Writing Therapy Jadi Ruang Refleksi Pengasuhan, UNNES Dorong Literasi dan Kesehatan Mental Ibu Desa

5 Min Read
UNNES Latih Ibu-Ibu Desa di Semarang Menulis Surat untuk Diri Sendiri Demi Literasi dan Kesehatan Mental (CC/DMnetwork)

DMNETWORK.COM, KABUPATEN SEMARANG – Di tengah derasnya arus pembahasan mengenai literasi dan kualitas pendidikan, satu aspek yang kerap luput mendapat perhatian adalah kesehatan mental orang tua, khususnya para ibu. Padahal, kemampuan mendampingi tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan tentang pengasuhan, tetapi juga oleh kondisi emosional orang tua itu sendiri.

Perspektif tersebut menjadi landasan pelaksanaan pelatihan Dialogic Reading dan Writing Therapy yang diselenggarakan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama Komunitas Baca Wiji Semi di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Sabtu (27/6/2026).

Program ini menghadirkan pendekatan yang memadukan penguatan literasi keluarga dengan ruang refleksi psikososial bagi para ibu, sebuah model pemberdayaan yang mulai banyak dikembangkan dalam komunitas berbasis pendidikan.

Ketika Ibu Kehilangan Ruang untuk Diri Sendiri

Salah satu sesi yang paling menyentuh dalam kegiatan tersebut adalah ketika puluhan ibu muda diminta menulis surat untuk diri mereka sendiri.

- Iklan -
Ad imageAd image

Bagi sebagian besar peserta, aktivitas sederhana itu ternyata menjadi pengalaman yang telah lama hilang. Bertahun-tahun menjalani rutinitas sebagai istri, ibu, sekaligus pengelola rumah tangga membuat mereka terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan emosional pribadi.

Suasana ruangan berubah hening. Setiap peserta larut dalam tulisan yang berisi pengalaman hidup, rasa lelah, kegelisahan, harapan, hingga ungkapan syukur yang selama ini jarang diucapkan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa banyak perempuan, terutama di wilayah pedesaan, memiliki ruang yang sangat terbatas untuk melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Literasi Dipahami Lebih Luas

Dalam pelatihan tersebut, literasi tidak dimaknai semata sebagai kemampuan membaca dan menulis.

UNNES memperkenalkan metode Dialogic Reading, yakni teknik membaca interaktif yang mendorong orang tua aktif berdialog dengan anak ketika membaca buku.

- Iklan -
Ad image

Melalui pendekatan tersebut, membaca tidak lagi menjadi aktivitas satu arah. Anak diajak bertanya, berpendapat, dan membangun pemahaman melalui percakapan yang hangat bersama orang tua.

Di sisi lain, metode Writing Therapy x Ruang Aman Kita memberikan kesempatan kepada para ibu untuk mengekspresikan pengalaman, emosi, tantangan, serta pembelajaran selama menjalankan peran sebagai orang tua.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi juga dapat menjadi instrumen untuk membangun kesejahteraan psikologis, bukan sekadar meningkatkan kemampuan akademik.

Menulis Sebagai Katarsis

Ratna, salah seorang peserta dari Komunitas Wiji Semi, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.

Baginya, menulis menjadi cara untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang selama ini nyaris tidak menyisakan ruang bagi dirinya sendiri.

Ia merasakan kelegaan setelah menuangkan berbagai perasaan ke dalam tulisan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa praktik menulis reflektif dapat menjadi bentuk katarsis atau pelepasan emosi yang membantu seseorang memahami dirinya secara lebih utuh.

Di banyak penelitian psikologi, expressive writing memang dikenal mampu membantu individu mengelola stres, meningkatkan kesadaran diri, serta memperkuat kemampuan menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.

Ketahanan Keluarga Dimulai dari Orang Tua

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNNES, Indrajati Kunwijaya, menegaskan bahwa tujuan kegiatan bukan hanya meningkatkan keterampilan literasi masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan membantu peserta mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat, tetapi juga membangun dukungan sosial melalui ruang berbagi yang aman, suportif, dan tidak menghakimi,” ujarnya.

Menurut Indrajati, ketahanan keluarga tidak dapat dilepaskan dari kondisi psikologis orang tua.

Ketika seorang ibu memiliki kesempatan mengenali emosinya, memperoleh dukungan sosial, dan merasa didengar, maka kualitas interaksi dengan anak serta anggota keluarga lainnya cenderung menjadi lebih positif.

Dengan demikian, investasi pada kesehatan mental orang tua juga merupakan investasi terhadap tumbuh kembang anak.

Dari Catatan Pribadi Menjadi Pengetahuan Komunitas

Salah satu hasil menarik dari kegiatan ini adalah rencana penyusunan Memoar Ibu Wiji Semi.

Tulisan-tulisan yang dihasilkan peserta akan dihimpun dan dikembangkan secara bertahap menjadi dokumentasi perjalanan hidup para ibu, pengalaman pengasuhan, tantangan keluarga, hingga praktik-praktik baik yang tumbuh dari komunitas.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman personal tidak berhenti sebagai catatan individu, melainkan dapat menjadi pengetahuan kolektif yang menginspirasi masyarakat lebih luas.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental dan pengasuhan anak di Indonesia, pendekatan seperti yang dilakukan UNNES menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit atau program yang mahal.

Terkadang, perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: menyediakan ruang aman agar seseorang berani mendengarkan isi hatinya sendiri, lalu menuliskannya menjadi cerita yang memberi makna, baik bagi dirinya maupun bagi keluarga dan komunitasnya.(*)

Share This Article