Editorial Sabtu Pagi: Ibu Pengupas Bawang dan Lidah yang Terlalu Bersemangat

7 Min Read
Ilustrasi pekerja pengupas bawang

Bawang yang dikupas tiba-tiba lebih berharga daripada bawang yang dijual.

Di sinilah saya mulai mencari.

Dan pencarian itu justru menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada angka Rp700 ribu.

DMNETWORK – Ada sesuatu yang menarik dari pidato seorang presiden ketika ia sedang bercerita tentang rakyat kecil.

Barangkali karena presiden ingin membawa rakyat kecil itu masuk ke dalam ruangan yang selama ini terlalu penuh dengan angka pertumbuhan ekonomi, investasi, APBN, surplus, defisit, dan istilah-istilah ekonomi yang kadang terdengar jauh dari dapur orang miskin.

Maka muncullah seorang ibu.

Namanya Susanah, demikian nama yang diberitakan dalam sejumlah laporan mengenai pidato Presiden Prabowo Subianto. Ia disebut sebagai perempuan dari Kabupaten Bogor yang bekerja mengupas bawang.

- Iklan -
Ad imageAd image

Saya membayangkan perempuan itu duduk di suatu tempat, mungkin di rumah sederhana, mungkin di ruang kerja yang bau bawang. Tangannya bekerja berjam-jam. Kulit bawang dikupas satu per satu. Mata mungkin pedih. Jari-jari terus bergerak.

Lalu namanya disebut Presiden Republik Indonesia.

Sampai di sini, sebenarnya ada sesuatu yang indah.

Seorang presiden sedang berusaha melihat Indonesia bukan hanya dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari tangan seorang perempuan yang mengupas bawang.

Tetapi kemudian angka itu muncul.

- Iklan -
Ad image

Tujuh ratus ribu rupiah.

Per kilogram.

Saya berhenti sejenak.

Tujuh ratus ribu rupiah untuk satu kilogram bawang yang dikupas?

Kalau benar demikian, angka itu membuat seorang pengupas bawang menjadi salah satu pekerja borongan paling mahal di republik ini. Sepuluh kilogram berarti tujuh juta rupiah. Dua puluh kilogram menjadi empat belas juta.

Bawang yang dikupas tiba-tiba lebih berharga daripada bawang yang dijual.

Di sinilah saya mulai mencari.

Dan pencarian itu justru menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada angka Rp700 ribu.

Ada transkrip yang menuliskan 700 rupiah per kilogram, bukan Rp700 ribu. Ada pula sumber lain mengenai pekerjaan pengupasan komoditas yang mencatat angka sekitar Rp700 per kilogram. Dalam sebuah penelitian tentang pengupasan melinjo, misalnya, upah buruh pengupas disebut mencapai Rp700 per kilogram.

Maka persoalannya bukan lagi sekadar apakah Presiden salah bicara.

Persoalannya adalah: berapa sebenarnya upah perempuan itu?

Sampai penelusuran ini dilakukan, saya belum menemukan keterangan primer yang cukup kuat dari Ibu Susanah sendiri atau pemberi kerjanya yang bisa memastikan bahwa angka Rp700 ribu per kilogram itu benar.

Di sinilah seorang presiden seharusnya punya satu kemewahan yang tidak dimiliki orang biasa: ketelitian.

Sebab ketika seorang tukang sayur salah menyebut harga bawang, paling-paling pembeli bertanya lagi.

Tetapi ketika presiden salah menyebut angka, kesalahannya bisa berubah menjadi berita nasional.

Prabowo sebenarnya bukan orang yang asing dengan keseleo lidah.

Pada Oktober 2025, ketika menerima uang pengembalian kerugian negara kasus CPO, ia sempat menyebut angka Rp13 miliar sebelum segera membetulkannya menjadi Rp13 triliun.

“Miliar, eh triliun,” katanya, lalu melanjutkan.

Kesalahan itu barangkali manusiawi. Bahkan ia sendiri menertawakannya.

Pada kesempatan lain, dalam pidato di DPR pada Mei 2026, Prabowo sempat mengatakan pemerintah menaikkan penghasilan guru hingga hampir 300 persen. Beberapa detik kemudian ia mengoreksi: yang dimaksud adalah hakim.

