AIDIT DAN G 30 S Sumur, Lima Puluh Halaman, dan Ingatan

7 Min Read
DN. Aidit (foto: istimewa/DarMediaKey)

Dan kesaksian, betapapun pentingnya, bukan benda yang kebal terhadap waktu, kepentingan, ingatan, dan kekuasaan.

DMNETKEY – Ada sejarah yang ditulis dengan tinta. Ada sejarah yang ditulis dengan darah. Dan ada sejarah yang, entah mengapa, justru hilang bersama selembar kertas yang konon pernah berjumlah lima puluh halaman.
D.N. Aidit berada di antara ketiganya.
Pada November 1965, ia ditangkap di Solo. Ia bukan lagi lelaki yang berdiri di tengah panggung politik dengan partai jutaan anggota di belakangnya. Ia seorang tahanan. Seorang manusia yang nasibnya telah beralih dari tangan politik ke tangan senjata.
Malam itu, menurut kesaksian yang dikutip dalam sejumlah sumber, Aidit diperiksa oleh Kolonel Yasir Hadibroto. Konon ia menulis pengakuan sekitar 50 halaman. Isinya disebut antara lain bahwa Aidit mengambil tanggung jawab atas Gerakan 30 September.
Tetapi ada satu kata yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak:
Konon.
Kata kecil itu sering hilang ketika sejarah berubah menjadi cerita.
Dalam buku Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara, kisah tentang lima puluh halaman itu memang dicatat. Namun sumber yang sama menggunakan kata “dikabarkan”. Dokumen itu, menurut keterangan Yasir, kemudian dibakar. Yang tersisa bukan dokumennya, melainkan cerita tentang dokumen tersebut.
Di sinilah sejarah menjadi seperti sebuah rumah yang kehilangan salah satu pintunya.
Kita tahu pernah ada pintu. Kita diberi tahu ke mana pintu itu menuju. Tetapi kita tidak lagi dapat memeriksa pintu itu sendiri.
Yang kita miliki adalah kesaksian.
Dan kesaksian, betapapun pentingnya, bukan benda yang kebal terhadap waktu, kepentingan, ingatan, dan kekuasaan.
Ada pula cerita lain yang lebih mengerikan.
Menjelang pagi 23 November 1965, Aidit dibawa dari Solo menuju Boyolali. Rombongan itu kemudian berbelok menuju Markas Batalyon 444. Yasir disebut bertanya kepada komandannya: apakah ada sumur.
Ada. Sebuah sumur tua. Di situlah kisah tentang lima puluh halaman berhenti, dan kisah tentang sebuah peluru dimulai.
Aidit diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhir. Menurut versi yang dicatat dalam sumber-sumber tersebut, ia justru berpidato. Tak lama kemudian ia ditembak. Tubuhnya jatuh ke dalam sumur.
Sejarah Indonesia kemudian mengenal banyak nama, tanggal, rapat, telegram, pidato dan keputusan. Tetapi kadang-kadang yang paling lama tinggal justru sebuah benda yang sederhana: sumur.
Sumur tidak berpidato. Sumur tidak membela diri. Sumur tidak mengoreksi berita. Ia hanya diam.
Dan diam, dalam sejarah politik, sering kali mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada suara manusia.
Yang menarik bukan hanya apakah Aidit benar-benar menulis lima puluh halaman itu.
Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: mengapa dokumen semacam itu tidak pernah bisa kita baca secara utuh?
Jika dokumen itu memang ada, ia tentu penting. Jika ia berisi pengakuan, ia akan menjadi salah satu dokumen paling berharga untuk memahami siapa melakukan apa dalam peristiwa 1965.
Tetapi dokumen itu, menurut kesaksian yang dikutip, dibakar.
Yang tersisa kemudian adalah versi-versi tentang isinya.
Bahkan mengenai akhir hidup Aidit sendiri terdapat variasi kesaksian. Ada kesaksian tentang penembakan di dekat sumur.
