Tembakau ini sangat spesial. Jauh berbeda dengan tembakau Temanggung yang terkenal itu.
BANYUMAS, DMNETWORK – Menjelang Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September, Ketua Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling Aris Munandar memilih cara sederhana untuk menyambutnya. Ia turun langsung ke kampung-kampung adat, mendatangi warga dari rumah ke rumah.
Aris tidak datang sendirian. Ia didampingi Bendahara Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling, Ritam. Keduanya berkeliling menemui petani, mendengarkan keluhan, sekaligus berbincang mengenai persoalan pertanian yang sehari-hari dihadapi warga.
Bagi Aris, turun ke bawah atau turba bukan sekadar kunjungan organisasi. Dari percakapan di teras rumah warga, persoalan pertanian sering kali terlihat lebih jelas dibandingkan dari ruang rapat.
Salah satu persoalan yang banyak dibicarakan adalah air.
Kemarau membuat sebagian lahan pertanian menghadapi keterbatasan pasokan air. Karena itu, Aris mengajak warga mulai memikirkan alternatif jangka panjang, salah satunya dengan mencari titik-titik baru yang memungkinkan dibuat sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air pertanian.
“Kalau kekeringan terus berulang, kita tidak bisa hanya menunggu hujan. Harus mulai mencari titik-titik sumber air baru,” kata Aris.
Bagi komunitas petani adat Banokeling, persoalan air bukan sekadar urusan produksi. Air berkaitan langsung dengan keberlangsungan sawah, tanaman pangan, dan kehidupan warga yang sebagian besar masih menggantungkan hidup dari pertanian.
Namun, perjalanan Aris dari rumah ke rumah itu tidak selalu berisi keluhan tentang sawah.
Ada kopi hitam yang disuguhkan warga. Ada pula tembakau yang disangonkan kepada tamu sebagai bentuk keramahan.
Tembakau itu berbeda dari tembakau yang lazim dikenal dari Temanggung atau daerah penghasil tembakau lainnya.
Warnanya khas. Aromanya juga tidak persis seperti tembakau yang biasa dijumpai di pasar. Bagi masyarakat Banokeling, tembakau tersebut lebih banyak ditanam untuk kebutuhan sendiri.

“Ini yang dinamakan tembakau sultan,” ujar Aris sambil bercanda ketika ditanya mengenai rasa tembakau Banokeling.
Ia mengatakan, tembakau tersebut memiliki karakter rasa dan aroma yang menurutnya berbeda, terutama apabila tanaman tidak terkena air hujan.
“Tembakau ini sangat spesial. Jauh berbeda dengan tembakau Temanggung yang terkenal itu. Apalagi kalau tidak terkena hujan sama sekali. Rasanya jauh di atas rasa tembakau Temanggung,” kata Aris.
Pernyataan itu tentu merupakan penilaian rasa dari masyarakat setempat, bukan ukuran mutu tembakau berdasarkan pengujian laboratorium.
Yang menarik justru tradisi di baliknya.
Tembakau di lingkungan masyarakat adat Banokeling tidak selalu dipandang sebagai komoditas yang harus dijual. Sebagian petani menanamnya untuk konsumsi sendiri. Bahkan, tembakau kerap diberikan kepada tamu sebagai oleh-oleh.
Tamu yang berkunjung ke kampung adat bisa membawa pulang tembakau tersebut, biasanya sedikitnya sekitar satu ons.
Dengan cara demikian, tembakau tidak sekadar menjadi hasil tanaman. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menerima orang luar.
Di Kecamatan Jatilawang, tempat Desa Pekuncen berada, tembakau memang tercatat dalam statistik pertanian Banyumas. Data 2024 mencatat luas panen tembakau Jatilawang mencapai 22,17 hektare, dengan produksi 31,79 ton atau produktivitas sekitar 1,43 ton per hektare. Namun data yang sama tidak mencatat Pekuncen sebagai kecamatan tersendiri dalam produksi tembakau. Karena itu, tembakau Banokeling lebih tepat dibaca sebagai bagian dari tradisi pertanian dan konsumsi masyarakat setempat, bukan sebagai komoditas unggulan resmi Pekuncen.

Desa Pekuncen sendiri merupakan wilayah Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Pemerintah Desa Pekuncen mencatat jumlah penduduknya sekitar 4.883 jiwa pada 2024. Desa ini juga terus mengembangkan berbagai potensi lokal dan kegiatan berbasis budaya masyarakat.
Di kampung adat Banokeling, pertanian dengan demikian memiliki wajah yang lebih luas. Ia bukan hanya perkara berapa ton gabah yang dihasilkan atau berapa harga hasil panen di pasar.
Ada sawah yang harus diselamatkan ketika kemarau datang. Ada sumur yang harus dicari. Ada benih yang harus dipertahankan. Ada tembakau yang ditanam bukan untuk dijual, melainkan untuk dinikmati sendiri dan diberikan kepada tamu.
Dan ada adat yang membuat hasil pertanian tidak sepenuhnya berhenti sebagai barang dagangan.
Menjelang Hari Tani Nasional 24 September, yang diperingati setiap tahun sebagai hari untuk mengingat peran petani dan persoalan agraria Indonesia, Aris memilih mendengarkan suara petani dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan mereka: rumah, kebun, sawah, dan kampung adat.
Dari secangkir kopi hitam dan sejumput tembakau, pembicaraan akhirnya kembali kepada persoalan paling tua dalam kehidupan petani: tanah, air, tanaman, dan bagaimana semuanya tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Banokeling, Hari Tani rupanya tidak harus dirayakan dengan panggung.
Cukup dengan berjalan dari rumah ke rumah, mendengarkan petani, lalu mencari jalan agar sawah tetap mendapatkan air. (Rist)