Cerpen Ngubaedi Achmad: Pintu yang Lupa Cara Terbuka

7 Min Read
Ilustrasi gambar cerpen Ngubaedi Achmad (DMNetwork)

Ia datang sebagai tamu. Ia duduk di ruang tamu. Ia minum teh. Ia berbicara dengan ayahnya.

DMNETWORK – Mbah Imam berdiri di depan sebuah rumah yang sudah lama tidak dihuni. Ia memperhatikan pintunya.
Pintu itu tidak lagi seperti pintu yang dulu. Membukanya sulit. Menutupnya pun sama sulitnya. Keduanya memerlukan sedikit paksaan, seolah-olah pintu itu sudah lupa bagaimana caranya menjadi pintu.
Engselnya kering. Tidak pernah disentuh minyak. Tepi daun pintunya kasar, mungkin karena terlalu lama tidak bergerak, terlalu lama tidak menerima tangan manusia.
Mbah Imam tersenyum kecil.
“Begitulah rumah yang lama ditinggalkan,” katanya.
Rumah yang tidak dihuni bukan hanya menjadi sepi. Ia pelan-pelan kehilangan kemampuannya untuk menerima kehidupan.
Udara di dalamnya tidak berganti. Kelembapan berkumpul di sudut-sudut yang gelap. Kayu mulai dimakan jamur. Genteng yang bocor membiarkan air masuk, mula-mula setetes, kemudian berkali-kali, sampai suatu hari orang baru menyadari bahwa bagian atas rumah itu telah lapuk.
Tidak ada yang memperbaiki. Tidak ada yang membuka jendela. Tidak ada yang datang.
Mbah Imam kemudian berpikir, mungkin manusia juga mempunyai rumah semacam itu.
Rumah itu ada di dalam dirinya sendiri. Namanya ilmu. Pintunya bernama pikiran. Dan manusia, kadang-kadang, merasa sudah cukup hanya karena usianya bertambah. Padahal umur yang bertambah tidak selalu berarti ilmu yang bertambah.
Ada orang yang berumur tujuh puluh tahun tetapi pikirannya seperti kamar yang tidak pernah dibuka sejak ia berumur dua puluh. Udara di dalamnya pengap. Ingatannya penuh barang lama. Keyakinannya tersusun seperti perabot yang tidak boleh dipindahkan.
Sebaliknya, ada anak muda yang baru berumur dua puluh tahun tetapi pintu pikirannya terbuka ke mana-mana. Ia ingin tahu. Ia mau mendengar. Ia tidak buru-buru merasa paling benar.
Mbah Imam mengatakan, guru pertama seorang manusia sebenarnya adalah orang tuanya.
Sebelum mengenal guru di sekolah, anak mengenal suara ayah dan ibunya. Sebelum mengenal buku, ia mengenal wajah orang-orang di rumah. Sebelum mengenal dunia yang luas, ia mengenal pintu rumahnya sendiri.
Dalam dunia pendidikan, guru kemudian memiliki tingkatan. Ada guru dasar, guru menengah, hingga guru tinggi atau dosen. Tetapi ada guru yang tidak pernah mengenakan seragam guru.
Ia datang sebagai tamu. Ia duduk di ruang tamu. Ia minum teh. Ia berbicara dengan ayahnya.
Dan anak yang sedang bermain di sudut ruangan diam-diam mendengarkan.
Tamu itu mungkin seorang petani. Mungkin pedagang. Mungkin dokter. Mungkin seniman. Mungkin seorang kiai. Mungkin orang yang pernah berjalan jauh dan melihat dunia yang belum pernah dilihat anak itu.
Anak tidak selalu mengerti seluruh percakapan. Tetapi sesuatu telah masuk ke dalam kepalanya. Sebuah kata. Sebuah cerita. Sebuah pengalaman. Sebuah kemungkinan.
Dari percakapan orang-orang dewasa, seorang anak kadang menemukan cita-citanya tanpa pernah diberi pelajaran tentang cita-cita.
