PURBALINGGA, DMNETWORK— Upaya menjaga kebudayaan lokal di tengah derasnya arus modernitas dilakukan Prakarsa Garba Mataram melalui kegiatan bertajuk “The Symphoni of Purbalingga Heritage”. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah agenda kebudayaan, mulai dari kirab budaya, bazar UMKM, pertunjukan kesenian tradisional hingga sarasehan budaya.
Kegiatan itu diikuti ratusan warga serta sejumlah kelompok masyarakat adat dari wilayah Banyumas. Kehadiran komunitas masyarakat adat menjadi bagian penting dalam upaya mempertemukan kembali tradisi lokal dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Ketua Yayasan Pagar Mataram, KRHA Prof. (HC). Dr. Dimas Sastronagoro, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya konkret untuk merawat dan melestarikan kebudayaan lokal yang keberadaannya menghadapi tantangan perubahan zaman.
Menurut dia, kebudayaan tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Tradisi dan nilai-nilai budaya perlu terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat.
“Acara ini merupakan upaya konkret untuk melestarikan kebudayaan lokal di tengah masyarakat yang mulai tergerus modernitas,” ujar Dimas.
Salah satu komunitas masyarakat adat yang turut berpartisipasi adalah komunitas adat Banokeling. Mereka hadir dengan rombongan menggunakan satu bus kecil dan satu mobil pribadi.
Kehadiran komunitas Banokeling sekaligus menunjukkan adanya hubungan kebudayaan dan kesetiakawanan di antara masyarakat Banyumas yang memiliki beragam tradisi dan komunitas adat.
Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, mengatakan keikutsertaan komunitas Banokeling dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat persaudaraan antarmasyarakat Banyumas.
Menurut Ritam, kegiatan kebudayaan seperti The Symphoni of Purbalingga Heritage tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kesenian dan tradisi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok masyarakat untuk saling mengenal dan memperkuat kesetiakawanan.
“Ini merupakan wujud kesetiakawanan masyarakat Banyumas,” kata Ritam.
Melalui kirab budaya, kesenian tradisional, bazar UMKM dan sarasehan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan lokal. Tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hadir dan memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat. (Darno)