Menurut dia, warga sengaja mempercepat pengerjaan karena khawatir musim hujan segera tiba.
BANYUMAS, DMNETWORK – Lumbung padi Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, akhirnya mulai diperbaiki, Kamis (17/9/2026).
Perbaikan dilakukan setelah kondisi bangunan lumbung yang selama ini digunakan masyarakat mulai memprihatinkan. Sejumlah bagian atap mengalami kebocoran sehingga dikhawatirkan tidak mampu melindungi persediaan gabah ketika musim hujan tiba.
Perbaikan lumbung tersebut menjadi perhatian Ketua DPN Tani Merdeka, Don Muzakir, ketika melihat langsung kondisi bangunan beberapa waktu lalu.
Don Muzakir kemudian memberikan bantuan sukarela sebesar Rp 10 juta untuk membantu biaya renovasi lumbung padi tersebut.
Bantuan itu kemudian menjadi pemantik bagi masyarakat. Warga secara mandiri mengumpulkan dana untuk menutup kebutuhan biaya renovasi yang lebih besar.
Total anggaran yang akhirnya terkumpul mencapai sekitar Rp 50 juta. Dari jumlah tersebut, Rp 10 juta berasal dari bantuan Don Muzakir, sedangkan sekitar Rp 40 juta berasal dari masyarakat dan hasil pengelolaan lumbung padi.
Bendahara Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling, Ritam, mengatakan dana masyarakat tersebut berasal dari keuntungan pengelolaan lumbung padi, termasuk dari kegiatan simpan pinjam yang dilakukan di antara warga.
“Baru hari ini bisa terlaksana perbaikan lumbung padi,” kata Ritam saat ditemui di lokasi, Kamis.
Menurut dia, warga sengaja mempercepat pengerjaan karena khawatir musim hujan segera tiba. Kondisi bangunan yang mengalami kebocoran di sejumlah titik dinilai tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
“Takut musim hujan akan tiba segera. Maka masyarakat gotong royong membangun lumbung padi yang sudah banyak bocor, sana bocor, sini bocor,” ujar Ritam.
Tak Ingin Ingkari Amanah
Bagi Ritam, perbaikan lumbung bukan semata persoalan memperbaiki bangunan. Ada amanah yang menurutnya harus segera ditunaikan setelah bantuan diberikan.
Ia mengaku merasa memiliki tanggung jawab kepada Don Muzakir karena bantuan Rp 10 juta tersebut memang diberikan dengan tujuan memperbaiki lumbung padi.
“Saya takut mengingkari janji. Makanya pas waktunya tiba, baru hari ini perbaikan itu bisa terlaksana,” kata Ritam.
Ia berharap setelah direnovasi, lumbung dapat kembali digunakan secara lebih baik, terutama untuk menghadapi kebutuhan pangan masyarakat ketika musim panen maupun ketika memasuki masa paceklik.
Lumbung Padi dan Tradisi Banokeling
Bagi masyarakat adat Banokeling, lumbung padi bukan sekadar bangunan tempat menyimpan gabah.
Tradisi menyimpan hasil panen secara bersama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Pekuncen. Lumbung menjadi salah satu cara masyarakat menjaga cadangan pangan sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Dalam praktiknya, gabah yang disimpan tidak hanya berfungsi sebagai persediaan pangan. Pengelolaan lumbung juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui mekanisme penyimpanan dan peminjaman yang disepakati bersama.
Karena itu, keberadaan lumbung memiliki arti lebih luas daripada sekadar bangunan fisik. Di dalamnya terdapat prinsip saling membantu, gotong royong dan menjaga cadangan pangan secara bersama-sama.
Hal tersebut sejalan dengan keberadaan Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling yang menjadi wadah masyarakat petani untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus menjaga nilai-nilai sosial yang telah hidup di tengah komunitas adat.
Masyarakat Banokeling sendiri dikenal memiliki tradisi adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Pertanian menjadi bagian penting dalam kehidupan warga, sehingga urusan pangan tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan komunitas.
Renovasi lumbung yang dikerjakan secara gotong royong pada akhirnya memperlihatkan kembali satu hal sederhana: ketika bangunan mulai rapuh, yang pertama kali bekerja bukan hanya tukang, tetapi juga rasa memiliki.
Rp 10 juta dari Don Muzakir menjadi awal. Selebihnya, masyarakat Banokeling sendiri yang menyelesaikan pekerjaan itu dengan mengumpulkan kekuatan dari hasil lumbung dan gotong royong warga.
Lumbung itu diperbaiki bukan hanya agar tidak bocor ketika hujan turun. Ia diperbaiki agar tetap menjadi tempat masyarakat menitipkan sebagian hasil panennya dan, pada saat yang sama, menitipkan harapan bahwa pangan tidak selalu harus dicari sendiri-sendiri. (Rist)