Menelusuri Jejak Ki Ageng Giring dari Masjid Tua hingga Girilangan Gumelem

8 Min Read
Masjid ki Ageng Giring yang menjadi cagar budaya kabupaten Banjarnegara (foto: rist/DMNetwork)

Dari kisah itulah kemudian muncul nama Girilangan, yang dimaknai sebagai tempat Ki Ageng Giring “ilang” atau menghilang.

BANJARNEGARA, DMNETWORK — Ada tempat-tempat yang masa lalunya tidak selesai ketika sebuah bangunan tua berdiri dan kemudian ditetapkan sebagai warisan budaya. Masa lalu itu terus bergerak melalui cerita, ziarah, ritual, dan ingatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, adalah salah satunya.

Di kawasan ini terdapat Masjid Ki Ageng Chasan Besari, makam Ki Ageng Gumelem, serta Petilasan Girilangan yang oleh masyarakat setempat diyakini berkaitan dengan Ki Ageng Giring.

Ketiganya seperti membentuk satu lanskap sejarah.

- Iklan -
Ad imageAd image

Dari masjid, perjalanan dapat diteruskan menuju makam. Dari makam, cerita bergerak ke bukit tempat Girilangan berada. Di sana, nama Ki Ageng Giring kembali muncul dalam tradisi masyarakat Gumelem.

Hendri Supriadi, aktivis budaya sekaligus spiritualis muda yang tinggal di Gumelem, sekitar 500 meter dari kompleks Masjid Ki Ageng Chasan Besari, mengatakan kawasan tersebut sejak lama dikenal sebagai tempat pertapaan dan tujuan peziarah dari berbagai daerah.

“Di situ memang menjadi tempat untuk pertapaan. Banyak peziarah yang datang dari berbagai daerah,” kata Hendri.

Bagi warga yang hidup di sekitar kawasan tersebut, tempat itu bukan sekadar peninggalan masa lalu. Aktivitas ziarah dan tradisi spiritual masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Namun, cerita mengenai Ki Ageng Giring tidak berhenti pada kesaksian warga.

- Iklan -
Ad image

Dokumen Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mencatat Petilasan Girilangan berada di Desa Gumelem Wetan. Situs itu berada di kawasan perbukitan dan dikenal sebagai tempat yang dikeramatkan masyarakat. Peziarah datang terutama pada waktu-waktu tertentu, termasuk Kamis Wage malam Jumat.

Di kompleks tersebut terdapat cungkup petilasan Ki Ageng Giring, nisan tandu, gapura, serta Watu Kiblat atau Watu Sajadah.

Nama Girilangan sendiri mempunyai cerita tersendiri.

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Gumelem, Ki Ageng Giring dikisahkan menghilang ketika hendak dibawa menggunakan tandu. Tandu yang membawanya disebut semakin berat ketika berada di sebuah lokasi. Setelah tandu diletakkan, Ki Ageng Giring dipercaya telah menghilang dan yang tertinggal hanya kain kafan.

Dari kisah itulah kemudian muncul nama Girilangan, yang dimaknai sebagai tempat Ki Ageng Giring “ilang” atau menghilang.

Kisah tersebut tentu harus ditempatkan sebagai tradisi tutur. Ia berbeda dengan bukti sejarah primer yang dapat diverifikasi melalui dokumen sezaman.

Tetapi tradisi itu meninggalkan jejak material.

Kompleks Girilangan masih dapat ditemui hingga sekarang. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bahkan pernah merekomendasikan kawasan tersebut sebagai situs cagar budaya tingkat kabupaten.

Dari Girilangan, cerita kemudian bersambung kepada tokoh bernama Udhakusuma.

Dalam sejarah lokal Gumelem yang dicatat pemerintah daerah, Udhakusuma disebut datang sebagai utusan Mataram untuk mencari Ki Ageng Giring. Setelah Ki Ageng Giring tidak ditemukan, Udhakusuma kemudian tinggal di Gumelem dan menjaga petilasannya.

Tokoh itu kemudian dikenal dengan sejumlah nama, antara lain Ki Ageng Gumelem dan Ki Ageng Chasan Besari.

Di sinilah hubungan antara Ki Ageng Giring dan Masjid Ki Ageng Chasan Besari menjadi menarik.

Masjid tersebut bukan petilasan Ki Ageng Giring. Nama masjid merujuk kepada Ki Ageng Chasan Besari. Namun dalam narasi sejarah lokal, tokoh yang dikaitkan dengan masjid tersebut adalah Udhakusuma, tokoh yang dipercaya datang dan menjaga petilasan Ki Ageng Giring.

Masjid Ki Ageng Chasan Besari sendiri disebut memiliki sejarah panjang. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mencatat keberadaannya sejak sekitar 1599. Bentuk bangunan utamanya berupa tajug dan telah mengalami sejumlah perubahan serta renovasi.

