Gus Rosikh Minta Warga NU Hormati Hasil Muktamar: Siapa Pun Rais Aam dan Ketum Terpilih Harus Didukung

4 Min Read
Gus Rosikh menyerukan warga NU menghormati Rais Aam dan Ketum PBNU terpilih serta mengembalikan organisasi pada Khittah 1926. (mr/Dmnetwork)

DMNETWORK.COMJOMBANG, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’i Sarang, Rembang, KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, mengingatkan seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) agar menghormati keputusan Muktamar ke-35 terkait pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Menurut Gus Rosikh, siapa pun tokoh yang memperoleh mandat melalui mekanisme Muktamar harus diterima dengan sikap sami’na wa atha’na. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga persatuan dan keberlangsungan jam’iyah setelah kontestasi kepemimpinan berakhir.

“Siapa pun tokoh yang mendapatkan amanah dan terpilih secara sah sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU wajib dihormati serta didukung oleh seluruh warga Nahdliyin,” kata Gus Rosikh, Sabtu (29/8/2026).

Ia menilai penghormatan terhadap pemimpin terpilih merupakan bagian dari akhlak kepesantrenan. Perbedaan pilihan selama proses pemilihan, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk memecah soliditas warga NU.

- Iklan -
Ad imageAd image

Kembali ke Khittah 1926

Gus Rosikh juga mengingatkan agar kontestasi kepemimpinan NU tidak terseret ke dalam polarisasi politik praktis maupun kepentingan materi.

Ia mendorong agar kepemimpinan PBNU ke depan kembali menempatkan tradisi pesantren dan ulama sebagai pijakan utama dalam menjalankan organisasi.

“Kita harus kembali pada Khittah 1926. Kontestasi jangan dicemari politik praktis maupun materi atau cuan,” ujarnya.

Menurut Gus Rosikh, kembalinya NU pada khittah bukan berarti organisasi harus menutup diri dari perkembangan zaman. Nilai-nilai pesantren justru perlu menjadi fondasi dalam merespons berbagai tantangan baru.

Tantangan Kepemimpinan Abad Kedua

Memasuki abad kedua perjalanan NU, Gus Rosikh berharap pemimpin yang terpilih memiliki arah organisasi yang jelas dan mampu menjawab tantangan global.

- Iklan -
Ad image

Ia menekankan pentingnya roadmap kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan internal organisasi, tetapi juga mampu memperkuat kontribusi NU bagi masyarakat dan bangsa.

Di saat yang sama, independensi NU harus tetap dijaga agar organisasi tidak kehilangan karakter dan pijakan perjuangannya.

Gus Rosikh menilai kepemimpinan abad kedua membutuhkan figur yang mampu menyatukan kekuatan pesantren, ulama, dan warga Nahdliyin untuk menghadapi perubahan sosial, ekonomi, teknologi, serta tantangan global.

Kepentingan Kiai dan Pesantren Harus Diutamakan

Lebih jauh, Gus Rosikh mempertegas harapannya terhadap Rais Aam PBNU dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU yang nantinya terpilih.

Ia meminta kepemimpinan baru menempatkan kepentingan kiai dan pondok pesantren sebagai salah satu prioritas utama. Kemashlahatan warga Nahdliyin juga harus menjadi orientasi dalam setiap kebijakan organisasi.

“Siapa pun yang terpilih sebagai Rais Aam PBNU dan Ketum Tanfidziyah PBNU harus berpihak dan mengedepankan kepentingan kiai, kepentingan pondok pesantren, serta lebih mengutamakan kemashlahatan warga Nahdliyin,” tegasnya.

Menurut Gus Rosikh, NU juga memiliki tanggung jawab yang lebih luas dalam kehidupan kebangsaan. Organisasi diharapkan terus berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia berharap kepemimpinan baru mampu membawa NU berkontribusi terhadap kebaikan, kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan bagi bangsa dan negara Indonesia.

Pesan Gus Rosikh tersebut sekaligus menjadi ajakan agar Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Setelah keputusan ditetapkan, seluruh elemen NU diharapkan kembali bersatu dan mengarahkan energi organisasi untuk memperkuat khidmat kepada umat, pesantren, masyarakat, dan bangsa.***

Share This Article
error: Content is protected !!