YGF Ke-31 Ditutup Meriah, Gamelan Menggema di Plaza Ngasem Yogyakarta

2 Min Read
Festifal Gamelan ke 31 malam ini ditutup dengan meriah (foto: rist)

Puncak acara digelar selama tiga malam berturut-turut sejak Jumat (31/7/2026) hingga Minggu malam di Plaza Ngasem.

YOGYAKARTA, DMNETWORK –  NINGGU malam, 2 Agustus 2026 Alunan gamelan berlaras pelog dan slendro menggema di pelataran Plaza Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta. Konser penutupan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31 itu menarik ratusan penonton, mulai dari warga lokal hingga wisatawan mancanegara.

YGF ke-31 yang digagas Komunitas Gayam 16 telah berlangsung sejak 21 Juli 2026. Tahun ini festival mengusung tema “Sukacita (Joy)” sebagai upaya menegaskan gamelan tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga ruang ekspresi yang inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan.

Puncak acara digelar selama tiga malam berturut-turut sejak Jumat (31/7/2026) hingga Minggu malam di Plaza Ngasem. Sejumlah kelompok seni dari berbagai daerah tampil dalam konser tersebut.

Program Director YGF, Ari Wulu, mengatakan tema Sukacita dipilih sebagai respons atas dinamika sosial masyarakat saat ini. Menurut dia, musik tradisional dapat menjadi medium yang menghadirkan ketenangan sekaligus kegembiraan bersama.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Gamelan bukan sekadar warisan tradisi yang ditonton, tetapi ruang berkumpul untuk merayakan kebersamaan. Melalui tema ini kami ingin membagikan energi positif kepada masyarakat luas,” ujar Ari dalam keterangannya, Minggu malam.

Selain menghadirkan kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sampang dan Banyuwangi, YGF ke-31 juga melibatkan seniman mancanegara. Dalam konser di Plaza Ngasem tampil pengrawit asal Prancis serta kelompok Lelana Groep dari Belanda.

Kehadiran para seniman asing tersebut mendapat sambutan antusias dari pengunjung yang memadati kawasan bekas Pasar Burung Ngasem.

Tidak hanya konser, YGF ke-31 juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pendukung, antara lain workshop pembuatan instrumen, lokakarya penabuhan gamelan, dan rembug budaya yang melibatkan akademisi serta praktisi seni.

Acara penutupan yang digelar gratis untuk umum berlangsung hingga larut malam. Festival ini sekaligus menegaskan posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat pelestarian dan pengembangan seni gamelan di tingkat internasional. (Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!