Malu-malu Disebut, Nama Sudaryono Melekat pada Embung yang Dinanti Petani Pati

4 Min Read
Saat pejabat daerah menyebut nama "Embung Sudaryono", secepat kilat mas Dar nampak malu malu

PATI, DMNETWORK – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono meninjau lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (1/6/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sawah yang mengalami kesulitan air akibat musim kemarau dan dampak perubahan iklim, sekaligus mencari solusi bagi persoalan yang dihadapi petani setempat.

Dalam kunjungannya, Sudaryono meninjau dua kawasan pertanian, yakni area persawahan yang telah memiliki embung dan lahan pertanian yang masih kesulitan mendapatkan akses air.

- Iklan -
Ad imageAd image

Menurut Sudaryono, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama di Jawa Tengah yang selama ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional.

“Lahan pertanian adalah fondasi utama perekonomian Indonesia, terutama di Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Tantangan seperti perubahan iklim dan keterbatasan akses air menjadi fokus utama pemerintah saat ini,” ujar Sudaryono.

Ia mengatakan pemerintah tengah memprioritaskan berbagai program untuk menjamin ketersediaan air bagi pertanian sepanjang tahun, khususnya di wilayah yang rawan mengalami kekeringan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan embung dan penguatan jaringan irigasi di desa-desa yang memiliki potensi pertanian besar, tetapi terkendala pasokan air.

“Dengan adanya embung, para petani diharapkan dapat meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sudaryono.

- Iklan -
Ad image

Wamentan yang akrab disapa Mas Dar itu menegaskan pemerintah berkomitmen meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memastikan lahan pertanian memiliki akses air yang cukup untuk mendukung produksi pangan.

Saat rombongan berhenti di hamparan lahan kering yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan embung, seorang pejabat daerah yang mendampingi Sudaryono melontarkan kalimat yang langsung menarik perhatian para petani yang ikut menyaksikan peninjauan tersebut.

“Embung Sudaryono sebentar lagi akan dibangun untuk mengatasi persoalan air persawahan,” katanya.

Bagi para petani, pernyataan itu bukan sekadar rencana pembangunan infrastruktur. Mereka berharap embung tersebut menjadi jawaban atas persoalan tahunan yang selama ini menghambat musim tanam, terutama ketika kemarau panjang menyebabkan sawah kekurangan air.

Selain pembangunan embung, Sudaryono juga menargetkan perluasan area tanam padi di berbagai sentra produksi beras nasional. Di Jawa Tengah, wilayah Pati, Kudus, Demak, Jepara, dan Grobogan menjadi daerah yang diproyeksikan mendukung peningkatan produksi pangan.

“Kalau kita bicara swasembada pangan, masyarakat harus aktif menanam. Kita ingin agar semua petani mulai melakukan aktivitas menanam padi di lahan yang dekat dengan perairan,” ujarnya.

Di sisi lain, petani setempat masih menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan air. Salah seorang petani, Slamet Raharjo, mengaku harus membeli air tangki untuk mengairi sawahnya saat musim kemarau.

“Satu kotak bisa memerlukan hingga 10 tangki air, sedangkan hasil panen hanya 10 sak,” kata Slamet.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dan keuntungan petani semakin menipis. Karena itu, rencana pembangunan embung disambut baik oleh warga.

“Dengan adanya embung ini, kami berharap tidak akan mengalami kesulitan seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Slamet.

Pemerintah berharap pembangunan infrastruktur pengairan di kawasan pertanian dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga produktivitas lahan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. (gris)

Share This Article