Jauh sebelumnya, pada 2018, ia juga pernah salah menyebut sila keempat Pancasila. Setelah tersendat pada kalimat “kemanusiaan yang…”, ia melanjutkan dengan sila yang benar.

Kesalahan-kesalahan itu tentu tidak otomatis membuat seluruh isi pidatonya salah.

Tetapi ia menunjukkan satu karakter yang menarik dari Prabowo: ia sering berbicara dengan tenaga yang lebih cepat daripada kalkulator di kepalanya.

Mungkin memang karena semangat.

Ia ingin mengatakan bahwa pemerintah sedang bekerja. Ia ingin menunjukkan bahwa rakyat kecil diperhatikan. Ia ingin menghadirkan petani, buruh, nelayan, guru, hakim, pedagang dan orang-orang yang selama bertahun-tahun hanya menjadi angka dalam laporan pemerintah.

Semangat semacam itu bahkan pernah ia akui sendiri.

Dalam sebuah pertemuan dengan para pemimpin redaksi pada April 2025, Prabowo mengatakan bahwa pada 150 hari pertama pemerintahannya ia terlalu fokus pada pekerjaan. Ia menyebut antusiasme dan semangatnya adalah bagaimana secepat mungkin menghasilkan sesuatu karena orang lapar tidak bisa menunggu.

Kalimat itu sebenarnya penting.

Karena mungkin di situlah kita menemukan penjelasan tentang gaya komunikasinya.

Prabowo ingin berlari.

Tetapi kata-kata kadang meminta kita berjalan.

Angka meminta kita berhenti.

Nama orang meminta kita mengingat.

Dan fakta meminta kita memeriksa kembali.

Sebab rakyat yang dibicarakan presiden bukan benda di atas podium. Mereka manusia. Mereka punya nama. Mereka punya pekerjaan. Mereka punya upah. Mereka punya kehidupan.

Ibu pengupas bawang itu bukan sekadar ilustrasi untuk membuat pidato presiden terasa dekat dengan rakyat.

Ia adalah seseorang.

Kalau upahnya benar Rp700 ribu per kilogram, kita patut bertanya bagaimana sistem kerjanya.

Kalau sebenarnya Rp700 per kilogram, kita juga perlu mengatakan demikian.

Jangan sampai seorang perempuan yang bekerja keras untuk menyambung hidup justru kehilangan kenyataan hidupnya karena angka yang keliru diucapkan dari podium tertinggi negeri ini.

Di sinilah saya kira kritik terhadap Prabowo justru harus diletakkan dengan adil.

Bukan dengan mengatakan bahwa presiden pembohong.

Bukan pula dengan membela setiap angka hanya karena yang mengucapkannya adalah presiden.

Melainkan dengan mengatakan: Pak Presiden, semangat itu baik. Tetapi rakyat membutuhkan ketepatan.

Karena setiap angka mempunyai nasib.

Rp700 dan Rp700 ribu bukan sekadar beda tiga angka nol.

Bagi orang miskin, tiga angka nol bisa berarti makan berhari-hari.

Bisa berarti uang sekolah anak.

Bisa berarti membeli obat.

Bisa berarti membayar utang warung.

Bisa berarti harga sebuah kehidupan.

Dan akhirnya saya membayangkan kembali perempuan itu.

Ibu yang mengupas bawang.

Tangannya mungkin masih sibuk memisahkan kulit bawang dari isinya.

Barangkali ia tidak tahu bahwa namanya sedang diperbincangkan orang se-Indonesia.

Barangkali ia juga tidak tahu bahwa satu angka yang keluar dari mulut presiden telah membuat banyak orang menghitung ulang kehidupan ekonominya.

Di situlah ironi kecil republik ini.

Presiden sedang berusaha membawa rakyat kecil ke panggung negara.

Tetapi rakyat kecil itu justru mengingatkan kita bahwa negara harus belajar menghitung dengan benar.

Sebab membantu rakyat tidak cukup dengan menyebut nama mereka.

Rakyat harus benar-benar dilihat.

Dan untuk melihat rakyat dengan benar, kadang-kadang kita harus berhenti sebentar dari semangat, membuka catatan, bertanya kembali kepada orangnya, lalu memastikan:

“Bu, sebenarnya Ibu dibayar berapa untuk mengupas satu kilogram bawang?” Redaksi

Share This Article
error: Content is protected !!