Ada kesaksian lain yang menggambarkan Aidit diberondong dengan senapan. Ada pula versi lain mengenai bagaimana tubuhnya dihilangkan.
Liputan mengenai kisah tersebut mencatat bahwa lokasi makam Aidit pun tidak pernah diketahui secara pasti.
Maka kita berhadapan dengan sebuah ironi.
Semakin besar keyakinan sebuah rezim terhadap satu versi sejarah, semakin penting sebenarnya bagi generasi berikutnya untuk bertanya: dokumennya di mana? Bukan untuk membela Aidit. Bukan pula untuk membebaskan PKI dari segala tanggung jawab.
Melainkan karena sejarah yang sehat tidak membutuhkan ketakutan terhadap pertanyaan.
Sejarah justru menjadi rapuh ketika sebuah kesimpulan tidak boleh diperiksa.
Aidit sendiri bukan tokoh tanpa dosa dalam sejarah politik Indonesia.
Ia adalah pemimpin PKI. Ia berada di pusat pertarungan politik yang keras pada 1960-an. Peran PKI, Aidit, Sjam Kamaruzaman, kelompok militer, dan tokoh-tokoh lain dalam rangkaian peristiwa 1965 telah lama menjadi bahan perdebatan para sejarawan.
Tetapi sebuah sejarah yang serius tidak bisa dibangun hanya dari siapa yang kalah.
Sebab orang yang kalah bisa dibunuh, tetapi pertanyaan tidak selalu ikut mati.
Barangkali itulah sebabnya lima puluh halaman tersebut terus kembali. Ia seperti hantu arsip. Tidak ada di tangan kita, tetapi selalu disebut-sebut. Tidak bisa dibaca, tetapi berkali-kali dikutip.
Tidak dapat diperiksa, tetapi kadang dipakai untuk mengakhiri perdebatan.
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Sebuah dokumen yang hilang tidak otomatis menjadi dokumen palsu.
Tetapi sebuah dokumen yang tidak dapat diperiksa juga tidak layak diperlakukan sebagai bukti final.
Di antara dua sikap itulah kerja sejarah berlangsung.
Pada 30 September, Indonesia kembali mengingat 1965.
Hari-hari seperti ini biasanya membuat sejarah menjadi gaduh. Nama-nama lama muncul lagi.
Film lama diputar kembali. Buku-buku lama dibuka. Orang tua bercerita kepada anak-anaknya. Dan generasi yang lahir jauh setelah peristiwa itu mencoba memahami mengapa sebuah bangsa pernah begitu mudah terbelah.
Mungkin kita terlalu sering bertanya siapa yang paling bersalah.
Mungkin kita juga terlalu cepat mencari siapa yang menjadi pahlawan.
Padahal sejarah kadang meminta pertanyaan yang lebih sederhana: Apa yang sebenarnya terjadi?
Lalu: Apa buktinya? Dan akhirnya: Apa yang belum kita ketahui?
Pertanyaan terakhir sering paling sulit. Sebab kekuasaan menyukai sejarah yang selesai.
Manusia membutuhkan sejarah yang terus diperiksa.
Lima puluh halaman itu mungkin pernah ada. Mungkin isinya seperti yang dikisahkan. Mungkin sebagian benar.
Mungkin pula cerita tentangnya telah berubah dalam perjalanan dari mulut ke mulut, dari buku ke buku, dari rezim ke rezim.
Kita tidak tahu seluruhnya.
Dan justru karena tidak tahu seluruhnya, kita harus berhenti mengatakan seolah-olah kita tahu semuanya.
Sementara itu, sumur tua itu tetap menjadi bagian dari cerita.
Di sana seorang manusia berakhir. Tetapi sejarah tidak.
Sejarah justru mulai bertanya dari sana. Tentang sebuah dokumen yang hilang.
Tentang sebuah peluru. Tentang sebuah kekuasaan.
Dan tentang sebuah bangsa yang sampai hari ini masih berusaha mengingat tanpa harus kehilangan kemampuan untuk bertanya.

Aris Munandar, editor

Share This Article
error: Content is protected !!