Suara Penyandang Tuli dari Muntilan soal MBG: Kami Cicipi Dulu Sebelum Makan

3 Min Read
Pondok pesantren Al iman Patosan, Muntilan, Magelang (foto: Aris/DMNetwork)

Jika makanan yang dicicipi dirasakan kurang enak, mereka memilih tidak melanjutkan untuk memakannya.

MAGELANG, DMNETWORK– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berbicara tentang makanan yang sampai ke tangan penerima manfaat. Bagi sebagian penerima, pengalaman saat menerima dan memastikan makanan tersebut layak dikonsumsi juga menjadi bagian penting.

Hal itu disampaikan Muhammad Ruqi Al Hazmi, penyandang Tuli asal Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ruqi menceritakan pengalaman keluarganya menerima makanan MBG. Istrinya yang juga penyandang Tuli pernah mendapatkan MBG saat berada di Pondok Pesantren Al Iman Muntilan.

Di keluarganya, ada kebiasaan sederhana sebelum makanan disantap bersama.

- Iklan -
Ad imageAd image

Mencicipi terlebih dahulu.

“Kami biasanya mencicipi sedikit terlebih dahulu. Kalau rasanya enak dan aman, kami makan bersama anak-anak yang bisa mendengar,” kata Ruqi.

Kebiasaan tersebut, menurut Ruqi, dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian. Mereka tidak langsung mengonsumsi seluruh makanan sebelum memastikan makanan yang diterima dapat diterima oleh anggota keluarga.

Jika makanan yang dicicipi dirasakan kurang enak, mereka memilih tidak melanjutkan untuk memakannya.

“Terkadang dibuang atau diberikan kepada kucing di depan rumah,” ujarnya.

- Iklan -
Ad image

Ruqi mengatakan, kehati-hatian terhadap makanan bukan hanya dilakukan terhadap MBG. Selama sekitar dua tahun, keluarganya terbiasa memeriksa makanan sebelum dikonsumsi, termasuk melihat kondisi lauk seperti daging, ikan, dan ayam.

Bagi Ruqi, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk menyampaikan masukan kepada pemerintah agar kualitas makanan dalam program MBG terus diperhatikan.

Bukan Sekadar Bergizi

Menurut Ruqi, makanan yang diberikan melalui program pemerintah tidak cukup hanya memenuhi aspek gizi. Kebersihan, keamanan pangan, kualitas bahan makanan, hingga rasa juga menjadi bagian yang menentukan apakah makanan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.

“Kami berharap program MBG terus menjaga kualitas, kebersihan, keamanan, dan rasa makanan agar anak-anak dan keluarga penerima merasa nyaman dan aman,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan sisi lain dari pelaksanaan MBG: pengalaman penerima manfaat tidak selalu berhenti ketika kotak makanan diterima.

Ada proses berikutnya, yakni memastikan makanan dapat dimakan dan diterima oleh keluarga.

Bagi keluarga penyandang Tuli seperti Ruqi, pengalaman tersebut menjadi suara dari lapisan penerima manfaat yang mungkin tidak selalu terdengar dalam pembicaraan mengenai program MBG.

Karena pada akhirnya, keberhasilan makanan bergizi bukan hanya soal makanan itu dibagikan, tetapi juga apakah makanan tersebut aman, layak, disukai, dan benar-benar dimakan oleh penerimanya. ( Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!