Pergeseran Kelegaan Hati

8 Min Read
Ilustrasi gambar (foto: dmnetwork)

Mengapa? Karena lidah dan hati belum kehilangan kepekaannya.

DMNETWORK – Ada orang yang mengukur nikmat dari banyaknya sesuatu yang masuk ke rumah. Ada pula yang mengukurnya dari hilangnya sesuatu dari dalam hati: hilangnya rasa khawatir. Seorang petani barangkali termasuk orang yang terakhir itu.
Ia merencanakan sawahnya ditanami padi. Mula-mula ia menyiapkan benih, kemudian menyemainya. Ketika benih tumbuh sebagaimana yang diharapkan, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Belum ada padi yang bisa dipanen, belum ada uang yang masuk ke kantong, tetapi hatinya sudah lebih lega.
Kemudian ia mencangkul.
Matahari boleh saja berada tepat di atas kepala. Keringat mengucur dari dahinya. Punggung pegal. Tetapi ketika pekerjaan selesai, ia makan dengan lahap. Nasi dan lauk seadanya, yang dimasak sendiri oleh keluarganya, terasa cukup. Sesudah itu tidur siang. Nyenyak.
Tidur nyenyak, ternyata, adalah salah satu bentuk kekayaan.
Beberapa hari kemudian sawah selesai diolah. Hujan belum juga turun, tetapi air sungai masih cukup untuk menggenangi sawah. Itu pun sudah membuat hati lega. Benih ditanam. Langit mulai mendung. Tak lama kemudian daun-daun hijau kecil muncul dari tanah. Petani itu kembali lega. Padahal panen masih tiga bulan lagi.
Ia masih harus menyiangi rumput, memberi pupuk, mengawasi hama dan menunggu hujan. Tetapi sebagian dari kebutuhannya sudah terpenuhi oleh harapan yang mulai kelihatan bentuknya.
Barangkali begitulah nikmat bekerja.
Bukan hanya ketika hasilnya sudah berada di depan mata, tetapi juga ketika seseorang merasa pekerjaannya menuju ke arah yang benar.
Bahkan pohong yang tumbuh di tanggul perigi pun bisa menjadi bagian dari kenikmatan itu. Ketika tiba waktunya, ubinya digali, direbus atau digoreng. Setelah seharian bekerja di sawah, makanan yang sederhana itu dapat menjadi hidangan yang luar biasa.
Mengapa? Karena lidah dan hati belum kehilangan kepekaannya.
Lalu kita bertemu dengan manusia kantor. Ia mempunyai jabatan. Ia mempunyai anak buah. Tetapi jabatan itu rupanya tidak selalu membuat hati lebih lega.
Pagi-pagi ia berangkat dalam kemacetan. Di kantor ia harus serius di hadapan anak buah. Di hadapan atasan ia harus hormat. Anak buah selalu saja ada yang membuat kecewa. Pekerjaannya terus dinilai. Atasannya terus menilai.
Sore hari pulang lagi melalui kemacetan.
Padahal ia sudah berjanji kepada istri dan anak-anak untuk makan di restoran yang sedang viral. Restoran yang prestisius. Makanannya mahal. Tempatnya bagus.
Tetapi boleh jadi ada sesuatu yang telah lama hilang: kepekaan terhadap rasa.
Lidahnya tidak lagi sekadar mengecap makanan. Ia mengejar standar. Harus sempurna. Harus begini, harus begitu. Perfection akhirnya menjadi beban yang dibawa ke meja makan.
Dan waktu berjalan tanpa meminta izin.
Tiba-tiba masa pensiun datang.
Jabatan hilang. Anak buah tidak lagi menunggu perintah. Telepon kantor berhenti berbunyi. Grup komunikasi sosial yang dulu ramai menyapa selamat pagi dan selamat siang mulai sunyi.
Yang hilang bukan hanya pekerjaan.
Yang hilang adalah rutinitas yang selama bertahun-tahun memberi seseorang perasaan bahwa dirinya diperlukan.
Barulah terasa bahwa teman kantor memang sering kali hanya teman ketika masih satu kantor.
Anehnya, teman sekolah yang hanya tiga tahun bersama justru kadang terasa lebih dekat. Tidak ada lagi atasan dan bawahan. Tidak ada target. Tidak ada penilaian. Bertemu dalam usia yang sama-sama menua, percakapan menjadi lebih sederhana.
Kadang hanya tertawa.
Kadang mengenang teman yang sudah lebih dahulu pergi.
Di situ orang mulai mengerti: ternyata kelegaan hati tidak selalu lahir dari jabatan.
Lalu bagaimana dengan guru?
Guru mempunyai cerita yang lebih rumit.
Ia bekerja berdasarkan rancangan besar yang dituangkan dalam undang-undang pendidikan nasional. Rancangan itu kemudian dijabarkan menjadi tujuan, kurikulum, materi pelajaran, administrasi, evaluasi, laporan, dan berbagai macam kegiatan.
Pada akhirnya kegiatan guru yang paling sederhana adalah mengajar.
