TANGERANG, DMNETWORK –Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir. Waktu habis untuk mengejar target, angka, dan pencapaian, sementara kesehatan, hubungan sosial, bahkan makna hidup perlahan terpinggirkan. Pada saat yang sama, bangsa ini juga menghadapi tantangan yang tak kalah penting: bagaimana menjaga kedaulatan pangan di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Dua persoalan itu tampaknya berbeda. Namun sesungguhnya keduanya bertemu pada satu titik yang sama, yakni kualitas hidup manusia.
Gagasan itulah yang mengemuka dalam kegiatan silaturahmi dan ruang berbagi yang diselenggarakan komunitas Networking Across Borders bersama inisiatif MeRayakan Indonesia di Puri Saras, Tangerang Selatan, Selasa (16/6/2026). Acara yang berlangsung dalam suasana hangat dan egaliter tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan untuk membicarakan masa depan kesejahteraan manusia secara lebih utuh.
Di era ketika hubungan sosial sering digantikan layar gawai, pertemuan-pertemuan semacam ini menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk bertukar kartu nama atau memperluas jejaring profesional, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Ada dimensi kesehatan, kebahagiaan, pengetahuan, relasi sosial, hingga keterhubungan dengan lingkungan yang harus tumbuh secara seimbang.
Pandangan tersebut tercermin dalam diskusi yang dipandu Dr. Nishal Dillon dan Yana Arsyadi Leiper. Keduanya mengajak peserta melihat kesejahteraan dari enam dimensi yang saling berkaitan: wellbeing, wellness, welfare, wisdom, wealth, dan worldliness. Sebuah pendekatan yang mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi, melainkan pribadi yang memiliki kebutuhan fisik, mental, sosial, intelektual, dan spiritual sekaligus.
Dalam sesi pertama, Sulung Raspati mengajak peserta memahami kembali makna wellness atau kesehatan yang menyeluruh. Menurutnya, ketahanan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kesehatan mental, kualitas hubungan sosial, serta kemampuan menemukan makna dalam kehidupan.
Pesan ini terasa relevan pada masa sekarang. Banyak organisasi berlomba mengejar produktivitas, tetapi lupa bahwa sumber produktivitas sesungguhnya adalah manusia yang sehat dan bahagia. Ketika keseimbangan hidup terganggu, maka kemampuan individu maupun institusi untuk bertahan menghadapi perubahan juga akan melemah.
Dari pembahasan mengenai kesehatan manusia, diskusi kemudian bergerak menuju kesehatan bangsa melalui pangan. Pada sesi berikutnya, pakar kulinologi Hindah J. Muaris menunjukkan bagaimana bahan pangan lokal dapat menjadi jawaban atas berbagai persoalan ekonomi dan gizi masyarakat.
Contoh yang diangkat adalah ubi ungu, komoditas yang selama ini sering dipandang sebagai pangan tradisional biasa. Melalui pendekatan kulinologi, ubi ungu dapat diolah menjadi berbagai produk bakeri modern yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus tetap kaya manfaat gizi.
Gagasan ini sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih besar. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa atau teknologi yang rumit. Kadang-kadang, solusi justru lahir dari kemampuan masyarakat menghargai apa yang tumbuh di tanahnya sendiri.
Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Namun selama bertahun-tahun, sebagian besar komoditas tersebut kalah populer dibandingkan produk impor atau bahan pangan yang dianggap lebih modern. Akibatnya, potensi ekonomi sekaligus identitas kuliner bangsa sering kali terabaikan.
Karena itu, inovasi berbasis pangan lokal bukan hanya soal menciptakan produk baru. Ia juga merupakan upaya membangun kebanggaan terhadap warisan budaya sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Menariknya, seluruh gagasan yang dibahas dalam kegiatan ini tidak berhenti pada tataran diskusi. Acara tersebut juga mengandung misi sosial yang konkret. Kontribusi peserta akan digunakan untuk mendukung revitalisasi Puri Saras agar berkembang menjadi pusat komunitas, pusat budaya, sekaligus ruang pengembangan wellness bagi masyarakat.
Di sinilah makna penting ruang komunitas kembali menemukan relevansinya. Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kebijakan negara atau kekuatan pasar, tetapi juga oleh hadirnya ruang-ruang perjumpaan tempat masyarakat dapat belajar, berbagi, dan berkolaborasi.
Puri Saras menjadi contoh bagaimana sebuah ruang dapat berfungsi lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia dapat menjadi rumah bagi gagasan, kreativitas, kebudayaan, dan semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, kesejahteraan tidak lahir dari satu faktor tunggal. Ia tumbuh dari kesehatan yang terjaga, pangan yang berdaulat, lingkungan sosial yang suportif, serta ruang komunitas yang hidup. Ketika unsur-unsur tersebut bertemu dalam satu gerakan bersama, harapan untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah kemungkinan yang nyata.
Peliput: Suho, Pegiat Desa, Pegiat Budaya, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dan Pengurus Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah.