekali berdehem seperti hendak menyampaikan pidato kenegaraan, padahal yang hendak disampaikan paling-paling soal iuran RT.
Di depan balai kampung, merah putih masih berkibar.
Besok pagi bendera itu akan berkibar lebih gagah. Akan ada upacara, penghormatan, lagu Indonesia Raya, pidato, barisan anak sekolah, pegawai, warga, dan segala macam perlengkapan kenegaraan. Tetapi malam ini bendera itu seperti sedang diajak bicara secara perlahan.
Namanya tirakatan.
Tradisi kampung menjelang 17 Agustus. Malam 16 Agustus, menjelang hari kemerdekaan.
Saya sudah enam puluh tahun hidup di negeri ini. Artinya, saya sudah berkali-kali duduk dalam acara semacam ini. Ketika kecil, saya datang karena ada nasi berkat. Ketika agak besar, datang karena disuruh orang tua. Ketika remaja, mungkin datang karena teman-teman datang. Setelah tua, datang karena mulai mengerti bahwa hidup ini rupanya membutuhkan lebih banyak perenungan daripada sekadar nasi berkat.
Tirakatan itu menarik. Ia tidak seperti lomba makan kerupuk. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah. Tidak ada hadiah. Tidak ada panitia yang berteriak, “Ayo, Pak, sedikit lagi!”
Orang-orang hanya duduk. Mendengarkan doa. Mengheningkan cipta. Mengenang mereka yang sudah tidak ada. Mengingat para pejuang yang namanya mungkin sudah tidak kita kenal.
Lalu makan bersama. Begitulah cara kampung merayakan kemerdekaan.
Negara mempunyai istana, gedung parlemen, lapangan upacara dan segala macam protokol. Kampung mempunyai tikar. Negara mempunyai podium.
Kampung mempunyai pengeras suara yang kadang-kadang suaranya lebih keras daripada isi pidatonya. Tetapi di antara keduanya ada sesuatu yang sama: memori.
Malam ini kita mengingat bahwa 81 tahun lalu bangsa ini menyatakan dirinya merdeka. Kalimatnya pendek. Akibatnya panjang. “Indonesia merdeka.”
Dua kata yang ternyata membutuhkan perjuangan yang tidak pendek.
Ada orang yang mati karenanya. Ada yang kehilangan rumah. Ada yang kehilangan keluarga. Ada yang dipenjara. Ada yang dibuang. Ada yang tidak sempat melihat bendera merah putih berkibar setelah kemerdekaan diproklamasikan.
Mereka berjuang untuk sesuatu yang bahkan belum tentu dapat mereka nikmati sendiri.
Di sinilah saya kadang merasa malu kepada sejarah. Kita sering mengatakan bahwa para pahlawan telah gugur demi kita.
Tetapi kita jarang bertanya: demi kita yang bagaimana? Apakah demi kita yang setiap tahun memasang bendera tetapi lupa kepada tetangga?
Apakah demi kita yang rajin menyanyikan lagu kebangsaan tetapi masih senang melihat orang miskin tetap miskin?
Apakah demi kita yang hafal tanggal 17 Agustus tetapi tidak hafal harga beras di warung sebelah?
Jangan-jangan para pejuang dahulu terlalu baik. Mereka memberikan kemerdekaan kepada kita secara cuma-cuma, sementara kita kadang memperlakukannya seperti barang pinjaman. Padahal kemerdekaan bukan hadiah ulang tahun. Ia pekerjaan rumah. Dan pekerjaan rumah itu belum selesai.
Di kampung, persoalan kemerdekaan bentuknya sederhana. Petani ingin harga panennya pantas. Pedagang ingin dagangannya laku. Buruh ingin upah yang cukup untuk membawa pulang beras, bukan hanya cerita. Anak-anak ingin sekolah. Orang tua ingin berobat tanpa harus menjual sawah. Anak muda ingin bekerja tanpa harus meninggalkan kampung.
Itulah kemerdekaan dalam ukuran kampung. Bukan teori besar. Bukan istilah yang harus dicetak dengan huruf kapital.
Kemerdekaan kadang-kadang sesederhana bisa makan tiga kali sehari dengan uang sendiri.
