DMNETWORK.COM – Ketika perang dagang kembali memanas, konflik geopolitik di Timur Tengah belum mereda, dan ketidakpastian ekonomi global terus membayangi berbagai negara, Bank Indonesia memilih mengirim pesan yang berbeda. Alih-alih hanya berbicara soal stabilitas moneter dan inflasi, bank sentral mulai menegaskan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi dari bawah melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pesan tersebut mengemuka dalam peluncuran Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (22/6/2026). Program itu bukan sekadar agenda pembinaan pelaku usaha kecil, melainkan mencerminkan perubahan cara pandang terhadap posisi UMKM dalam arsitektur ekonomi nasional.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara terbuka menyampaikan bahwa ketergantungan terhadap faktor eksternal tidak lagi cukup untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Dalam suatu ketidakpastian yang tinggi, kita harus semakin mandiri. Apapun yang terjadi di global, we have to move on,” kata Perry.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas baru yang dihadapi banyak negara berkembang. Ketika rantai pasok global terganggu, investasi asing menjadi lebih selektif, dan pasar ekspor menghadapi tekanan, kekuatan ekonomi domestik menjadi penopang utama yang dapat diandalkan.
Pergeseran Strategi dari Global ke Domestik
Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh kombinasi konsumsi domestik, investasi, dan ekspor. Namun dinamika global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa faktor eksternal semakin sulit diprediksi.
Mulai dari rivalitas ekonomi negara-negara besar, konflik kawasan, perubahan harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi global telah menciptakan ketidakpastian berkepanjangan. Dalam konteks tersebut, memperkuat sektor UMKM menjadi strategi yang relatif aman karena basis usahanya berada langsung di tengah masyarakat.
Tidak mengherankan jika Bank Indonesia mulai memberikan perhatian lebih besar pada pengembangan kewirausahaan, peningkatan kapasitas usaha kecil, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.
Logikanya sederhana. Ketika jutaan pelaku usaha kecil tumbuh secara bersamaan, dampaknya akan terasa langsung pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan rumah tangga, dan penguatan konsumsi domestik.
UMKM dan Mesin Penyerapan Tenaga Kerja
Data yang disampaikan Perry menunjukkan Indonesia saat ini memiliki lebih dari 65 juta UMKM. Jumlah tersebut menjadikan sektor ini sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Dalam berbagai krisis ekonomi, UMKM juga terbukti memiliki daya tahan yang relatif kuat. Saat perusahaan besar melakukan efisiensi atau mengurangi ekspansi, usaha kecil justru sering menjadi ruang adaptasi ekonomi masyarakat.
Karena itu, pembahasan mengenai UMKM sesungguhnya tidak hanya terkait produktivitas usaha, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
“UMKM benar-benar menjadi pilar penting pembangunan. Sebagian besar menciptakan lapangan kerja,” ujar Perry.
Dari perspektif pembangunan, setiap pertumbuhan UMKM tidak hanya menghasilkan keuntungan bisnis, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang di tingkat lokal.
Perempuan dan Wajah Nyata Ekonomi Kerakyatan
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dalam peluncuran program tersebut adalah besarnya keterlibatan perempuan dalam sektor UMKM.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak hanya berbicara tentang angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kesejahteraan keluarga.
Banyak usaha mikro di Indonesia lahir dari dapur rumah tangga, industri rumahan, usaha makanan, kerajinan, perdagangan kecil, hingga sektor jasa yang sebagian besar dikelola perempuan.
Ketika usaha-usaha tersebut berkembang, dampaknya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan pelaku usaha. Efeknya menjalar pada kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, hingga ketahanan ekonomi rumah tangga.
“Sebagian besar UMKM dimajukan oleh wanita. Jadi memajukan UMKM berarti mendorong pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja dan menyejahterakan keluarga,” kata Perry.
Tantangan Besar: Naik Kelas atau Tetap Bertahan?
Meski jumlah UMKM sangat besar, tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Sebagian besar UMKM Indonesia masih berada pada skala mikro dengan keterbatasan modal, teknologi, akses pasar, dan kemampuan manajerial.
Persoalan klasik yang selama ini muncul adalah bagaimana mengubah UMKM dari sekadar bertahan hidup menjadi pelaku usaha yang mampu tumbuh dan naik kelas.
Di sinilah Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu mencoba mengambil peran. Tidak hanya berfokus pada bantuan atau pendampingan jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan UMKM berkembang secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut membutuhkan kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, komunitas bisnis, asosiasi usaha, hingga sektor perbankan.
Dari Batik hingga Pesantren
Bank Indonesia saat ini mengoperasikan pembinaan UMKM melalui 46 kantor perwakilan di berbagai daerah. Hingga kini lebih dari 3.000 UMKM telah mendapatkan pendampingan, mencakup sektor batik, kopi, beras, cabai, produk olahan pangan hingga industri kreatif.
Selain itu, lebih dari 1.500 pesantren juga telah terlibat dalam program pemberdayaan ekonomi yang dikembangkan BI.
Langkah ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi kerakyatan tidak hanya dilakukan melalui pendekatan bisnis konvensional, tetapi juga menyentuh komunitas sosial dan keagamaan yang memiliki basis ekonomi cukup besar di berbagai daerah.
UMKM Bukan Lagi Pelengkap
Peluncuran Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu mengirimkan pesan penting mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, UMKM tidak lagi diposisikan sebagai sektor pelengkap atau penyangga sementara.
Sebaliknya, UMKM mulai ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan nasional yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dari level paling dasar.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa transformasi tersebut tidak berhenti pada program seremonial, melainkan benar-benar menghasilkan UMKM yang lebih produktif, lebih inovatif, dan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Jika itu berhasil diwujudkan, maka di tengah gejolak ekonomi global yang sulit diprediksi, kekuatan ekonomi Indonesia justru dapat tumbuh dari jutaan usaha kecil yang selama ini menjadi denyut nadi perekonomian rakyat.(*)