JUDUL FILM: The Voice of Hind Rajab
KARYA: sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania,
PRODUKSI: Tunisia-Prancis
DURASI : 90 menit.
PENGHARGAAN : Silver Lion/Grand Jury Prize di Festival Film Venesia 2025.
The Voice of Hind Rajab: Ketika Suara Seorang Anak Gaza Menjadi Kesaksian Perang
DMNETWORK – Ada film perang yang memperlihatkan ledakan. Ada yang menghadirkan mayat, reruntuhan dan asap. Ada pula yang memilih jalan sebaliknya: hampir tidak memperlihatkan perang, tetapi membuat penonton mendengarnya.
The Voice of Hind Rajab berada di jalan yang terakhir.
Film garapan sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania ini berangkat dari sebuah peristiwa nyata di Gaza pada 29 Januari 2024. Seorang anak perempuan Palestina bernama Hind Rajab terjebak di dalam sebuah mobil. Anggota keluarganya berada di sekelilingnya. Sebagian telah tewas. Hind kemudian menghubungi petugas Bulan Sabit Merah Palestina.
Ia meminta diselamatkan.
Kalimat itu sederhana. Tetapi dari sanalah film berdurasi sekitar 90 menit ini membangun ketegangan yang nyaris tidak memberi ruang kepada penonton untuk bernapas.
Yang membuat film ini berbeda adalah keputusan Ben Hania untuk tidak menjadikan gambar kekerasan sebagai pusat cerita.
Pusat cerita justru sebuah suara.
Suara Hind yang asli digunakan dalam film. Di sekeliling suara itu, para aktor memainkan petugas Bulan Sabit Merah yang menerima panggilan, mencari lokasi, berkomunikasi dengan berbagai pihak dan berusaha mengirim ambulans untuk menyelamatkan seorang anak yang berada dalam situasi mematikan.
Di sinilah kecerdikan sinematik Ben Hania bekerja.
Penonton tidak sekadar melihat seorang anak dalam bahaya. Penonton ditempatkan di sisi orang-orang yang mendengar bahaya itu, tetapi tidak bisa serta-merta menghentikannya.
Ada telepon. Ada komputer. Ada peta. Ada orang-orang yang berbicara cepat. Ada prosedur. Ada permintaan izin.
Dan di tengah semuanya, ada suara seorang anak yang terus meminta pertolongan.
Film kemudian berubah menjadi semacam ruang tunggu yang mengerikan. Penonton tahu bahwa waktu sedang berjalan, sementara pertolongan belum juga sampai.
Bukan film yang membutuhkan darah untuk membuat penonton takut
Salah satu kekuatan terbesar film ini justru terletak pada apa yang tidak diperlihatkan.
Ben Hania tidak mengandalkan adegan perang spektakuler. Ia mempersempit ruang pandang penonton dan memperlebar ruang pendengaran.
Kita mendengar ketakutan Hind. Kita mendengar petugas berusaha menenangkannya. Kita mendengar komunikasi penyelamatan.
Dan perlahan penonton memahami bahwa suara manusia bisa menjadi lebih mengerikan daripada suara ledakan.
Pilihan artistik itu membuat film ini tidak terasa seperti laporan berita yang dipanjangkan. Ia menjadi pengalaman psikologis.
Penonton ditempatkan pada posisi orang yang tahu bahwa ada seorang anak sedang menunggu pertolongan, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk membuka pintu mobil tersebut.
Di situlah rasa tidak berdaya bekerja. Angka 335 bukan sekadar angka. Salah satu fakta yang kemudian mengikuti kisah Hind adalah angka 335.
Forensic Architecture memeriksa kendaraan yang menjadi tempat Hind dan keluarganya berada dan memetakan 335 lubang peluru. Investigasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari dokumentasi peristiwa.
Tetapi film ini menarik karena tidak menjadikan angka itu sebagai tontonan.
335 peluru pada akhirnya kembali kepada pertanyaan paling sederhana:
Mengapa seorang anak berada di dalam mobil yang dihujani peluru? Dan setelah itu muncul pertanyaan yang lebih berat:
Mengapa pertolongan tidak dapat datang ketika seorang anak masih hidup dan meminta diselamatkan?
Film tidak memberi penonton kemewahan untuk melupakan pertanyaan tersebut setelah layar menjadi gelap.
Sinema sebagai ingatan
Festival Film Venesia memberikan film ini Grand Jury Prize pada 2025. Film tersebut juga memperoleh sejumlah penghargaan lain dalam festival yang sama.
Penghargaan itu penting, tetapi bukan alasan utama mengapa film ini layak ditonton.
Nilai terbesarnya terletak pada kemampuannya mengubah sebuah peristiwa yang mungkin hanya menjadi satu berita di antara ribuan berita perang menjadi pengalaman manusia yang sangat dekat.
Hind bukan angka korban. Bukan statistik. Bukan pula sekadar simbol politik. Ia seorang anak yang ketakutan dan ingin pulang.
Karena itu, menonton film ini bukan hanya soal keberpihakan politik terhadap Palestina atau Israel. Ada lapisan yang lebih mendasar: bagaimana manusia memandang penderitaan seorang anak ketika perang membuat kehidupan manusia berubah menjadi angka.
Sebuah film yang tidak selesai ketika layar padam
Barangkali itulah alasan The Voice of Hind Rajab terasa berat.
Film ini tidak menawarkan hiburan dalam pengertian biasa. Ia tidak memberikan akhir yang membuat dada lega. Penonton justru keluar dari ruang pemutaran dengan membawa sebuah suara yang terus tinggal di kepala.
Suara seorang anak yang meminta pertolongan. Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya film ini.
Dalam dunia yang dipenuhi gambar perang, gambar dapat berlomba dengan gambar berikutnya. Hari ini kita melihat reruntuhan. Besok muncul reruntuhan lain. Lusa datang angka korban baru.
Tetapi suara seorang anak yang meminta diselamatkan mempunyai persoalan yang berbeda. Ia meminta kita berhenti menggulir layar. Berhenti sejenak.
Mendengarkan.
The Voice of Hind Rajab akhirnya bukan hanya film tentang Gaza. Ia adalah film tentang ingatan manusia.
Tentang bagaimana sebuah suara yang direkam melalui sambungan telepon dapat menyeberangi perang, perbatasan, ruang bioskop dan waktu.
Dan ketika film selesai, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah kita sudah melihat cukup banyak gambar tentang perang.
Melainkan:
Apakah kita masih mampu mendengar suara seorang anak yang sedang meminta pertolongan? (Rist)