Bapeltan Soropadan Tutup Pelatihan Budidaya Tembakau dan Agribisnis Petani Milenial, Peserta Didorong Jadi Agen Perubahan

4 Min Read
Penutupan Pelatihan Budidaya Tembakau dan Agribisnis Petani Milenial, yang sudah berlangsung 13-16 juli 2026 (foto: Andi)

Penutupan pelatihan dipimpin langsung oleh Kepala Bapeltan Soropadan, Novita Luh Widiastuti, SP., M.Si

TEMANGGUNG, DMNETWORK – Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Temanggung, menutup rangkaian Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI serta Pelatihan Agribisnis Petani Milenial Angkatan IX dan X, Kamis (16/7/2026). Selama empat hari, sejak 13 Juli 2026, para peserta mendapatkan pembekalan mulai dari teknik budidaya, pengendalian hama terpadu, pengolahan pascapanen, pemasaran hasil pertanian, hingga pengembangan agribisnis.

Penutupan pelatihan dipimpin langsung oleh Kepala Bapeltan Soropadan, Novita Luh Widiastuti, SP., M.Si. Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Pelaksana Agung Wibowo, SP., S.M., para widyaiswara, pemateri, serta jajaran pejabat Bapeltan yang selama pelatihan mendampingi para peserta.

Prosesi penutupan ditandai secara simbolis oleh Novita Luh Widiastuti sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian pelatihan. Dengan mengetok palu 

Dalam sambutannya, Novita mengaku bersyukur melihat perubahan semangat para peserta setelah mengikuti pelatihan selama empat hari.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Kita bersyukur pada hari ini karena wajah-wajah peserta yang hadir di sini tampak sumringah dibandingkan hari pertama pembukaan,” kata Novita.

Menurut dia, berakhirnya pelatihan bukan berarti proses belajar telah selesai. Justru, kata Novita, seluruh peserta kini memasuki tahap yang lebih penting, yakni mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di tengah masyarakat.

“Hari ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan di wilayah pertanian,” ujarnya.

Novita berharap seluruh materi yang telah diterima peserta tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam usaha tani dan dibagikan kepada petani lain di daerah masing-masing.

“Ilmu adalah benih, pengetahuan adalah pupuk. Kalau keduanya dirawat dan dikembangkan, akan tumbuh menjadi manfaat yang lebih besar, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta menjadi agen perubahan di daerah asal masing-masing dengan membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran yang telah diperoleh selama pelatihan.

Sementara itu, salah seorang peserta Pelatihan Agribisnis Petani Milenial, Arifah dari Kabupaten Sukoharjo, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dunia pertanian.

“Saya sangat senang mendapatkan kesempatan untuk belajar agribisnis pertanian. Apalagi dengan fasilitas yang ada, kami akhirnya mampu menyerap segala materi yang diberikan kepada kami,” kata Arifah.

Ia mengatakan, salah satu pengalaman paling berkesan adalah kesempatan berdiskusi dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki latar belakang komoditas dan pengalaman bertani yang berbeda-beda.

- Iklan -
Ad image

Menurut Arifah, keberagaman tersebut justru memperluas wawasan peserta mengenai potensi pengembangan pertanian di berbagai wilayah.

“Pelatihan ini membuka pola pikir kami. Kami bertemu peserta dari berbagai daerah dengan komoditas yang berbeda-beda. Dari situ kami belajar banyak tentang cara mengelola pertanian, saling bertukar pengalaman, dan melihat bahwa setiap daerah memiliki potensi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di daerah asalnya sekaligus menjadi bekal untuk mengembangkan usaha agribisnis yang lebih maju dan berdaya saing.

Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI serta Agribisnis Petani Milenial Angkatan IX dan X menjadi bagian dari upaya Bapeltan Soropadan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian. Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga didorong menjadi pelaku pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu membangun jejaring, serta berperan dalam mendorong kemajuan pertanian di daerahnya masing-masing.***

Share This Article
error: Content is protected !!