MAGELANG, DMNETWORK — Tradisi gotong royong dalam pelaksanaan kurban masih terus terjaga di Dusun Kauman, Muntilan, Kabupaten Magelang, pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Tahun ini, warga menyembelih sebanyak enam ekor sapi dan delapan ekor kambing.
Penyembelihan hewan kurban dilakukan seusai salat Iduladha di Lapangan Pasturan Kauman Muntilan. Warga tampak bergotong royong sejak pagi, mulai dari proses penyiapan lokasi, penyembelihan, hingga pembagian daging kurban kepada masyarakat.
Salah satu sesepuh Kauman Muntilan, Muh Taslim, mengatakan tradisi kurban di kampung tersebut sudah berlangsung turun-temurun dan selalu mengedepankan kebersamaan antarwarga.
Menurut dia, sebagian besar kurban sapi dilakukan secara patungan oleh tujuh orang. Nilai iuran warga bervariasi, mulai sekitar Rp4 juta per orang untuk sapi standar hingga Rp6 juta untuk sapi kategori premium.
“Dengan sistem urunan seperti ini, masyarakat yang ingin berkurban tetap bisa ikut berpartisipasi. Semangat gotong royongnya juga terasa,” kata Muh Taslim.
Ia menegaskan praktik kurban sapi secara bersama-sama tersebut telah sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Dalam fiqih, satu ekor sapi memang diperbolehkan untuk kurban maksimal tujuh orang.
“Urusan kurban sapi ini sudah mengikuti aturan hukum Islam dalam berkurban. Jadi warga merasa tenang karena pelaksanaannya sesuai syariat,” ujarnya.
Dalam hukum fiqih, ketentuan kurban bersama untuk sapi maupun unta memiliki dasar hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan satu hewan kurban untuk tujuh orang. Selain jumlah peserta maksimal tujuh orang, hewan kurban juga harus memenuhi syarat kesehatan dan usia sesuai ketentuan syariat.
Bagi warga Kauman Muntilan, tradisi kurban bukan hanya tentang ibadah penyembelihan hewan, tetapi juga menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Nuansa kebersamaan terlihat saat warga saling membantu, mulai dari pengumpulan iuran hingga pembagian daging kepada penerima manfaat.
Di tengah suasana Iduladha, halaman kampung dan jalan-jalan kecil Kauman berubah menjadi ruang kebersamaan warga, tempat gotong royong tetap hidup dari generasi ke generasi.