Tetapi yang sederhana itu kemudian menjadi tidak sederhana.
Dulu guru datang ke kelas, mengajar, mengenal murid, melihat perubahan mereka, kemudian pulang.
Kini pekerjaan guru bertambah dengan berbagai persiapan tertulis, administrasi, komputer, media pembelajaran, telepon genggam dan segala tuntutan teknologi yang datang silih berganti.
Teknologi memang membantu.
Tetapi jangan-jangan, tanpa kita sadari, guru menjadi semakin sibuk mengurus pekerjaan sebagai guru dan semakin sedikit menikmati karya sebagai guru.
Padahal kepuasan seorang guru sesungguhnya bukan terletak pada berapa banyak lembar administrasi yang selesai dibuat.
Kepuasan seorang guru adalah ketika suatu hari ia mendengar bahwa muridnya berhasil.
Ada yang menjadi pejabat. Ada yang menjadi dokter. Ada yang menjadi guru. Ada yang mendapat gelar pendidikan.
Ada pula yang mungkin tidak menjadi siapa-siapa dalam ukuran jabatan, tetapi menjadi manusia baik yang berguna bagi keluarganya dan lingkungannya.
Mendengar kabar itu, seorang guru semestinya merasa lega.
Sebab di situlah panen seorang guru. Ia menanam manusia, bukan padi.
Masalahnya, kita tampaknya sedang mengalami pergeseran ukuran kepuasan.
Guru telah memperoleh tunjangan profesi sejak 2007. Harapannya tentu sederhana: kesejahteraan meningkat, kualitas kerja meningkat, dan pada akhirnya kualitas generasi juga meningkat.
Itu harapan yang masuk akal.
Kemakmuran guru tentu bukan sesuatu yang harus dicurigai. Guru pantas hidup sejahtera. Guru pantas mempunyai kendaraan. Guru pantas makan enak. Guru pantas pergi haji.
Tetapi di sinilah pertanyaan yang agak mengganggu itu muncul:
Jika kesejahteraan guru meningkat, apakah kualitas generasi juga meningkat?
Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan guru. Justru sebaliknya, untuk mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada kesejahteraan orang yang mengajar. Ia harus sampai kepada perubahan orang yang diajar.
Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah banyaknya mobil di halaman sekolah.
Bukan pula panjangnya antrean haji. Apalagi tebalnya administrasi.
Ukuran yang sesungguhnya ada pada kemampuan anak membaca kehidupan.
Bahkan membaca tulisan pun kita masih menghadapi persoalan.
Anak berusia sekitar sepuluh tahun boleh jadi sudah mampu melafalkan huruf. Ia sudah bisa mengatakan tala. Tetapi apakah ia sudah qara’a?
Ada perbedaan antara menyuarakan tulisan dan memahami apa yang dibaca. Membaca dengan suara adalah keterampilan.
Memahami bacaan adalah daya pikir.
Di antara keduanya terdapat jurang yang tidak boleh kita tutupi dengan angka-angka keberhasilan.
Maka barangkali persoalan kita bukan semata-mata guru yang kehilangan empati.
Bisa jadi guru sedang kehilangan kesempatan untuk menikmati pekerjaannya.
Terlalu banyak yang harus dikerjakan sebagai administratur. Terlalu banyak yang harus dilaporkan. Terlalu banyak perangkat yang harus disiapkan. Sampai-sampai murid yang berada di hadapannya dapat berubah menjadi bagian dari sebuah daftar pekerjaan.
Di sinilah kelegaan hati seorang guru perlahan bergeser.
Dulu mungkin lega ketika melihat murid mengerti. Kini bisa saja lega ketika administrasi selesai.
Dulu puas ketika murid berubah.
Kini mungkin puas ketika tugas selesai dikumpulkan.
Dulu seorang guru menunggu kabar keberhasilan muridnya. Kini ia menunggu penilaian atas pekerjaannya sendiri.
Perubahan itu kecil kalau dilihat sehari-hari.
Tetapi kalau berlangsung bertahun-tahun, ia dapat mengubah watak sebuah profesi.
Petani menanam padi dan menikmati pertumbuhannya sejak daun pertama muncul.
Guru menanam manusia. Tetapi jangan sampai ia tidak sempat melihat daun pertamanya karena terlalu sibuk menulis laporan tentang cara menanam.
Sebab pada akhirnya, nikmat bekerja bukan hanya ketika memperoleh hasil.
Nikmat bekerja adalah ketika seseorang masih mampu berkata dalam hati:
“Pekerjaan ini membuat hidup saya berarti.”
Dan mungkin, itulah kelegaan hati yang paling mahal.**

Ngubaedi Achmad, seorang pensiunan dosen tinggal di Semarang 

Share This Article
error: Content is protected !!