Dengan demikian, masjid, makam Ki Ageng Gumelem, dan Petilasan Girilangan dapat dilihat sebagai bagian dari satu lanskap sejarah Gumelem.

Bukan satu bangunan yang sama.

Bukan pula satu tokoh yang sama.

Melainkan rangkaian tempat dan tokoh yang kemudian dipelihara dalam ingatan masyarakat.

Dua Ki Ageng Giring

Persoalan menjadi lebih menarik ketika nama Ki Ageng Giring ditelusuri ke wilayah lain.

Di Sodo, Paliyan, Gunungkidul, terdapat Pesarean Ki Ageng Giring III. Situs tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 210/KEP/2010.

Dalam tradisi sejarah Gunungkidul, Ki Ageng Giring III juga dikenal sebagai Ki Ageng Paderesan. Ia dikaitkan dengan garis keturunan Majapahit dan kisah awal berdirinya Mataram Islam.

Di kompleks pesarean itu juga terdapat makam yang dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Giring atau Rara Lembayung, tokoh yang dalam tradisi setempat disebut sebagai putri Ki Ageng Giring dan kemudian dikaitkan dengan Panembahan Senapati.

Di sinilah muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab:

Apakah Ki Ageng Giring yang dikenang di Gumelem adalah Ki Ageng Giring III yang dikenang di Sodo?

Jawabannya belum bisa dipastikan.

Sumber resmi dari kedua daerah sama-sama menyimpan tradisi mengenai Ki Ageng Giring, tetapi detail kronologi dan silsilahnya tidak sepenuhnya sama.

Penelitian mengenai makam Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Udhakusuma di Gumelem yang dilakukan di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto juga menunjukkan adanya persoalan kronologi yang masih perlu diteliti lebih jauh.

Karena itu, menyatakan kedua Ki Ageng Giring tersebut sebagai satu orang secara mutlak masih terlalu jauh.

Yang lebih aman adalah mengatakan bahwa keduanya berada dalam tradisi sejarah Jawa yang sama-sama menghubungkan tokoh Ki Ageng Giring dengan perkembangan Islam dan lingkungan sejarah Mataram.

Selebihnya masih menjadi wilayah penelitian.

Sejarah yang masih hidup

Mungkin justru di sinilah daya tarik Gumelem.

Sejarahnya tidak hanya dapat ditemukan dalam tulisan.

Ia masih berjalan bersama masyarakat.

Pada tradisi Nyadran Gedhe Gumelem, misalnya, rangkaian kegiatan masyarakat pernah dimulai dari Masjid Agung Khasan Besari, kemudian bergerak menuju Petilasan Ki Ageng Giring dan berakhir di makam Ki Ageng Gumelem.

Masjid, makam dan petilasan bukan lagi sekadar tiga titik pada peta.

Ketiganya menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan budaya masyarakat.

Hendri Supriadi melihatnya dari jarak yang sangat dekat. Rumahnya hanya sekitar 500 meter dari kompleks masjid. Sebagai aktivis budaya dan spiritualis muda setempat, ia melihat kawasan tersebut bukan hanya sebagai benda peninggalan masa lampau, tetapi sebagai ruang yang masih memiliki kehidupan.

Peziarah datang.

Orang berdoa.

Sebagian menjalani laku spiritual.

Dan cerita mengenai para leluhur terus dituturkan.

Di tempat seperti inilah batas antara sejarah dan ingatan menjadi tipis.

Sejarawan membutuhkan dokumen untuk memastikan sebuah peristiwa. Masyarakat membutuhkan ingatan untuk menjaga hubungan dengan masa lalunya.

Keduanya tidak selalu berbicara dengan bahasa yang sama.

Tetapi Gumelem menunjukkan bahwa keduanya dapat hidup berdampingan.

Sebuah masjid tua tetap digunakan. Sebuah makam tetap diziarahi. Sebuah petilasan tetap didatangi.

Dan nama Ki Ageng Giring tetap disebut.

Mungkin karena itu, perjalanan ke Gumelem tidak cukup hanya dengan bertanya, “Siapa Ki Ageng Giring?”

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa namanya mampu bertahan begitu lama dalam ingatan masyarakat, sementara jejak fisiknya masih dirawat dan didatangi hingga sekarang?

Jawabannya mungkin ada di jalan yang menghubungkan masjid dengan makam, lalu berbelok menuju bukit Girilangan.

Di sana sejarah tidak dipajang di balik kaca.

Ia hidup di antara langkah para peziarah, doa yang dilantunkan, dan cerita warga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gumelem pun menjadi semacam buku sejarah yang belum selesai ditulis.

Beberapa hal telah memiliki bukti.

Sebagian lainnya masih berupa tradisi.

Dan di antara keduanya, Ki Ageng Giring terus berjalan sebagai sebuah nama yang belum kehilangan tempat dalam ingatan masyarakat. (Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!