Di sawah, kerakusan jarang berakhir dengan panen yang sopan
DMNETWORK – Konon, di Athena dua ribu lima ratus tahun silam, Socrates gemar bertanya kepada siapa saja. Tukang sepatu ditanya, penyair ditanya, politikus ditanya, bahkan anak muda yang sedang merasa paling tahu pun ditanya. Ia memang agak merepotkan. Orang yang baru saja yakin akan suatu pendapat mendadak pulang dengan kepala gatal.
Salah satu kegemaran Socrates ialah menguji pertanyaan sederhana: berapa yang cukup bagi manusia? Pertanyaan itu tampaknya sepele, tetapi justru di situlah filsafat mulai berkeringat.
Saya membayangkan, andaikata Socrates tersesat ke sebuah desa di Jawa Tengah hari ini, ia mungkin tidak langsung mencari universitas. Ia barangkali lebih tertarik duduk di pematang sawah sambil melihat petani menabur pupuk. Lalu ia bertanya, “Kalau pupuknya ditambah terus, apakah padi akan semakin bijaksana?”
Petani yang baik biasanya tidak banyak pidato.
Ia tahu bahwa pupuk berlebihan bisa membuat padi rebah. Air yang terlalu banyak dapat mengundang penyakit. Pestisida yang disemprot tanpa ukuran sering membunuh serangga baik lebih dahulu daripada hama. Di sawah, kerakusan jarang berakhir dengan panen yang sopan.
Orang Yunani kuno menyebut ukuran yang tepat itu metron. Tidak kurang, tidak lebih. Rupanya sawah Indonesia diam-diam telah mengajarkan filsafat Yunani tanpa pernah membuka buku Plato.
Dari sawah saya teringat dapur program Makan Bergizi Gratis.
Di sana para juru masak menimbang beras, menghitung telur, mengatur sayur, memikirkan protein. Tugas mereka bukan membuat anak-anak kenyang sampai mengantuk di kelas. Tugas mereka lebih halus: membuat tubuh tumbuh dengan ukuran yang benar.
Gizi ternyata juga filsafat. Terlalu banyak gula tidak baik, terlalu sedikit protein juga tidak baik. Tubuh manusia, seperti tanah sawah, menyukai keseimbangan. Maka keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari panjang antrean atau banyaknya ompreng yang dibagikan, melainkan dari ketepatan isi piring.
Di sinilah Socrates bertemu petani dan juru masak SPPG. Ketiganya berbeda zaman, berbeda pakaian, bahkan berbeda bahasa, tetapi mereka sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: mencari ukuran yang pantas bagi kehidupan.
Sayangnya, bangsa modern sering tergoda oleh angka besar.
Produksi harus naik setinggi mungkin, bantuan harus sebanyak mungkin, program harus semeriah mungkin. Kita mudah terpesona pada jumlah, agak kurang sabar memikirkan mutu. Padahal padi tidak tumbuh karena spanduk, dan anak tidak sehat karena pidato.
Saya membayangkan Socrates berjalan pulang dari sawah sambil tersenyum kecil. Ia mungkin belum mengerti bahasa Indonesia, tetapi ia sudah mengerti bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir di ruang seminar. Kadang-kadang ia muncul dari tangan yang menakar pupuk dan dari sendok yang membagi lauk secara adil.
Barangkali peradaban tidak pertama-tama diukur dari seberapa penuh gudang berasnya, melainkan dari seberapa bijak ia menakar beras itu agar tanah tetap subur dan anak-anak tetap tumbuh dengan baik.
Aris Munandar, pemikir dan petani sawah