Cerpen Aris Munandar
Sampai suatu malam mereka bertemu bukan sebagai orang suci dan umat. Mereka bertemu sebagai dua manusia.
DMNETWORK – Orang-orang ngesot di depan Kiai Sodrun. Tidak semua. Tetapi cukup banyak untuk membuat lantai rumahnya mengilap.
“Kok ngesot?”
“Supaya lebih sopan.”
“Kalau jalan biasa?”
“Takut terlalu tinggi.”
Begitulah.
Di kampung itu, semakin rendah badan seseorang, semakin tinggi kedudukan orang yang didatanginya.
Kiai Sodrun duduk. Orang-orang ngesot. Kiai Sodrun mengangkat tangan. Orang-orang menunduk.
Ada yang membawa beras. Ada yang membawa ayam. Ada yang membawa uang. Ada yang membawa penyakit. Ada yang membawa utang. Ada yang membawa suami yang sulit diatur.
Ada pula yang membawa pertanyaan. Pertanyaan biasanya ditolak.
“Kiai sedang menerima tamu.”
Padahal yang datang hanya satu orang. Tetapi tamu adalah tamu.
Dan Kiai Sodrun adalah Kiai Sodrun. Namanya sudah seperti cap. Tidak perlu dibuktikan.
Ia tidak pernah menulis kitab. Tidak pernah mengajar kitab. Tidak pernah tamat membaca kitab.
Tetapi ia keturunan orang yang dahulu dipercaya memegang tugas adat. Maka ia menjadi kiai.
Masyarakat menerimanya. Kiai Sodrun juga menerima.
Lama-lama ia lupa mana yang diberikan masyarakat dan mana yang menjadi miliknya sendiri.
Itulah awal bencana. Sebab kursi yang terlalu lama diduduki bisa tumbuh akar.
Di lehernya ada kalung giok. Di tangannya ada tasbih cendana. Di belakangnya ada kitab suci. Di depannya ada manusia.
Ia menjadi lengkap. Tinggal kurang sayap. Tetapi sayap tidak diperlukan. Manusia sudah cukup untuk menerbangkan manusia lain.
“Kiai!”
“Ya.”
“Doakan saya.”
“Sudah.”
“Padahal saya belum cerita.”
“Doa tidak perlu cerita.”
Orang itu pulang. Ia merasa sembuh. Kiai Sodrun merasa hebat.
Besoknya lebih banyak orang datang. Lusa lebih banyak lagi.
Minggu berikutnya ada daftar antrean. Bulan berikutnya ada petugas. Tahun berikutnya ada orang yang menjaga pintu.
Kesucian akhirnya mempunyai administrasi.
Kemudian datang seorang perempuan. Tetangga. Jarak rumahnya hanya beberapa langkah. Tetapi godaan tidak pernah menghitung kilometer.
Perempuan itu datang. Kiai Sodrun menerima. Datang lagi. Diterima lagi. Sampai puluhan tahun berlangsung.
Sampai suatu malam mereka bertemu bukan sebagai orang suci dan umat. Mereka bertemu sebagai dua manusia.
Masalahnya, Kiai Sodrun sudah terlalu lama lupa bahwa ia manusia.
Enam anak muda mendengar kabar. Mereka berkumpul.
“Betul?”
“Katanya.”
“Katanya siapa?”
“Katanya orang.”
“Orang mana?”
“Orang yang tahu.”
“Kalau begitu kita lihat.”
Mereka pergi. Tidak membawa senjata. Tidak membawa kitab.
Hanya telepon genggam.
Zaman sekarang kebenaran sering dibawa dalam kamera.
Mereka sampai di rumah.
Gelap.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Tok.
“Siapa?”
“Kami.”
“Kami siapa?”
“Anak putu.”
Hening. Dari dalam terdengar suara sesuatu jatuh. Brak!
Salah seorang berkata,
“Kayaknya kursi.”
Yang lain menjawab,
“Kalau kursi kenapa takut?”
Mereka saling pandang.
Pintu dibuka sedikit.
Kemudian ditutup lagi.
“Ini rumah siapa?” tanya seseorang.
“Rumah Kiai.”
“Kalau begitu kenapa Kiai sembunyi?”
Tidak ada jawaban.
Pintu ditendang. Brak!
Lampu dinyalakan. Kiai Sodrun ada di dalam. Tanpa kalung. Tanpa tasbih. Tanpa wajah kiai.
Seorang perempuan berdiri di belakangnya. Semua diam.
Kiai Sodrun justru marah.
“Kenapa kalian masuk?”
Seorang anak muda mengangkat telepon.
“Kami mau bertanya.”
“Turunkan itu!”
“Kenapa?”
“Saya kiai!”
“Justru karena itu kami bertanya.”
Kiai Sodrun terdiam.
“Benar Kiai melakukan itu?”
Diam.
“Benar?”
Kiai Sodrun mengusap wajah.
“Habis.”
“Habis apa?”
“Habis gituan.”
Anak-anak muda saling melihat.
Salah seorang mematikan kamera.
“Beres.”
“Apanya?”
“Pertanyaannya.”
Besoknya masyarakat berkumpul. Kiai Sodrun dicopot.
Ia berdiri di tengah ruangan.
“Apa hak kalian?”
Tidak ada jawaban.
“Aku keturunan mereka!”
Diam.
“Aku diberi amanah!”
Diam.
“Aku pemimpin!”
Seseorang menjawab,
“Dulu.”
Kiai Sodrun memegang kalung giok.
“Ini milikku.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena itu lambang jabatan.”
“Jabatanku.”
“Dulu.”
