Festival Bumi Mandala 2026 di Ngawen dimeriahkan balon udara, Sego Wiwit, dan doa lintas agama Waisak.

6 Min Read
Festival Bumi Mandala 2026 Magelang menampilkan puluhan balon udara di kawasan Desa Ngawen Muntilan (gh/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – MAGELANG – Festival Bumi Mandala 2026 menjadi magnet baru wisata budaya di Kabupaten Magelang. Perhelatan yang digelar di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Minggu (31/5/2026), berhasil menarik perhatian ribuan warga dan wisatawan melalui rangkaian acara yang memadukan tradisi, spiritualitas, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan bersejarah Candi Ngawen tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2026 di kawasan Borobudur. Berbagai agenda disajikan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Desa Ngawen kepada publik yang lebih luas, termasuk tamu dari berbagai daerah dan mancanegara.

Festival Bumi Mandala 2026 memasuki penyelenggaraan tahun kedua. Pemerintah Desa Ngawen menjadikan acara ini sebagai ruang promosi potensi desa sekaligus wadah pelestarian budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kepala Desa Ngawen, Daru Hapsari, menjelaskan bahwa festival tersebut dirancang secara khusus untuk memperkenalkan identitas desa melalui seni budaya, tradisi masyarakat, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

- Iklan -
Ad imageAd image

Menurutnya, kehadiran tamu dari berbagai negara dalam rangkaian perayaan Waisak menjadi momentum penting untuk menunjukkan kekayaan lokal yang dimiliki Desa Ngawen.

“Festival ini menjadi sarana memperkenalkan seni budaya dan UMKM Desa Ngawen kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam rangkaian kegiatan ini hadir pula tamu dari berbagai negara,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah desa berharap Desa Ngawen semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang memiliki karakter khas di wilayah Magelang.

Salah satu atraksi yang paling menyita perhatian pengunjung dalam Festival Bumi Mandala 2026 adalah hadirnya puluhan balon udara dari Kabupaten Wonosobo.

Langit Desa Ngawen tampak semarak dengan balon-balon berwarna cerah yang menghiasi area sekitar Candi Ngawen. Kehadiran balon udara memberikan nuansa berbeda dibandingkan pelaksanaan festival pada tahun sebelumnya.

- Iklan -
Ad image

Daru Hapsari menjelaskan bahwa konsep tersebut diadopsi dari tradisi festival balon udara yang selama ini identik dengan Wonosobo. Langkah itu dilakukan untuk menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat sekaligus memperkaya daya tarik wisata budaya di Ngawen.

Meski menjadi pusat perhatian, balon udara yang ditampilkan tidak diterbangkan secara bebas. Seluruh balon ditambatkan menggunakan sistem pengaman sesuai prosedur yang telah mendapat izin dari berbagai pihak terkait.

“Balon udara hanya dinaikkan pada ketinggian sekitar 30 hingga 50 meter dan tidak dilepaskan ke udara bebas. Semua telah mengikuti prosedur keamanan yang berlaku,” jelasnya.

Keberadaan balon udara tersebut tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai tradisi budaya yang berkembang di wilayah Wonosobo.

Ketua Panitia Balon Udara Wonosobo, Agam Setiabudi, mengatakan pihaknya menurunkan sekitar 170 personel untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain itu, sebanyak 25 balon udara ditampilkan dalam festival guna memberikan pengalaman visual yang menarik bagi para pengunjung.

Menurut Agam, partisipasi komunitas balon udara Wonosobo dalam Festival Bumi Mandala 2026 bertujuan memperkenalkan budaya khas daerahnya kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya di Magelang.

Ia menyebut kehadiran balon udara dalam rangkaian Waisak di Desa Ngawen bukanlah yang pertama. Kolaborasi ini telah terjalin dalam beberapa kesempatan sebelumnya dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengenalkan budaya balon udara Wonosobo sekaligus menarik minat masyarakat untuk datang dan menikmati festival budaya yang ada di Magelang,” katanya.

Selain atraksi budaya, Festival Bumi Mandala 2026 juga menghadirkan kegiatan spiritual yang menjadi bagian penting dari peringatan Tri Suci Waisak.

Salah satu agenda utama adalah puja bakti umat Buddha yang diselenggarakan oleh Majelis Umat Nyingma Indonesia di kawasan Candi Ngawen. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan melibatkan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat.

Tak hanya itu, doa lintas agama juga digelar sebagai simbol persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama. Momentum ini memperlihatkan bahwa perayaan budaya dan keagamaan dapat berjalan berdampingan dalam semangat toleransi.

Atmosfer kebersamaan yang tercipta menjadi pesan kuat bahwa keberagaman merupakan kekuatan sosial yang perlu terus dijaga dan dirawat. Kemeriahan Festival Bumi Mandala 2026 semakin lengkap dengan digelarnya Parade Sego Wiwit yang melibatkan warga dari 10 dusun di Desa Ngawen.

Tradisi tersebut merupakan warisan budaya masyarakat agraris yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sego wiwit memiliki makna sebagai simbol awal atau pembuka masa panen yang diiringi rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang diperoleh.

Dalam parade tersebut, warga membawa berbagai sajian khas yang disusun secara menarik sebelum akhirnya dinikmati bersama. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai gotong royong sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Bagi masyarakat Ngawen, Sego Wiwit bukan sekadar sajian makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang masih terus dipertahankan hingga kini. Melalui Festival Bumi Mandala 2026, tradisi tersebut diperkenalkan kepada para tamu dan wisatawan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang layak dilestarikan.

Kesuksesan Festival Bumi Mandala 2026 menunjukkan bahwa kegiatan budaya mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.

Rangkaian acara yang memadukan unsur budaya, religi, dan hiburan berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung. Kehadiran wisatawan turut memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM yang memasarkan berbagai produk lokal selama festival berlangsung.

Dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak, Festival Bumi Mandala 2026 diharapkan dapat terus berkembang menjadi agenda tahunan unggulan yang memperkuat posisi Desa Ngawen sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Magelang.(*)

Share This Article