LAMPUNG BARAT, DMNETWORK — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Lampung Barat menggelar kegiatan penanaman jagung bersama para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan petani binaan Koordinator Kecamatan (Korcam) Way Tenong, Minggu (24/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pekon Sukananti, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat tersebut menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan petani sekaligus dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.
Hamparan lahan yang mulai ditanami jagung itu menjadi semacam “alarm pangan” dari desa, bahwa ketahanan negara sesungguhnya tumbuh dari tanah-tanah pertanian rakyat.
Ketua DPD TMI Lampung Barat, Haris Arifin Lubis, mengatakan program penanaman jagung itu merupakan bentuk komitmen Tani Merdeka Indonesia dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada sektor pertanian dan swasembada pangan.
“Program ini merupakan kerja sama antara Tani Merdeka Indonesia, para petani, dan PPL setempat dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan rakyat,” ujar Haris.
Ia menilai sektor pertanian di Lampung Barat memiliki potensi besar sebagai salah satu penyangga pangan di Provinsi Lampung, terutama untuk komoditas jagung, padi, hortikultura, dan kopi rakyat.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menunjukkan produksi pertanian di Lampung terus mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Produksi jagung di Provinsi Lampung pada 2025 tercatat mencapai sekitar 2,25 juta ton atau naik sekitar 14 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi padi Lampung pada 2025 juga menembus lebih dari 3,2 juta ton gabah kering giling (GKG), menjadikan Lampung sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional di Pulau Sumatera.
Khusus di Kabupaten Lampung Barat, pemerintah daerah pada 2026 menargetkan produksi padi mencapai 105.357 ton. Target tersebut meningkat sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga memastikan ketersediaan stok pangan masyarakat dalam kondisi aman dan mencukupi sepanjang 2026, termasuk untuk komoditas beras dan jagung.
Kondisi geografis Lampung Barat yang berada di kawasan dataran tinggi dinilai cukup mendukung pengembangan pertanian terpadu, terutama pola tanam jagung dan hortikultura berbasis kelompok tani.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Way Tenong, Supratman, mengatakan keterlibatan petani dalam gerakan tanam bersama menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian desa.
Menurutnya, pendampingan langsung kepada petani akan terus dilakukan mulai dari proses penanaman hingga masa panen.
“Semangat petani saat ini cukup baik. Kami dari PPL terus mendampingi agar pola tanam, penggunaan pupuk, hingga pengendalian hama bisa lebih efektif sehingga hasil panen meningkat,” kata Supratman.
Senada dengan itu, PPL lainnya, Ginten Ningtityas, menilai kolaborasi antara organisasi petani dan penyuluh lapangan dapat mempercepat penguatan ketahanan pangan berbasis desa.
“Kalau petani bergerak bersama, hasilnya akan lebih terasa. Penanaman jagung seperti ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pangan adalah kekuatan bangsa,” ujar Ginten.
Melalui gerakan tanam jagung tersebut, DPD TMI Lampung Barat berharap kolaborasi antara petani, penyuluh, dan organisasi masyarakat dapat terus diperkuat guna menjaga stabilitas pangan nasional dari tingkat desa.
Di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan iklim, desa-desa pertanian seperti Way Tenong justru sedang menanam satu hal yang paling penting: harapan pangan Indonesia. (Rist)