BANOKELING, DMNETWORK – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, berbagai kalangan mulai kembali menengok kearifan lokal sebagai sumber inspirasi pembangunan berkelanjutan.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyebut perlunya pertobatan ekologi, yakni perubahan cara pandang manusia terhadap alam dari pola eksploitasi menuju hubungan yang lebih harmonis dan bertanggung jawab.
Gagasan tersebut menemukan bentuk nyatanya di tengah kehidupan masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kabupaten Banyumas.
Di kawasan yang berada di kaki Pegunungan Serayu Selatan itu, masyarakat Bonokeling masih mempertahankan sistem pertanian tradisional yang berakar pada keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Berbagai jenis tanaman pangan lokal seperti padi, jagung, dan sorghum tetap dibudidayakan sebagai bagian dari strategi menjaga keberagaman pangan sekaligus ketahanan menghadapi perubahan cuaca.
Apa yang dijalankan masyarakat Bonokeling sesungguhnya sejalan dengan kekhawatiran yang berulang kali disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengenai dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan nasional.
Sudaryono menegaskan bahwa ancaman perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino, berpotensi mengganggu produksi pangan sehingga diperlukan langkah-langkah adaptasi yang tepat untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Ia menyebut percepatan tanam, pengelolaan sumber daya air, hingga pemanfaatan informasi iklim sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.
Menurut Sudaryono, produktivitas pertanian menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Karena itu, sektor pertanian tidak hanya dituntut mampu menghasilkan pangan, tetapi juga harus dikelola secara berkelanjutan agar tetap mampu menopang kehidupan generasi mendatang.
Nilai-nilai tersebut telah lama hidup dalam tradisi Bonokeling.
Masyarakat adat setempat mengenal berbagai aturan tidak tertulis yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Pengelolaan lahan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kemampuan tanah, ketersediaan air, dan keseimbangan ekosistem sekitar.
Kearifan itu juga tercermin dalam pelaksanaan Perlon Unggahan, ritual tahunan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bonokeling. Ribuan anak-putu Bonokeling berkumpul di Pekuncen untuk mengikuti rangkaian tradisi yang diwariskan leluhur selama berabad-abad.
Bagi masyarakat Bonokeling, Perlon Unggahan bukan sekadar agenda budaya. Tradisi tersebut menjadi sarana memperkuat hubungan manusia dengan sesama, dengan leluhur, dan dengan alam yang menjadi sumber kehidupan.
Di dalamnya terkandung pesan tentang kesederhanaan, rasa syukur, pengendalian diri, serta kewajiban menjaga keseimbangan lingkungan.
Ketika dunia modern berbicara tentang mitigasi perubahan iklim, pengurangan emisi karbon, dan pembangunan berkelanjutan, masyarakat Bonokeling sesungguhnya telah mempraktikkan sebagian nilai tersebut melalui laku hidup sehari-hari.
Karena itu, pertobatan ekologi yang disampaikan Jumhur Hidayat tidak hanya dapat dipahami sebagai konsep kebijakan lingkungan, melainkan juga sebagai ajakan untuk belajar dari komunitas-komunitas adat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam secara lebih bijaksana.
Di tengah krisis iklim yang menjadi tantangan global, Bonokeling menghadirkan pelajaran sederhana namun penting: menjaga alam bukan sekadar urusan konservasi, melainkan bagian dari menjaga keberlanjutan kehidupan itu sendiri.