Catatan Perjalanan: Lingkaran yang Kembali ke Rak Buku

5 Min Read
Kenangan itu hadir dan berupaya mencoba untuk tidak membunuh kenangan itu (foto: ilustrasi)

Saat itu saya hanya mengenal mereka sebagai para tutor. Nama Ali Musthofa Trajutisna dan Ki Suratno baru saya ketahui bertahun-tahun kemudian.

DMNETWORK – Sekitar tahun 1984, ketika masih duduk di bangku SMP Muhammadiyah Kauman Muntilan, Kabupaten Magelang, saya belum mengenal nama Ali Musthofa Trajutisna. Di kampung Kauman, kehidupan remaja bergerak dengan semangat organisasi. Kami memiliki perkumpulan bernama Jamaah Pemuda Kauman (JPK), tempat anak-anak muda belajar berkumpul, berdiskusi, dan mengurus kegiatan kampung.

Suatu hari saya mengikuti pelatihan pengelolaan perpustakaan yang instrukturnya datang dari Yogyakarta selama 3 hari 2 malam, saya juga belum mengenal kalau penyelenggara kegiatan itu Ndorowati Institute. Pelatihan itu berlangsung di sebuah bekas sekolah Al Iman yang sudah lama tidak pernah digunakan, dan dijadikan ruang bebas untuk berorganisasi dan beraktifitas, dari ruang kelas itu saya mendapatkan jendela baru. Para tutor tidak hanya mengajarkan cara menata rak buku, membuat kartu katalog, atau mencatat peminjaman. Mereka menghidupkan kelas dengan permainan, simulasi, dan percakapan yang membuat peserta berani bertanya.

Saya masih ingat suasana ruang itu: tawa peserta, tepuk tangan ketika permainan selesai, dan cara para instruktur memanggil kami satu per satu agar ikut aktif. Belakangan saya baru memahami bahwa metode itu disebut andragogi, cara belajar yang menempatkan peserta sebagai subjek, bukan sekadar pendengar.

Saat itu saya hanya mengenal mereka sebagai para tutor. Nama Ali Musthofa Trajutisna dan Ki Suratno baru saya ketahui bertahun-tahun kemudian.

- Iklan -
Ad imageAd image

Pengalaman pertama tentang mentoring itulah yang diam-diam menanam benih dalam diri saya. Saya mulai percaya bahwa belajar bukan hanya menerima pengetahuan, melainkan mengalami proses bersama orang lain. Keyakinan itu terus mengikuti perjalanan hidup saya hingga akhirnya saya menekuni dunia kaderisasi dan pelatihan di Pelajar Islam Indonesia (PII), dari tingkat komisariat sampai Pengurus Besar PII. Ketika kemudian mencapai jenjang instruktur advance, saya sering teringat kembali pada kelas perpustakaan di Kauman: ruangan kecil yang ternyata membuka jalan panjang pendidikan.

Sepuluh tahun berlalu.

Tahun 1994 saya datang ke Jakarta sebagai perantau muda yang belum memiliki tempat tinggal tetap. Malam-malam saya berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Kadang tidur di Jalan Surabaya, Menteng, di rumah kontrakan Makroof; kadang di Menteng Raya 58; kadang di Pisangan Lama, Jakarta Timur. Saat itu saya bahkan belum membayangkan akan memiliki rumah kontrakan sendiri.

Jakarta sedang bergerak gelisah menjelang masa reformasi. Rumah di Jalan Surabaya menjadi tempat singgah para aktivis yang datang dan pergi. Dari sanalah suatu hari Makroof mengajak saya ke Depok, ke rumah seorang tokoh yang dipanggil AMT.

Saya berangkat bersama Thoha Al Mansyur. Dari Jalan Surabaya kami berjalan kaki menuju Stasiun Cikini, lalu naik KRL ke arah Depok. Kereta melaju melewati stasiun-stasiun yang kala itu belum seramai sekarang. Sesampainya di Stasiun Depok, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot 04 dan turun di Gang Jawa.

- Iklan -
Ad image

Rumah itu kemudian saya kenal sebagai Rumah Perjuangan.

Di rumah itulah percakapan-percakapan panjang berlangsung hingga larut malam. Kami berbicara tentang organisasi, pendidikan, gerakan sosial, buku, dan masa depan bangsa. Saya beberapa kali menginap di sana. Sedikit demi sedikit saya mulai mengenal sosok AMT lebih dekat.

Sampai pada suatu malam, setelah beberapa kali pertemuan, ingatan lama tiba-tiba menyala.

Cara beliau berbicara di depan kelompok, cara menghidupkan diskusi, bahkan beberapa permainan yang pernah saya alami ketika SMP terasa sangat akrab. Saya menyebut sebuah pelatihan perpustakaan di Kauman Muntilan. Beliau tersenyum. Dari potongan-potongan cerita itulah saya menyadari sesuatu yang membuat saya terdiam cukup lama: orang yang dulu mengajari saya mengelola perpustakaan ternyata adalah orang yang kini mengajari saya mengelola cara berpikir.

Kesadaran itu datang bukan sebagai ledakan, melainkan seperti lampu yang perlahan menerangi ruangan. Saya merasa sedang berdiri di antara dua waktu: seorang anak SMP di Kauman dan seorang perantau muda di Depok. Di antara keduanya terbentang sepuluh tahun perjalanan, tetapi benangnya ternyata tidak pernah putus.

Sejak saat itu saya melihat hidup bukan sekadar rangkaian kebetulan. Ada perjumpaan-perjumpaan yang baru dipahami maknanya setelah waktu berjalan jauh. Pelatihan perpustakaan yang dahulu saya anggap kegiatan biasa ternyata menjadi pintu awal menuju dunia pemikiran, organisasi, dan pendidikan yang kemudian membentuk sebagian besar hidup saya.

Mungkin setiap orang memiliki rak buku pertamanya sendiri. Rak buku saya berada di Kauman Muntilan, di sebuah pelatihan sederhana pada pertengahan 1980-an. Dan bertahun-tahun kemudian, rak itu seolah kembali terbuka di Gang Jawa, Depok, ketika saya duduk semalaman bersama Ali Musthofa Trajutisna.

Dari titik itulah kisah ini dimulai. (Aris Munandar)

Share This Article
error: Content is protected !!