DMNETWORK — Surakarta tengah menguatkan pendekatan pembangunan yang menempatkan lingkungan sebagai bagian dari sistem kehidupan kota, bukan sekadar urusan teknis pemerintahan. Gagasan ini mengemuka dalam diskusi terbatas yang melibatkan Wali Kota Respati Ardi bersama Ketua Harian DPP APPSI Don Muzakir di kawasan Manahan Solo.
Dalam pertemuan tersebut, muncul penegasan bahwa pendekatan “semesta” tidak boleh dipahami secara administratif semata, melainkan sebagai cara pandang ekologis yang menempatkan manusia, ruang kota, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Dari situ, istilah “Satgas Semesta” dipahami sebagai gerakan kolaboratif lintas unsur untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup di kota.
Air sebagai pusat keseimbangan kota
Dalam diskusi itu, pengelolaan air menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus. Surakarta yang berada dalam wilayah aliran Bengawan Solo menghadapi tantangan klasik perkotaan: banjir, sedimentasi, dan pencemaran akibat sampah domestik.
Pendekatan Satgas Semesta kemudian diarahkan untuk melihat air bukan sekadar infrastruktur, melainkan sistem kehidupan. Mata air, embung, sungai, dan drainase diposisikan sebagai satu ekosistem yang saling terhubung.
Kerusakan di satu titik, seperti tersumbatnya saluran air oleh sampah plastik atau menurunnya fungsi embung akibat sedimentasi, akan berdampak langsung pada keseimbangan kota secara keseluruhan.
Mata air, embung, dan ruang resapan
Dalam kerangka tersebut, perlindungan mata air menjadi langkah dasar yang tidak bisa ditawar. Kawasan resapan air perlu dijaga dari alih fungsi lahan yang berlebihan, sementara vegetasi di sekitarnya berperan penting dalam menjaga keberlanjutan debit air.
Embung dan kolam retensi juga dipandang sebagai infrastruktur ekologis yang harus dirawat secara berkelanjutan. Selain berfungsi menampung air hujan, embung berperan sebagai cadangan air di musim kemarau dan pengendali limpasan air saat curah hujan tinggi.
Namun dalam praktiknya, banyak embung mengalami penurunan fungsi akibat pendangkalan dan penumpukan sampah, sehingga membutuhkan penguatan tata kelola berbasis partisipasi masyarakat.
Sungai dan persoalan sampah perkotaan
Sungai masih menjadi titik paling rentan dalam sistem pengelolaan air perkotaan. Kebiasaan membuang sampah ke aliran air menyebabkan penurunan kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan risiko banjir.
Melalui pendekatan Satgas Semesta, gerakan bersih sungai diarahkan menjadi kegiatan rutin yang melibatkan warga, sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha. Tujuannya bukan hanya membersihkan, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan sungai sebagai ruang hidup, bukan saluran pembuangan.
Kearifan lokal dan etika ekologis
Dalam diskursus tersebut, nilai-nilai kearifan lokal juga menjadi rujukan. Tradisi Bonokeling misalnya, menempatkan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Prinsip keseimbangan itu sejalan dengan gagasan memelihara harmoni antara manusia dan lingkungan. Air, tanah, dan ruang hijau tidak hanya dilihat sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dijaga bersama.
Menuju tata kelola kota berbasis ekologi
Satgas Semesta pada akhirnya diposisikan sebagai arah baru tata kelola kota berbasis ekologi. Pemerintah tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi penggerak kolaborasi antara warga, komunitas, dan sektor swasta.
Pengelolaan air menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran kolektif yang lebih luas tentang keberlanjutan kota. Dari mata air hingga sungai, dari embung hingga drainase, seluruh elemen dipandang sebagai satu sistem yang saling terhubung.
Dengan pendekatan ini, keberlanjutan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi hadir sebagai praktik sehari-hari yang hidup di tengah masyarakat. Menjaga air, pada akhirnya, dipahami sebagai menjaga masa depan kota itu sendiri. Redaksi