BANYUMAS, DMNETWORK – Di tengah kawasan adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, terdapat sebuah tanah lapang yang dikenal warga sebagai alon-alon. Letaknya sekitar 200 meter dari kompleks makam Kyai Bonokeling, lurus dari pintu utama area makam.
Sekilas, kawasan seluas kurang lebih setengah hektar itu lebih menyerupai hutan kota. Pepohonan besar tumbuh rindang menaungi hamparan tanah terbuka yang menjadi salah satu ruang penting dalam kehidupan masyarakat adat Bonokeling.
Bagi warga adat, alon-alon bukan sekadar lapangan atau ruang terbuka. Tempat itu diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang berkaitan dengan perjalanan Singa Berbangsa, utusan Kyai Bonokeling yang pada masa lampau berkeliling wilayah Banyumas dan Cilacap untuk menyerap berbagai persoalan masyarakat.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, dalam salah satu perjalanannya Singa Berbangsa pernah bermalam di sebuah tanah lapang di puncak bukit yang saat itu masih berupa kawasan hutan. Belum terdapat permukiman maupun fasilitas seperti yang terlihat saat ini.
Di tempat itulah Singa Berbangsa kemudian mengumpulkan para bedogol atau pemangku adat untuk bermusyawarah. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dibahas bersama, mulai dari kehidupan sosial, pertanian, hingga persoalan adat yang berkembang di berbagai wilayah pengikut Bonokeling.
Musyawarah tersebut menjadi sarana untuk merumuskan berbagai persoalan yang nantinya akan disampaikan kepada Kyai Bonokeling sekaligus mencari jalan penyelesaian secara kolektif. Dari peristiwa itulah alon-alon kemudian dimaknai sebagai ruang pertemuan dan ruang musyawarah terbuka bagi para bedogol.
Hingga kini, fungsi simbolik tersebut masih dipertahankan. Setiap Senin Pahing dalam penanggalan Jawa, para bedogol dan tokoh adat berkumpul di alon-alon untuk membahas berbagai persoalan yang berkembang di lingkungan masyarakat adat Bonokeling.
Tradisi musyawarah itu biasanya diakhiri dengan babar ketupat, yakni ritual makan bersama sebagai bentuk selamatan dan ungkapan rasa syukur. Melalui tradisi tersebut, nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Keberadaan alon-alon juga menjadi penanda penting bahwa masyarakat adat Bonokeling memiliki mekanisme musyawarah yang telah berlangsung jauh sebelum sistem pemerintahan modern berkembang. Ruang terbuka yang dinaungi pepohonan besar itu menjadi simbol keterbukaan dalam mencari jalan keluar atas berbagai persoalan bersama.
Di tengah perubahan zaman, alon-alon Bonokeling tetap bertahan sebagai ruang ingatan kolektif masyarakat adat. Bukan hanya menjadi bagian dari lanskap budaya, tetapi juga menjadi saksi hidup bagaimana nilai musyawarah, persaudaraan, dan penghormatan kepada leluhur terus dijaga oleh warga Bonokeling hingga saat ini.