Semua dibeli dari hasil penjualan roti. Tidak sekaligus. Tetapi setahap demi setahap. Bagi Lanang, usaha bukan tentang seberapa cepat berkembang…
Semua dibeli dari hasil penjualan roti. Tidak sekaligus. Tetapi setahap demi setahap. Bagi Lanang, usaha bukan tentang seberapa cepat berkembang…
TANGERANG, DMNETWORK – Aroma mentega yang berpadu dengan wangi adonan roti baru matang memenuhi sebuah rumah di kawasan Taman Royal 3, Poris Plawad, Cipondoh, Tangerang. Di sudut ruangan, sebuah mixer bekerja tanpa lelah, sementara loyang-loyang roti bergantian keluar dari oven.
Di tempat sederhana itulah sepasang suami istri muda, Lanang Taufiqul Hakim dan Ruth Suci Wadini, sedang merawat sebuah mimpi.
Mimpi itu mereka beri nama Babydough.
Bukan sebuah toko roti besar yang berdiri di tepi jalan. Bukan pula gerai dengan etalase mewah dan papan nama yang menyala. Babydough lahir dari dapur rumah, dari tangan-tangan yang percaya bahwa setiap usaha besar hampir selalu dimulai dari ruang yang kecil.
Sejak resmi diperkenalkan pada 25 Mei 2026, Babydough memproduksi berbagai olahan tepung dan roti. Di antara semua produknya, Mexican Bun menjadi menu yang paling diandalkan.
Namun hingga hari ini, Babydough belum memiliki gerai.
Setiap pesanan masih dilayani melalui sistem pre-order (PO) yang dipasarkan lewat grup-grup WhatsApp, jaringan keluarga, teman, hingga rekomendasi pelanggan yang pernah mencicipi produknya.
Cara itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin digital, justru menjadi langkah realistis bagi usaha yang baru bertumbuh.
Alih-alih mengeluarkan biaya besar untuk membuka toko, pasangan muda ini memilih menginvestasikan setiap keuntungan yang diperoleh untuk membeli peralatan produksi sedikit demi sedikit.
Satu mixer yang lebih besar. Satu loyang tambahan. Satu rak pendingin. Lalu oven yang kapasitasnya lebih besar daripada sebelumnya.
Semua dibeli dari hasil penjualan roti. Tidak sekaligus. Tetapi setahap demi setahap.
Bagi Lanang, usaha bukan tentang seberapa cepat berkembang, melainkan seberapa lama mampu bertahan.
Di tengah persaingan usaha makanan yang semakin ketat, ia menyadari bahwa konsistensi jauh lebih penting dibandingkan mengejar pertumbuhan sesaat.
Pilihan memulai dari rumah juga bukan tanpa alasan. Biaya operasional yang lebih rendah memberi ruang bagi mereka untuk menjaga kualitas bahan baku tanpa harus membebani harga jual kepada pelanggan.
Perjalanan Babydough berlangsung pada saat perekonomian Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan.
Meski pertumbuhan ekonomi nasional tetap bergerak positif, banyak keluarga masih merasakan tekanan terhadap daya beli. Harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami fluktuasi, biaya produksi meningkat, sementara masyarakat menjadi lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Dalam situasi seperti itu, pelaku usaha mikro menjadi kelompok yang paling merasakan perubahan pasar.
Namun justru di sektor inilah denyut ekonomi Indonesia tetap hidup.
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama bertahun-tahun menjadi penyangga ekonomi nasional. Ketika perusahaan besar menahan ekspansi, ribuan usaha rumahan terus berproduksi, membuka lapangan pekerjaan, dan menjaga roda ekonomi di tingkat keluarga.
Babydough menjadi bagian dari cerita tersebut.
Bukan karena skala usahanya yang besar.
Melainkan karena keberaniannya untuk memulai.
Setiap pagi, aktivitas di rumah itu dimulai jauh sebelum pelanggan menikmati secangkir kopi. Adonan ditimbang dengan teliti. Mentega dilelehkan. Tepung diayak.
Ragi dicampur perlahan.
Semua dilakukan dengan kesabaran karena roti tidak mengenal jalan pintas. Adonan harus diberi waktu untuk mengembang.
Panas oven harus tepat. Terlalu cepat, roti akan keras. Terlalu lama, aromanya akan hilang.
Di balik setiap roti yang diterima pelanggan, tersimpan proses yang tidak selalu terlihat.
Ada waktu. Ada tenaga. Ada harapan.
Dan ada keyakinan bahwa pelanggan akan kembali karena rasa yang konsisten.
Alamat Babydough berada di Jalan Mahogani Raya, Taman Royal 3 Blok A22/8, Poris Plawad, Cipondoh, Tangerang.
Meski belum membuka toko, nama Babydough mulai dikenal dari mulut ke mulut.
Pelanggan yang puas menjadi media promosi paling jujur. Satu unggahan di media sosial. Satu foto roti di status WhatsApp. Satu rekomendasi kepada teman. Begitulah usaha kecil bertumbuh.
Pelan, tetapi nyata.
Kisah Lanang dan Ruth mengingatkan bahwa membangun usaha tidak selalu dimulai dengan modal besar ataupun tempat yang megah.
Kadang yang dibutuhkan hanyalah keberanian mengambil langkah pertama.
Dari sebuah dapur rumah. Dari oven sederhana. Dari telepon genggam yang menjadi etalase digital.
Dan dari keyakinan bahwa setiap roti yang keluar dari oven membawa lebih dari sekadar aroma yang menggugah selera. Ia membawa harapan, kerja keras, serta doa agar keluarga yang dibangun bersama dapat terus bertumbuh, sebagaimana adonan yang perlahan mengembang sebelum siap disajikan kepada pelanggan.(Rist)