Ia melihat teman ayahnya datang dengan pakaian seorang dokter, lalu suatu hari ia ingin menjadi dokter.
Ia mendengar seorang tamu bercerita tentang perjalanan ke luar negeri, lalu dunia yang semula hanya sebesar halaman rumah mendadak menjadi lebih luas.
Ia mendengar seorang kiai berbicara tentang kehidupan, lalu menyadari bahwa hidup rupanya tidak sesempit apa yang ia lihat dari balik pagar rumah.
Mungkin karena itu, kata Mbah Imam, tidak mengherankan apabila anak-anak seorang kiai sering tumbuh dengan wawasan yang luas.
Bukan semata-mata karena mereka belajar agama. Tetapi karena rumah mereka memiliki pintu yang sering dibuka.
Orang datang. Orang pergi. Percakapan datang. Cerita pergi. Ilmu masuk melalui celah-celah yang kadang tidak disadari.
Silaturahim, dalam pengertian itu, bukan sekadar berjabat tangan dan bertanya kabar.
Silaturahim adalah cara manusia menjaga agar pintu dirinya tidak berkarat.
Rumah yang selalu menerima tamu akan mengenal banyak suara. Begitu pula pikiran yang terbuka akan mengenal banyak kemungkinan. Tetapi rumah yang tidak pernah menerima tamu akan menjadi terlalu akrab dengan kesunyian.
Dan kesunyian yang terlalu lama kadang membuat seseorang mengira bahwa hanya suaranya sendiri yang benar. Mbah Imam kembali memandang pintu tua itu. Ia menyentuh engselnya.
“Kalau pintu ini diberi minyak,” katanya, “barangkali ia tidak perlu dipaksa.”
Ia lalu terdiam. Mungkin manusia juga begitu.
Pikiran yang terlalu lama tidak dibuka tidak selalu menjadi lebih kuat. Kadang justru menjadi kaku.
Sedikit demi sedikit ia kehilangan kelenturannya. Ia sulit menerima pendapat baru. Sulit mendengar orang lain. Sulit mengakui bahwa dirinya mungkin keliru. Dan akhirnya, untuk membuka pintu ilmu saja, diperlukan paksaan.
Padahal ilmu tidak selalu datang sebagai guru yang berdiri di depan papan tulis. Kadang ilmu datang sebagai tamu yang mengetuk pintu. Kadang ia datang sebagai orang asing.
Kadang ia datang melalui percakapan yang kita anggap sepele. Kadang ia datang dari orang yang tidak kita sukai. Bahkan kadang ia datang dalam bentuk kesalahan kita sendiri.
Persoalannya hanya satu: Apakah pintu itu masih mau dibuka?
Mbah Imam berdiri dan mendorong daun pintu itu perlahan.
Kreeeek… Suara panjang keluar dari engselnya. Bukan suara rumah. Bukan pula suara pintu.
Barangkali itu suara sesuatu yang terlalu lama diam. Di dalam rumah, udara lama bergerak.
Udara baru masuk. Dan untuk beberapa saat, rumah itu seperti sedang belajar bernapas kembali.
Mbah Imam tersenyum. Barangkali demikian pula hati manusia.
Ia tidak perlu selalu menjadi rumah yang besar. Ia hanya perlu memiliki pintu yang tidak lupa bagaimana caranya terbuka.
Sebab usia boleh bertambah.
Tetapi kalau pintu ilmu tidak pernah dibuka, yang bertambah mungkin hanya umur, bukan kehidupan.
Dan ketika pintu itu terlalu lama tertutup, bukan hanya orang lain yang kesulitan masuk.
Pemilik rumah itu sendiri akhirnya bisa lupa bagaimana caranya keluar.

Semarang 22 Agustus 2026
Ngubaedi Achmad, mantan dosen tinggal di Semarang 

Share This Article
error: Content is protected !!