MoU Pemkab Mamberamo Raya dan PTDI, Waromi Dorong N219 Jadi Penggerak Ekonomi Papua

3 Min Read
Setelah penandatanganan MOU, foto bersama (foto: istimewa)

BANDUNG, DMNETWORK – Anggota DPD RI asal Papua, Pdt. David Harold Waromi, mendorong kerja sama Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Waromi berharap kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat konektivitas udara sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di Mamberamo Raya melalui pemanfaatan pesawat N219.

MoU antara Pemkab Mamberamo Raya dan PTDI ditandatangani dalam rangkaian Simposium Nasional HUT ke-50 PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Rabu (26/8/2026). Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Mamberamo Raya bersama Direktur Utama PTDI dan disaksikan Waromi.

“Penandatanganan MoU ini adalah langkah awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kesepakatan ini diterjemahkan menjadi implementasi nyata yang dirasakan masyarakat Mamberamo Raya,” kata Waromi.

N219 dan tantangan geografis Papua

Waromi mengatakan kondisi geografis Mamberamo Raya membuat konektivitas udara memiliki peran strategis.

- Iklan -
Ad imageAd image

Wilayah yang luas, kawasan hutan dan sungai, serta terbatasnya akses transportasi darat membuat penerbangan menjadi salah satu pilihan penting untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Menurut dia, pesawat N219 berpeluang menjadi salah satu solusi untuk membuka konektivitas antarkawasan, terutama wilayah yang belum memiliki akses transportasi memadai.

Namun, Waromi mengingatkan pembangunan konektivitas tidak cukup hanya dengan menyediakan pesawat dan bandara.

“Jangan kita berpikir hanya bandara dan pesawat. Kita harus berpikir tentang sistem. Ada rute, operator, pembiayaan, infrastruktur, MRO, sumber daya manusia, penumpang, dan yang tidak kalah penting adalah kargo,” ujarnya.

Dorong Papua Connected

Waromi juga berharap Mamberamo Raya dapat dikembangkan sebagai proyek percontohan atau pilot project konsep Papua Connected.

- Iklan -
Ad image

Konsep tersebut, kata dia, harus mengintegrasikan konektivitas udara dengan pengembangan ekonomi lokal. Penerbangan tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga mendukung distribusi kebutuhan masyarakat dan membuka akses pasar bagi produk lokal.

“Kalau kita bicara Papua Connected, maka jangan berhenti pada bandara, pesawat, dan penumpang. Kita harus membangun rantai ekonomi: bandara, N219, penumpang dan kargo, pasar, produksi lokal, sampai pendapatan masyarakat,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, konektivitas udara diharapkan memberikan dampak terhadap berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, perdagangan, UMKM, kesehatan, hingga pendidikan.

MoU harus ditindaklanjuti

Waromi menekankan perlunya langkah konkret setelah MoU ditandatangani.

Menurut dia, pemerintah daerah dan PTDI perlu menyusun rencana implementasi yang mencakup pemetaan rute prioritas, kebutuhan infrastruktur, model operasional, skema pembiayaan, kesiapan sumber daya manusia, hingga pengembangan angkutan kargo.

Dukungan kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah juga dinilai diperlukan agar kerja sama tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.

“MoU ini jangan menjadi dokumen yang disimpan di lemari. Harus ada tindak lanjut, target, timeline, dan pembagian peran yang jelas,” tegas Waromi.

Ia menilai jika konsep tersebut dapat diwujudkan, Mamberamo Raya berpeluang menjadi contoh bagaimana industri dirgantara nasional dapat berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.

“Harapan kita, N219 bukan hanya terbang di Papua, tetapi ikut menggerakkan Papua,” pungkasnya. (Bro)

Share This Article
error: Content is protected !!