Bisa menyekolahkan anak. Bisa berobat ketika sakit. Bisa menyampaikan pendapat tanpa takut. Bisa menjadi miskin tanpa dipermalukan. Dan bisa menjadi kaya tanpa merasa perlu membeli harga diri orang lain.
Malam tirakatan sebenarnya adalah malam yang agak ganjil. Kita merayakan kemerdekaan dengan cara menundukkan kepala. Bukankah biasanya kalau merayakan sesuatu kita bersorak? Tetapi kemerdekaan justru dirayakan dengan mengingat orang mati.
Mungkin karena bangsa yang sehat bukan bangsa yang hanya pandai berpesta, melainkan bangsa yang masih tahu kepada siapa ia berutang.
Maka malam ini saya duduk di antara warga kampung. Usia saya sudah enam puluh tahun.
Saya mencoba menghitung berapa kali sudah mengikuti malam seperti ini. Tidak berhasil. Terlalu banyak. Dulu wajah-wajah di sekeliling saya adalah wajah orang-orang tua.
Sekarang saya justru melihat wajah-wajah yang dulu masih anak-anak, sekarang sudah menjadi orang tua. Ada yang rambutnya memutih. Ada yang jalannya mulai pelan. Ada yang sudah tidak datang lagi karena lebih dahulu dipanggil Tuhan.
Kampung ternyata juga punya sejarah. Hanya saja sejarah kampung tidak ditulis di buku.Ia tersimpan dalam memori orang-orang. Dalam nama orang yang sudah meninggal. Dalam rumah yang berubah bentuk. Dalam jalan yang dahulu tanah sekarang sudah beraspal. Dalam anak kecil yang dulu berlari membawa bendera kertas, kini membawa anaknya sendiri ke acara tirakatan. Dan mungkin itulah kemerdekaan yang paling nyata.
Waktu berjalan. Kita berganti. Tetapi malam 16 Agustus tetap datang. Merah putih tetap dipasang. Doa tetap dibacakan. Nama para pejuang tetap disebut. Tumpeng tetap dipotong. Nasi tetap dibagikan. Kita tetap berkumpul.
Hanya saja, pertanyaan yang semestinya kita ajukan juga harus berubah. Dulu kita bertanya: siapa yang merebut kemerdekaan? Jawabannya: para pejuang.
Sekarang kita harus bertanya: untuk apa kemerdekaan itu kita gunakan? Jawabannya belum tentu mudah.
Sebab setelah 81 tahun, kemerdekaan ternyata bukan perkara selesai atau belum selesai. Kemerdekaan adalah sesuatu yang setiap generasi harus mengisinya kembali. Generasi pertama mengisinya dengan mempertahankan negara. Generasi berikutnya mengisinya dengan membangun. Generasi setelahnya mengisinya dengan sekolah, bekerja, bertani, berdagang, mencipta, menjaga kampung.
Dan generasi kita? Barangkali tugas kita adalah memastikan bahwa anak-anak yang duduk di belakang tikar malam ini tidak mewarisi Indonesia hanya dalam bentuk cerita. Mereka harus mewarisi negeri yang lebih adil. Lebih waras. Lebih manusiawi. Malam sudah semakin larut.
Pengeras suara mulai mengecil. Anak-anak yang tadi berlari mulai mengantuk. Orang-orang mulai membungkus sisa makanan. Sebentar lagi tikar akan digulung. Besok pagi merah putih akan kembali dikibarkan. Dan kita akan kembali berkata:
Merdeka!
Saya hanya berharap, setelah kata itu diteriakkan, kita tidak buru-buru pulang. Sebab kemerdekaan rupanya tidak selesai ketika upacara selesai.
Ia baru dimulai ketika kita kembali ke rumah, membuka pintu, melihat keluarga, melihat tetangga, melihat kampung, lalu bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sudah saya lakukan untuk membuat negeri ini sedikit lebih merdeka bagi orang lain?Barangkali itulah gunanya tirakatan.Bukan supaya kita mengingat bahwa Indonesia pernah merdeka. Tetapi supaya kita tidak lupa bahwa kemerdekaan harus terus dikerjakan. Setiap tahun. Setiap hari.
Dan mungkin, sampai kita sendiri tidak sempat lagi menghadiri tirakatan berikutnya.

Aris Munandar, editor

Share This Article
error: Content is protected !!