Industri Hijau, Ekonomi Berdaulat, menurut saya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan,” kata Anindya.
MAGELANG, DMNETWORK — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha.
Hal itu disampaikan Anindya saat menghadiri kegiatan Go-See and Pitch Trip yang digelar Kadin Indonesia bersama Kadin Indonesia Institute (KII) di PT VKTR Sakti Industries, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Industri Hijau, Ekonomi Berdaulat: Kadin Indonesia Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Berbasis Industri Hijau”.
Menurut Anindya, agenda tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan calon pemasok (supplier) dan calon pembeli (buyer) dari kalangan dunia usaha sekaligus melihat langsung perkembangan industri hijau di lapangan.
“Industri Hijau, Ekonomi Berdaulat, menurut saya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan,” kata Anindya.
Ia mengatakan Indonesia tengah menghadapi perubahan besar dalam rantai pasok global, transisi energi, perkembangan teknologi, dan pola investasi dunia.
Kondisi tersebut, menurut dia, harus dimanfaatkan untuk memperkuat perekonomian nasional melalui investasi dan hilirisasi, transisi energi, penguatan rantai nilai dan UMKM, pembangunan infrastruktur serta logistik, hingga optimalisasi perdagangan internasional.
“Indonesia tidak hanya berpotensi sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah di kawasan,” ujarnya.
Dorong konsep Indonesia Incorporated
Anindya menegaskan Kadin Indonesia berkomitmen mendorong semangat Indonesia Incorporated, yakni kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat ekonomi nasional.
Ia menjelaskan, pemerintah berperan menyediakan regulasi, kepastian pasar, dan komitmen jangka panjang.
Sementara dunia usaha membawa investasi, inovasi, serta keberanian mengambil risiko produktif. Adapun akademisi diharapkan menghadirkan riset terapan yang dapat dihilirkan ke industri sekaligus menyiapkan talenta.
“Melalui Kadin Indonesia Institute, Kadin terus mendorong riset, diskusi, dan dialog mengenai berbagai isu strategis, termasuk transisi energi, kendaraan listrik, keberlanjutan, dan pengembangan industri,” kata Anindya.
Ia menilai keberadaan PT VKTR Sakti Industries menjadi salah satu gambaran penerapan konsep tersebut, terutama dalam pengembangan kendaraan listrik dan penguatan ekosistem industri nasional.
Armada sampah listrik
Anindya juga menyoroti peluang elektrifikasi kendaraan komersial, khususnya armada pengangkut sampah.
Menurut dia, kebijakan pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy tidak cukup hanya membangun fasilitas pengolahan di tahap akhir. Sistem tersebut harus didukung proses pengumpulan dan pengangkutan sampah yang rendah emisi.
“Di sinilah terdapat sebuah simpul yang menurut kami sangat penting, yaitu armada pengangkut sampah yang rendah emisi,” ujarnya.
Menurut Anindya, elektrifikasi kendaraan komersial dapat memberikan manfaat dari sisi penciptaan lapangan kerja, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), perlindungan lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai pertumbuhan industri kendaraan listrik tidak hanya berdampak pada perusahaan perakitan, tetapi juga karoseri, komponen, teknologi, layanan purnajual, tenaga teknis, serta pemasok dari sektor UMKM.
Anindya juga melihat peluang dari pengurangan emisi melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).
Dengan demikian, elektrifikasi armada persampahan dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi operasional pemerintah daerah sekaligus membuka peluang pendapatan dari unit karbon.
Target empat tahun
Kadin Indonesia mengusulkan agar rancangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup mengenai kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dalam pelayanan pengelolaan sampah memuat kewajiban penggunaan truk kompaktor listrik bagi operator fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) nasional.
Anindya mengatakan kebijakan tersebut diharapkan dapat mempercepat realisasi industri hijau sekaligus meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi persaingan global.
Ia menyebut Kadin menargetkan sejumlah capaian dalam empat tahun ke depan.
“Bila ekosistem ini kita eksekusi secara utuh, dalam empat tahun ke depan Indonesia akan memiliki 100 persen armada persampahan listrik pada operator PSEL, 80 persen TKDN pada seluruh rantai nilai EV komersial, sekitar 10.000 green jobs baru dari ekosistem EV komersial,” kata Anindya.
Selain itu, Kadin memproyeksikan sekitar 3 juta ton CO2 ekuivalen per tahun unit karbon dapat diperdagangkan melalui SRUK dengan potensi pendapatan tambahan Rp300 miliar hingga Rp700 miliar per tahun bagi ekosistem.
“Kita sudah punya semua building blocks-nya. Tantangan kita sekarang adalah menghubungkan seluruh building blocks tersebut menjadi satu ekosistem yang bekerja bersama,” ujarnya.
Anindya berharap model pengembangan industri hijau yang ditunjukkan di Magelang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. (Rist)