BANYUMAS, DMNETWORK — Saya membayangkan sebuah ruang pertemuan yang nyaman di Tangerang Selatan. Kursi empuk. Pendingin ruangan bekerja tanpa mengenal lelah. Kopi tersaji. Kue-kue kecil berjajar rapi di atas meja. Orang-orang baik berkumpul membicarakan masa depan manusia.
Topiknya tidak main-main. Wellness, wellbeing, ketahanan pangan, keberlanjutan, ekonomi kreatif, sampai hilirisasi pangan lokal.
Semua istilah itu terdengar modern. Sebagian bahkan terdengar mahal.
Di tengah diskusi itu, seorang pembicara menjelaskan pentingnya keseimbangan hidup. Pembicara lain menerangkan perlunya mengangkat pangan lokal agar memiliki nilai tambah. Yang lain lagi berbicara tentang komunitas dan masa depan kesejahteraan manusia. Tidak ada yang salah. Justru semua benar.
Tetapi entah mengapa pikiran saya melayang ke Banyumas bagian selatan. Ke kampung-kampung masyarakat adat Bonokeling yang mungkin tidak pernah mengenal istilah wellness, tetapi tahu kapan harus berhenti bekerja dan berkumpul dengan tetangga.
Mereka mungkin tidak hafal kata wellbeing, tetapi tahu bahwa hidup yang baik adalah ketika tidak ada tetangga yang kelaparan.
Mereka juga tidak pernah mengikuti seminar tentang ketahanan pangan. Namun anehnya, mereka menyimpan padi.
Banyak orang kota menyimpan uang di bank. Orang Bonokeling menyimpan padi di lumbung. Keduanya sama-sama tabungan.
Bedanya, kalau bank tutup masih bisa membuat orang panik. Kalau lumbung penuh, hati biasanya lebih tenang.
Di sejumlah kampung Bonokeling, lumbung padi berdiri hampir seperti gardu kebudayaan. Ia bukan sekadar bangunan kayu yang berisi gabah. Ia adalah bentuk lain dari filsafat hidup.
Orang kota menyebutnya cadangan pangan. Orang kampung menyebutnya berjaga-jaga.
Bahasa kampung memang sering lebih pendek daripada bahasa seminar. Tetapi kadang-kadang justru lebih tepat sasaran.
Di ruang diskusi yang mewah, orang berbicara tentang hilirisasi pangan. Di Bonokeling, hilirisasi itu berjalan tanpa perlu papan proyek.
Padi dipanen. Disimpan. Dibagikan. Diolah. Dijual. Sebagian kembali menjadi modal tanam. Sisanya menjadi penghidupan.
Tidak ada presentasi PowerPoint. Tidak ada laser pointer. Tidak ada sertifikat peserta. Tetapi roda kehidupan tetap berputar.
Barangkali karena orang Bonokeling memahami sesuatu yang sering terlupakan oleh masyarakat modern. Bahwa pangan bukan hanya urusan perut. Pangan adalah urusan kebudayaan.
Sebab ketika orang kehilangan makanan, ia tidak hanya kehilangan tenaga. Ia juga kehilangan ketenangan.
Dan ketika masyarakat kehilangan kedaulatan atas pangannya, yang hilang bukan hanya beras. Yang hilang adalah sebagian kemerdekaannya.
Maka saya kira pertemuan di Tangerang Selatan dan kehidupan di Bonokeling sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa yang berbeda.
Yang satu memakai istilah global. Yang satu memakai tradisi lokal. Yang satu membicarakan konsep. Yang satu menjalankannya. Yang satu merumuskan masa depan. Yang satu diam-diam sudah hidup di dalamnya.
Karena itu, kadang-kadang bangsa ini tidak kekurangan teori. Kita juga tidak kekurangan seminar.
Yang sering kurang adalah keberanian untuk melihat bahwa sebagian jawaban sudah lama tinggal di desa-desa.
Di balik lumbung padi. Di balik tradisi yang dianggap kuno.
Di balik masyarakat adat yang lebih sering dijadikan objek penelitian daripada guru kehidupan.
Mungkin sudah waktunya kita belajar sedikit rendah hati.
Sebab bisa jadi, ketika kota sibuk mencari rumus ketahanan pangan abad ke-21, masyarakat Bonokeling sedang tersenyum sambil menunjuk lumbung mereka dan berkata pelan:
“Bukankah dari dulu kami sudah menyimpannya di sana?”
Aris Munandar, ketua Tani Merdeka Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling, Banyumas