Kisah Bersama AMT: Dari Bubur Ayam ke Ruang Staf Ahli Menteri

7 Min Read
Ilustrasi gambar

Saya memilih duduk di depan rumah. Rokok menyala di tangan, segelas teh panas di meja kecil. Saat itu saya belum suka kopi.

DMNETWORK – Pagi itu kami sampai di rumah Mas Adi Sasono sekitar pukul 06.30 WIB. Langit masih menyisakan warna pucat, embun belum benar-benar pergi dari dedaunan. Mas Ali tampaknya memang sudah ditunggu. Di teras rumah, Mas Adi Sasono dan istrinya menyambut dengan hangat seolah kami bukan tamu, melainkan keluarga yang pulang dari perjalanan jauh.
Rumah itu membuat saya tertegun. Halamannya luas, banyak pohon besar yang menaungi, sehingga udara terasa sejuk meski Jakarta mulai bersiap memasuki hiruk-pikuk pagi. Rumahnya sederhana, tidak menunjukkan kemewahan seorang tokoh nasional. Belakangan saya mendengar bahwa Mas Adi berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, meski saat itu saya belum tahu pasti.
Kami dipersilakan masuk dan langsung menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia bubur ayam buatan istrinya Mas Adi. Aroma bubur hangat bercampur bawang goreng memenuhi ruangan. Saya makan sambil diam-diam memperhatikan percakapan dua orang itu.
Mas Ali berbicara panjang dengan Mas Adi. Topiknya meloncat-loncat: politik, ekonomi, umat, organisasi, kadang seperti sedang bercanda, lalu tiba-tiba menjadi sangat serius. Saya yang masih muda waktu itu tidak benar-benar mengerti isi pembicaraan mereka. Saya hanya mengenali beberapa nama dan istilah. Padahal ketika masih di Jogja, saya pernah mengundang Mas Adi Sasono dalam diskusi politik subuh di Mangkuyudan. Tetapi mendengar langsung percakapan tokoh-tokoh itu di ruang makan memberi kesan yang berbeda. Politik ternyata tidak selalu terdengar seperti pidato; kadang ia hadir dalam obrolan santai sambil menyuap bubur.
Saya memilih duduk di depan rumah. Rokok menyala di tangan, segelas teh panas di meja kecil. Saat itu saya belum suka kopi. Setiap kali mencoba minum kopi, perut saya terasa mual seperti hendak muntah. Teh pahit kental justru menjadi teman paling setia.
Hampir satu jam saya menunggu. Tiba-tiba Mas Ali berdiri dan berkata singkat, “Ayo, kita berangkat ke Jakarta.”
Saya heran. Sejak malam sebelumnya rasanya beliau belum tidur sama sekali. Tetapi wajahnya tetap segar, langkahnya ringan, seperti baru saja bangun dari tidur panjang. Jam menunjukkan sekitar pukul delapan pagi.
Kami berempat naik mobil Volvo menuju Jakarta. Saya sama sekali tidak tahu arah jalan. Waktu itu belum ada telepon genggam. Saya sering bertanya dalam hati bagaimana orang-orang itu mengatur janji dan pertemuan tanpa telepon di tangan. Mungkin semuanya sudah diatur sebelumnya dengan ketelitian yang sekarang jarang kita temui.
Sekitar satu setengah jam kemudian kami tiba di kompleks Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung A. Kami dipersilakan masuk ke lantai dua. Saya diberi tahu bahwa itu ruang staf ahli menteri pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro.
Di sanalah saya pertama kali melihat Prof. Jimly Asshiddiqie. Saya tidak banyak bicara, hanya duduk menemani Mas Ali yang kembali tenggelam dalam percakapan panjang. Tidak lama kemudian pintu diketuk. Masuk seorang tamu lain. Baru setelah teman saya, Thoha, berbisik, saya tahu bahwa orang itu adalah Yusril Ihza Mahendra. Dari cara mereka saling menyapa, tampak jelas bahwa Jimly dan Yusril sudah akrab.
Saya merasa seperti anak kampung yang tiba-tiba tersesat di perpustakaan besar negeri ini. Di sudut ruangan ada rak-rak buku yang sangat menarik perhatian saya. Saya mendekat, mengambil beberapa judul, lalu membaca sambil menunggu. Di ruang staf ahli menteri itu saya belajar satu hal penting: orang-orang yang tampak sibuk dengan urusan negara ternyata tetap hidup di tengah buku.
Tanpa terasa hari menjadi sore. Percakapan panjang itu akhirnya selesai. Kami pamit dan keluar dari ruangan staf ahli menteri.
Sesudah itu ingatan saya mulai kabur. Yang saya ingat, kami berkeliling Jakarta hampir tanpa tujuan yang jelas. Dari satu tempat ke tempat lain, dari siang sampai tengah malam. Saya tidak diizinkan kembali ke Jalan Surabaya, tempat saya menumpang menginap di rumah Makroof. Saya tetap bersama Mas Ali dan Mas Heri di dalam mobil.
Menjelang pulang ke Depok, sebelum melewati Pasar Minggu, kami mampir lebih dulu ke Blok M untuk makan malam. Di situlah saya mengenal makanan legendaris Jakarta: nasi gultik, singkatan dari gulai tikungan. Orang-orang sering bercanda menyebutnya “gulai tikus”, padahal sebenarnya gulai kambing biasa yang dijual di tikungan jalan.
Harganya waktu itu mungkin sekitar lima ribu rupiah sepiring. Yang membuat saya tercengang bukan rasanya, melainkan nafsu makan Mas Ali. Beliau bisa menghabiskan sampai lima belas piring dengan santai. Saya baru dua piring saja sudah menyerah sambil memegang perut.
Saya memperhatikan beliau sepanjang malam. Rasanya beliau memang hampir tidak tidur. Kalau pun tidur, mungkin hanya beberapa detik di dalam mobil, lalu terbangun lagi dengan mata segar. Energinya seperti tidak habis-habis.
Setelah puas makan gultik, kami kembali ke Depok, ke rumah di Jalan Jahe 45 Gang Jawa. Mobil berhenti ketika malam sudah sangat larut. Udara Depok terasa lebih dingin dibanding Jakarta.
Saya masuk rumah dengan tubuh lelah. Tetapi Mas Ali masih sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya merebahkan diri.
Malam itu saya baru menyadari bahwa hidup bersama AMT bukan sekadar tinggal serumah. Ia seperti ikut masuk ke arus sungai yang tidak pernah berhenti mengalir. Dari ruang makan sederhana di rumah Adi Sasono, ke ruang staf ahli kementerian, lalu ke warung gultik pinggir jalan, semuanya dijalani dalam satu tarikan napas.
Dan saya, yang semula hanya menumpang ikut perjalanan, perlahan mulai mengerti bahwa di sekitar Mas Ali selalu ada dua dunia yang berjalan bersamaan: dunia gagasan besar dan dunia rakyat kecil. Beliau bisa berbicara konstitusi dengan para ahli negara pada siang hari, lalu menikmati gulai di tikungan jalan bersama sopir dan anak muda kampung pada tengah malam.
Mungkin di situlah letak keistimewaan AMT. Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan salah satu dari dua dunia itu.

Aris Munandar, petani dan tinggal di Magelang 
Share This Article
error: Content is protected !!