Sebagai bentuk penghormatan, seluruh jajaran PDIP dari tingkat DPP, DPD, DPC, PAC, ranting hingga anak ranting diminta mengibarkan bendera PDI Perjuangan setengah tiang selama tujuh hari.
JAKARTA, DMNetwork – Dunia seni dan politik Indonesia kehilangan salah satu tokohnya. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dan Fatmawati, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB.
Guruh mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
“Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra Bin Soekarno pada usia 73 tahun,” kata Hasto dalam keterangannya, Sabtu.
Sehari sebelumnya, Guruh masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Keluarga dan jajaran PDIP saat itu meminta masyarakat mendoakan kesembuhannya.
Kepergian Guruh bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan dunia politik. Bagi perjalanan kesenian Indonesia, namanya melekat pada upaya mempertemukan musik modern dengan akar kebudayaan Nusantara.
Dari Swara Mahardhika hingga panggung kebudayaan
Nama Guruh tidak bisa dilepaskan dari Swara Mahardhika, kelompok seni yang dikembangkannya sejak dekade 1970-an.
Melalui kelompok tersebut, Guruh mengembangkan bentuk pertunjukan yang memadukan musik, tari, koreografi dan berbagai unsur kebudayaan Indonesia dalam kemasan pertunjukan modern.
Swara Mahardhika kemudian menjadi salah satu ruang tumbuh bagi sejumlah seniman dan pekerja seni Indonesia. ANTARA mencatat sejumlah nama besar dunia hiburan pernah muncul dari lingkungan kelompok tersebut.
Guruh juga dikenal melalui eksperimen musiknya. Setelah menempuh pendidikan arkeologi di Universiteit van Amsterdam, Belanda, ia tetap bersentuhan dengan seni tradisi. Pada 1973, ia tercatat bergabung dengan kelompok gamelan Jawa dan Bali di Tropen Museum, Amsterdam.
Pengalaman tersebut kemudian ikut membentuk eksplorasi musikalnya ketika kembali ke Indonesia.
Salah satu hasil pentingnya adalah Guruh Gipsy, proyek musik yang mempertemukan musik rock dengan unsur gamelan dan warna musik Nusantara. Album yang dirilis pada 1976 itu kemudian dikenang sebagai salah satu karya penting dalam perjalanan musik populer Indonesia.
Dengan demikian, Guruh tidak sekadar menciptakan lagu. Ia membangun sebuah cara pandang bahwa kebudayaan tradisional dapat berdialog dengan zaman tanpa harus kehilangan akarnya.
Eksperimen itu pula yang membuat namanya bertahan bukan hanya sebagai anak Bung Karno, melainkan sebagai seniman dengan jejak karyanya sendiri.
Seni sebagai jalan kebudayaan
Perhatian Guruh terhadap kebudayaan tidak berhenti pada musik.
Tari, gamelan, koreografi, seni pertunjukan hingga berbagai bentuk tradisi Nusantara menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Pada 2016, misalnya, Guruh dipercaya menggarap pembukaan TAFISA World Sport for All Games di Jakarta. Pertunjukan tersebut memadukan musik dan tari dari berbagai daerah, pencak silat serta teknologi visual.
Dalam sebuah diskusi pada 2024, Guruh juga berbicara tentang pentingnya menghidupkan kembali seni lenso agar dikenal kembali oleh generasi muda.
Bagi Guruh, kebudayaan tampaknya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah sesuatu yang harus terus dipertunjukkan, ditafsirkan dan diwariskan.
Dari panggung seni ke parlemen
Di luar dunia seni, Guruh juga menempuh jalan politik.
Ia aktif bersama Partai Demokrasi Indonesia dan kemudian menjadi bagian dari PDI Perjuangan. Karier politiknya membawanya ke parlemen dalam rentang panjang, sejak era Orde Baru hingga masa Reformasi.
Jejak tersebut membuat sosok Guruh memiliki dua ruang pengabdian yang berjalan beriringan: kebudayaan dan politik.
PDIP mengenang Guruh sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan pejuang partai. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut keluarga besar partai memberikan penghormatan kepada Guruh melalui protokol partai.
Sebagai bentuk penghormatan, seluruh jajaran PDIP dari tingkat DPP, DPD, DPC, PAC, ranting hingga anak ranting diminta mengibarkan bendera PDI Perjuangan setengah tiang selama tujuh hari.
Penghormatan itu sekaligus menunjukkan posisi Guruh dalam perjalanan panjang partai yang pernah menjadi kendaraan politiknya.
Namun, ketika nama Guruh disebut hari ini, ingatan publik tidak semata tertuju pada politik.
Ada lagu, tari, gamelan, panggung pertunjukan, Swara Mahardhika dan keberaniannya mempertemukan tradisi dengan musik modern.
Guruh lahir dari keluarga yang menjadi bagian penting sejarah Indonesia. Tetapi perjalanan keseniannya menunjukkan bahwa ia berusaha membangun sejarahnya sendiri.
Kini panggung itu telah selesai.
Suara Swara Mahardhika tinggal menjadi bagian dari ingatan, sementara karya-karya Guruh tetap dapat didengar dan dipentaskan oleh generasi setelahnya.
Guruh Soekarnoputra pergi pada usia 73 tahun. Tetapi jejak kebudayaan yang pernah ia bentangkan, dari gamelan hingga musik modern, dari tari hingga panggung pertunjukan, masih menjadi bagian dari perjalanan seni Indonesia. (Rist)