Kelas C Diklat Budidaya Tembakau Bapeltan Soropadan Jadi Sorotan, Pemateri: “Suasananya Selalu Hidup”

5 Min Read
Peserta Diklat budidaya tembakau angkatan V di Bapeltan Soropadan Pringsurat Temanggung, saat hari terakhir pelatihan (foto: harna)
  • Menurut Gondo, metode pembelajaran orang dewasa memang menempatkan peserta sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar pendengar.

TEMANGGUNG, DMNETWORK – Di balik padatnya materi Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI yang berlangsung di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Temanggung, pada 13-16 Juli 2026, tersimpan cerita menarik dari ruang kelas. Bukan hanya karena materi budidaya, pengendalian hama terpadu (PHT), hingga pemasaran tembakau yang padat, tetapi juga karena dinamika peserta yang membuat suasana belajar menjadi lebih hidup.

Selama empat hari pelatihan, Kelas C Budidaya Tembakau Angkatan V beberapa kali menjadi perhatian para pemateri. Hampir setiap narasumber yang masuk ke ruang kelas itu memiliki kesan yang sama, yakni peserta aktif berdiskusi, tidak sungkan bertanya, bahkan sesekali melontarkan komentar yang memancing tawa seluruh ruangan.

Salah satu pemateri yang beberapa kali mengajar di kelas tersebut, Maryono, mengaku selalu menikmati suasana pembelajaran ketika memasuki Kelas C.

“Biasanya jam-jam segini peserta mulai mengantuk. Tapi gara-gara Turhamun, suasana kelas justru menjadi lebih hidup,” kata Maryono sambil tersenyum di hadapan peserta.

Sosok yang dimaksud adalah Turhamun, peserta asal Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Keaktifannya bertanya, menanggapi materi, hingga menyampaikan pengalaman di lapangan membuat jalannya pelatihan terasa lebih dinamis.

- Iklan -
Ad imageAd image

Pengakuan serupa disampaikan Gondo, pemateri yang juga dikenal sebagai pengusaha rokok klembak menyan asal Purworejo. Menurutnya, setiap pelatihan orang dewasa membutuhkan peserta yang mampu membangun komunikasi di dalam kelas.

“Peserta yang satu ini membuat suasana kelas menjadi hidup. Pelatihan sehari penuh tentu melelahkan. Kalau semua hanya diam, kelas akan terasa berat. Justru dengan adanya peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi, peserta lain ikut terpancing untuk berpikir,” ujar Gondo.

Ia menilai, peserta yang kritis tidak boleh dipandang sebagai pengganggu jalannya pembelajaran. Sebaliknya, diskusi yang muncul justru membuat materi lebih mudah dipahami karena dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

Menurut Gondo, metode pembelajaran orang dewasa memang menempatkan peserta sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar pendengar.

Pandangan senada disampaikan Bob Andi, widyaiswara Bapeltan Soropadan yang selama pelatihan turut mendampingi peserta. Andi yang sehari-hari bertugas di Bapeltan dan tinggal di kompleks asrama pelatihan mengatakan, setiap angkatan memiliki karakter berbeda, namun Kelas C memberikan kesan tersendiri.

“Bagi kami sebagai pemateri, kelas yang hidup tentu jauh lebih menyenangkan. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi berani bertanya, menyampaikan pengalaman, bahkan berdiskusi. Di situlah sebenarnya proses belajar berlangsung,” kata Andi.

Menurut dia, pelatihan selama empat hari dengan jadwal sejak pagi hingga tengah malam akan terasa berat apabila komunikasi hanya berjalan satu arah.

- Iklan -
Ad image

“Kalau kelas pasif, waktunya terasa lama. Tapi kalau peserta aktif, empat hari terasa cepat karena banyak pengalaman yang dibagikan. Kami sebagai pemateri juga ikut belajar dari pengalaman peserta yang berasal dari berbagai daerah,” ujarnya.

Andi menambahkan, tujuan pelatihan bukan hanya mentransfer materi, melainkan membangun cara berpikir petani agar mampu menganalisis persoalan di lapangan dan menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

“Yang kami harapkan setelah pulang bukan hanya membawa sertifikat, tetapi membawa ilmu, semangat, dan keberanian untuk berbagi kepada petani lain di daerahnya,” katanya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi yang cukup lengkap, mulai dari teknik persemaian, pengambilan bibit, penanaman, pemupukan awal, topping dan wiwilan, pengendalian hama terpadu, pemanfaatan pestisida nabati, perajangan tembakau lembutan, penanganan pascapanen, hingga strategi pemasaran hasil tembakau. Sejumlah materi juga dilengkapi dengan praktik lapangan sehingga peserta dapat melihat langsung penerapan teknik budidaya yang benar.

Ketua Kelas C, Ozan, mengakui suasana belajar selama mengikuti pelatihan kali ini berbeda dibandingkan pelatihan yang pernah diikutinya sebelumnya.

“Selama beberapa kali mengikuti pelatihan di Bapeltan, baru kali ini saya menemukan kelas yang benar-benar hidup. Selama empat hari penuh teman-teman tetap semangat mengikuti materi, meskipun tanpa harus diawali yel-yel. Diskusi selalu mengalir dengan sendirinya,” kata Ozan.

Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan tersendiri. Masing-masing datang dari daerah sentra tembakau yang memiliki karakter lahan, varietas, hingga pengalaman budidaya yang berbeda. Perbedaan itulah yang memperkaya diskusi selama pelatihan berlangsung.

Bagi para pemateri, suasana yang tercipta di Kelas C menjadi gambaran bahwa proses pembelajaran berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pelatihan tidak lagi sekadar menjadi forum penyampaian materi, melainkan ruang bertukar pengalaman, menguji gagasan, sekaligus membangun jejaring antarpetani.

Di penghujung pelatihan, semangat yang tumbuh di ruang kelas diharapkan tidak berhenti ketika peserta kembali ke daerah masing-masing. Ilmu yang diperoleh selama empat hari di Bapeltan Soropadan diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas budidaya tembakau sekaligus dibagikan kepada petani lain, sehingga manfaat pelatihan dapat berkembang jauh melampaui ruang kelas tempat semuanya bermula. (Mbah Roso)

Share This Article
error: Content is protected !!