- Bersama rekan-rekannya, Susilo kemudian ikut mengubah Mbangun Deso menjadi fragmen drama komedi yang tetap membawa pesan penyuluhan
YOGYAKARTA, DMNETWORK — Ada zaman ketika televisi tidak perlu menampilkan seminar panjang untuk berbicara tentang desa. Cukup sebuah panggung sederhana, beberapa tokoh kampung, persoalan sehari-hari, lalu tawa yang menyelip di antara pesan tentang pertanian, ekonomi, lingkungan dan kehidupan warga.
Salah satu wajah paling kuat dari zaman itu adalah Susilo Nugroho, seniman Yogyakarta yang lebih dikenal masyarakat sebagai Den Baguse Ngarso.
Susilo berpulang pada Senin (21/9/2026) sore. Kepergiannya meninggalkan bukan hanya panggung teater dan ketoprak yang pernah menjadi rumah keseniannya, tetapi juga satu jejak penting dalam ingatan masyarakat Yogyakarta: Mbangun Deso, program TVRI Yogyakarta yang pada era 1990-an mempertemukan hiburan dengan penyuluhan pembangunan desa.
Karakter Den Baguse Ngarso justru bukan tokoh yang selalu patut ditiru. Ia digambarkan sebagai priyayi yang angkuh, merasa paling tahu, keras kepala dan sering ingin menang sendiri. Tetapi di situlah kecerdikan program tersebut. Persoalan desa bisa dibicarakan melalui tokoh yang membuat orang tertawa, sekaligus membuat penonton mengenali persoalan mereka sendiri.
Pemerintah Daerah DIY bahkan mencatat Susilo sebagai tokoh yang dikenal luas melalui karakter Den Baguse Ngarso dalam Mbangun Deso TVRI Yogyakarta pada 1990-an.
Yang menarik, Susilo bukan sekadar pemain dalam program tersebut. Dalam wawancara yang dilakukan beberapa pekan sebelum meninggal, ia mengisahkan bahwa ketika itu Mbangun Deso mulai kehilangan penonton karena terlalu banyak memuat materi penyuluhan dari berbagai dinas.
Susilo kemudian mengusulkan agar penyuluhan dipersingkat, disederhanakan, sementara cerita dan humor diperbanyak. Pihak TVRI justru menantangnya untuk membuat sendiri.
Tantangan itu diterimanya.
Bersama rekan-rekannya, Susilo kemudian ikut mengubah Mbangun Deso menjadi fragmen drama komedi yang tetap membawa pesan penyuluhan. Dengan cara itu, masyarakat tidak merasa sedang digurui. Mereka merasa sedang menonton kehidupan mereka sendiri.
Di sinilah warisan Mbangun Deso menjadi menarik untuk dibaca kembali hari ini.
Sebab persoalan yang dulu dibicarakan melalui layar televisi itu belum benar-benar selesai. Desa masih berbicara tentang pupuk, air, produksi pangan, harga hasil panen, kerja sama antarpetani, dan bagaimana anak-anak muda mau kembali melihat pertanian sebagai masa depan.
Bahkan dalam sebuah monolog budaya Susilo, pesan mengenai petani muncul cukup kuat. Ia pernah mengajak masyarakat agar tidak malu menjadi anak petani, menggunakan bahan alami seperti pupuk kandang dan kompos, mengelola air secara bersama, serta mengajarkan anak-anak menjadi petani yang baik. Ia juga menekankan pentingnya petani bekerja secara guyub dan tidak merusak lingkungan.
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana. Tetapi jika diletakkan dalam konteks Indonesia hari ini, ia menemukan ruang pembicaraan baru.
Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026 mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan tahun 2025. Pemerintah menempatkan produksi pangan, petani dan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari agenda nasional.
Dalam agenda itu, petani tidak lagi hanya dipandang sebagai orang yang menghasilkan beras untuk dimakan. Mereka berada di tengah pembicaraan yang jauh lebih besar: kedaulatan pangan, penyerapan hasil panen, harga komoditas, pupuk, air, benih, sampai regenerasi petani.
Organisasi Tani Merdeka Indonesia juga menempatkan petani sebagai bagian penting dari agenda tersebut. Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, misalnya, menyebut penurunan harga pupuk, penyerapan gabah dan jagung serta kebijakan pemerintah terhadap komoditas pangan sebagai bagian dari kebijakan yang dirasakan petani di tingkat bawah.
Nama Don Muzakir bahkan tercatat sebagai salah satu penerima Satyalancana Wira Karya dalam rangkaian penghargaan terkait pembangunan sektor pertanian dan pangan pada 2026.
Tetapi tidak ada data yang menunjukkan bahwa Susilo Nugroho atau Mbangun Deso memiliki hubungan organisasi dengan Tani Merdeka Indonesia ataupun program swasembada pangan pemerintahan Prabowo.
Hubungannya lebih jauh dan lebih sederhana: gagasan tentang desa dan petani yang pernah dibawa Susilo melalui kesenian kembali menemukan relevansinya ketika Indonesia sedang berbicara tentang swasembada pangan.
Dulu pesannya masuk lewat televisi.
Sekarang pesannya masuk lewat kebijakan, organisasi tani, penyuluhan, pendampingan, produksi dan pasar.
Dulu seorang tokoh seperti Den Baguse Ngarso bisa membuat persoalan desa menjadi tontonan keluarga.
Sekarang persoalan yang sama berada di tengah pertanyaan yang lebih besar: siapa yang akan menanam, siapa yang akan menguasai lahan, dari mana air datang, bagaimana pupuk diperoleh, berapa harga gabah ketika panen dan apakah anak-anak muda masih mau menjadi petani.
Mungkin itulah sebabnya Mbangun Deso layak dikenang bukan hanya sebagai program televisi masa lalu.
Ia pernah menjadi semacam ruang kelas desa yang tidak memakai papan tulis.
Pertanian dibicarakan lewat guyonan. Persoalan pembangunan dibawa melalui konflik antartokoh. Penyuluhan tidak berdiri sebagai ceramah, tetapi menjadi bagian dari cerita.
Dan Den Baguse Ngarso berada di tengah-tengahnya.
Tokoh yang diperankannya memang keras kepala. Kadang menyebalkan. Bahkan sering merasa dirinya paling benar. Tetapi justru karakter semacam itulah yang membuat pesan pembangunan tidak terasa steril.
Susilo memahami bahwa orang desa tidak membutuhkan orang yang datang hanya untuk mengatakan apa yang harus mereka lakukan.
Mereka membutuhkan cerita yang dekat dengan hidupnya.
Mungkin karena itu, puluhan tahun kemudian, ketika Indonesia kembali bicara tentang swasembada pangan, suara Mbangun Deso terasa belum sepenuhnya selesai.
Petani masih harus diajak bicara.
Desa masih harus didengar.
Dan pembangunan masih harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang dimengerti masyarakat.
Susilo Nugroho telah pergi.
Tetapi karakter Den Baguse Ngarso, dengan segala keangkuhan, kelucuan dan kritik sosialnya, telah lebih dulu masuk ke dalam ingatan generasi yang tumbuh bersama TVRI Yogyakarta.
Dari layar televisi itulah dahulu orang belajar bahwa membangun desa tidak selalu harus dengan wajah serius.
Kadang-kadang, sebuah desa justru lebih mudah bercermin ketika ia dibuat tertawa.
Sugeng kondur, Den Baguse Ngarso.
Di panggung yang lebih panjang, barangkali cerita tentang desa dan petani masih terus berlangsung.
Dan kali ini, penontonnya adalah seluruh negeri yang sedang mencari jalan menuju swasembada pangan.