Tasbih diambil. Kitab dikembalikan. Kiai Sodrun mengejar kitab itu. Tangannya hampir menyentuh. Tetapi kitab sudah berpindah tangan. Ia terengah.
“Kitab itu milikku!”
Seorang tua berkata,
“Kitab tidak pernah menjadi milik siapa-siapa.”
Kiai Sodrun tertawa. Tawa yang aneh.
“Kalau begitu kenapa selama ini saya yang memegang?”
Tidak ada yang menjawab.
Mungkin karena semua orang juga merasa bersalah. Sebab mereka telah menyerahkan terlalu banyak kesucian kepada satu manusia.
Kiai Sodrun pulang ke rumah lamanya. Rumah tua.
Kursi kosong. Tidak ada antrean. Ia menunggu. Tidak ada yang datang.
Hari pertama ia duduk. Hari kedua ia duduk. Hari ketiga ia memasang daftar antrean.
Tidak ada nama.
Hari keempat ia memanggil istrinya. Istrinya sudah tidak ada.
Anak-anaknya juga tidak datang.
Ia tetap duduk.
“Nomor satu!”
Tidak ada.
“Nomor dua!”
Tidak ada.
“Nomor tiga!”
Tidak ada.
Akhirnya ia marah.
“Kalau tidak mau antre, pulang!”
Rumah tetap kosong.
Malamnya ia melihat tiga orang di ruang tengah. Seekor monyet membawa tongkat. Seorang lelaki gemuk membawa babi kecil. Seorang lelaki kurus membawa beban.
Kiai Sodrun bangkit.
“Siapa kalian?”
Monyet menjawab,
“Kami sedang mencari kitab suci.”
“Kalian sudah menemukannya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kalau sudah menemukan, perjalanan selesai.” Kiai Sodrun bingung.
“Kitab itu ada di mana?”
Monyet menunjuk ke jalan.
“Di perjalanan.”
Kiai Sodrun tertawa.
“Saya sudah punya kitab.”
Monyet menatapnya.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak suci?”
Kiai Sodrun terdiam. Lelaki gemuk tertawa.
“Dia tidak punya kitab.”
Lelaki kurus menimpali,
“Dia punya kitab. Tetapi kitabnya tidak pernah berjalan.”
Kiai Sodrun melihat ke belakang. Kitab itu memang tidak ada. Sudah dikembalikan.
“Kalau kalian Sun Go Kong, Zhu Bajie dan Sha Wujing, mana gurumu?”
Monyet menunjuk langit.
“Masih mencari.”
“Di mana?”
“Entahlah.”
“Kenapa kalian terus berjalan?”
“Karena kesucian bukan kursi.”
Kiai Sodrun marah.
“Saya pernah punya kursi!”
Monyet tertawa.
“Justru itu masalahmu.”
Pagi harinya Kiai Sodrun sakit. Ia mengatakan penyakitnya adalah akibat pencopotan.
Dokter berkata darah tinggi. Ia berkata,
“Bukan.”
Dokter berkata jantungnya perlu diperiksa. Ia berkata,
“Ini ketidakadilan.”
Dokter mengangguk.
Mungkin dokter sudah belajar bahwa ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan stetoskop.
Malam berikutnya Kiai Sodrun kembali melihat tiga bayangan.
Monyet.
Lelaki gemuk.
Lelaki kurus.
“Jadi kalian datang lagi?”
“Kami lewat.”
“Mau membawa saya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kami sedang mencari kitab.”
“Di mana?”
“Masih di jalan.”
Kiai Sodrun terdiam.
“Kalau saya ikut?”
Monyet menggeleng.
“Turun dari kursimu dulu.”
“Saya tidak punya kursi.”
Monyet menunjuk ke dadanya.
“Itu.”
Kiai Sodrun memegang dada.
Tidak ada kursi. Tetapi untuk pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang keras di sana. Ia mencoba mengeluarkannya.
Tidak bisa. Napasnya pendek. Tangannya gemetar.
“Tunggu.”
Ketiga bayangan itu diam.
“Saya mau ikut.”
Monyet berkata,
“Untuk ikut perjalanan, kau harus mengakui bahwa kau tersesat.”
Kiai Sodrun membuka mulut.
Tidak ada suara. Sekali lagi. Tidak ada. Kemudian ia jatuh.
Paginya ia dimakamkan. Tiga orang mengantar. Orang-orang yang dahulu ngesot memilih berjalan biasa. Mungkin karena mereka akhirnya mengerti sesuatu.
Di makam itu tidak ada kursi. Tidak ada daftar antrean. Tidak ada kalung. Tidak ada tasbih. Tidak ada kitab.
Tanah tidak mengenal gelar. Makam juga tidak menyediakan meja pelayanan.
Setelah semua pulang, seekor monyet duduk di atas nisan. Ia membuka sebuah kitab. Lelaki gemuk tidur. Lelaki kurus memanggul bebannya.
“Ketemu?” tanya lelaki gemuk.
“Belum.”
“Besok cari lagi?”
“Besok.”
Mereka berdiri. Berjalan. Menjauh.
Di belakang mereka, tanah Kiai Sodrun tetap diam. Tetapi dari dalam tanah terdengar suara kecil.
“Kalau begitu, siapa yang suci?”
Monyet tidak menoleh.
“Yang masih mencari.”
Mereka terus berjalan. Sebab orang yang merasa sudah menemukan kesucian biasanya berhenti di tempat.
Dan orang yang berhenti terlalu lama sering membuat orang lain ngesot di hadapannya.
Sementara kitab suci, entah di mana, masih menunggu manusia yang mau berjalan.
Bukan duduk. Bukan disembah.
Bukan disembunyikan.
Dicari.
Aris Munandar, petani tinggal di Magelang