Topo Mbisu

5 Min Read
Ilustrasi gambar "Topo Mbisu"

Mencintai pemimpin tidak harus berarti membenarkan setiap kalimatnya. Seorang ibu yang sayang kepada anaknya akan menarik tangan anak itu ketika hendak memegang bara api

DMNETWORK – Ada satu kata Jawa yang belakangan terasa lebih cerdas daripada seribu seminar komunikasi politik: mbisu. Bukan bisu karena tak punya lidah, melainkan sengaja memilih diam. Orang Jawa menyebutnya topo mbisu, laku menahan kata agar pikiran tidak tercecer ke mana-mana.
Di zaman media sosial, diam justru tampak seperti kemewahan. Setiap hari orang berlomba mengeluarkan kalimat, seolah bangsa ini kekurangan bunyi. Padahal yang sering kurang bukan bunyi, melainkan timbang rasa sebelum bunyi itu dilepas.
Akhir-akhir ini banyak sekali tangkapan layar, potongan video, dan kutipan pernyataan yang beredar di TikTok dan berbagai media sosial. Rakyat yang sehari-hari bergulat dengan tanah, pupuk, hujan, dan tenaga, membaca semuanya sambil mengelus dada. Ada ucapan yang mungkin dimaksudkan baik, tetapi jatuh di telinga rakyat seperti cangkul yang mengenai batu: nyaring dan menyakitkan.
Orang kampung punya ungkapan sederhana: kandanane angel. Menjelaskannya susah. Bukan karena rakyat bodoh, melainkan karena yang dijelaskan memang sulit dicari pijakannya. Maka lahirlah pekerjaan baru: bukan menanam padi, melainkan menanam pembenaran. Satu kalimat meluncur dari podium, seribu orang berkeringat menafsirkan. Sesudah tafsir ditemukan, sering kali yang dipersalahkan malah pendengar. Katanya rakyat salah menangkap, kurang konteks, kurang imajinasi, bahkan kurang setia.
Saya membayangkan mikrofon itu seperti keris pusaka. Di tangan pendekar, ia menjaga kehormatan. Di tangan orang yang sedang terlalu bersemangat, ia bisa melukai kawan sendiri. Karena itu ada usul jenaka yang sesungguhnya lahir dari rasa sayang: jauhkan pemimpin dari mikrofon barang sejenak. Bukan menjauhkan dari rakyat, melainkan menjauhkan dari godaan untuk selalu berkata-kata.
Mencintai pemimpin tidak harus berarti membenarkan setiap kalimatnya. Seorang ibu yang sayang kepada anaknya akan menarik tangan anak itu ketika hendak memegang bara api. Tarikan itu bukan kebencian, melainkan perlindungan. Dalam politik kita sering lupa bahwa kritik kadang merupakan bentuk kasih sayang yang paling tidak populer.
Sebentar lagi 17 Agustus tiba. Hari ketika bendera naik perlahan dan kita berdiri tegak sambil menyanyikan Indonesia Raya. Ada yang mengusulkan secara berseloroh: biarlah pidato kenegaraan diberikan kepada generasi yang lebih muda, sementara sang presiden menjalani topo mbisu sehari saja. Bayangkan, sehari tanpa pidato, tanpa konferensi pers, tanpa kalimat spontan. Biarkan rakyat mendengar suara angin di sawah, suara anak sekolah membaca teks proklamasi, dan suara media sosial berceloteh sendiri sampai lelah.

Dalam tradisi Jawa, topo mbisu bukan sekadar menutup mulut. Ia latihan menundukkan ego. 

Orang yang bertapa bisu dipercaya sedang membersihkan ruang batinnya dari keinginan untuk selalu didengar. Sunyi dipakai sebagai cermin. Ketika tidak berbicara, seseorang dipaksa mendengar: mendengar detak dirinya sendiri, mendengar keluh kesah orang lain, mendengar bunyi kenyataan yang sering tenggelam oleh tepuk tangan.
Mungkin itulah yang paling kita perlukan sekarang: bukan tambahan kata-kata, melainkan tambahan pendengaran. Negeri ini sudah terlalu ramai oleh penjelasan. Harga gabah tidak turun karena pidato panjang. Tanah tidak menjadi subur karena metafora. Petani tetap harus bangun sebelum matahari terbit, sementara mikrofon boleh tidur lebih lama.
Saya teringat para sesepuh desa yang duduk di gardu bambu. Mereka tidak banyak bicara. Namun sekali membuka mulut, orang-orang berhenti mengunyah singkong. Wibawa mereka lahir dari hemat kata. Di kota-kota besar, kita sering membalik rumus itu: makin banyak bicara dianggap makin besar wibawa.
Barangkali republik ini sesekali perlu belajar dari gardu bambu tadi. Diam bukan tanda kalah. Diam bisa menjadi jeda agar akal tidak terpeleset oleh lidah. Dan dalam musim ketika setiap ucapan segera berubah menjadi meme, potongan video, dan bahan pertengkaran nasional, topo mbisu terasa bukan laku kuno, melainkan teknologi batin yang sangat modern.

Maka jika ada yang bertanya apa manfaat diam sehari bagi seorang pemimpin, saya akan menjawab dengan jawaban orang desa: supaya besok ketika berbicara, rakyat tidak perlu lagi sibuk mencari-cari maksudnya. 

Sebab kata yang lahir dari keheningan biasanya lebih pendek, lebih jernih, dan lebih dekat kepada kenyataan.
Dan bukankah kemerdekaan juga berarti merdeka dari kewajiban untuk selalu berbicara?***

- Iklan -
Ad imageAd image

Aris Munandar, adalah petani yang suka menulis

Share This Article
error: Content is protected !!