ISI Yogyakarta Soroti Era AI Lewat Pameran Post-Machine Algorithm, Ini Makna Kritisnya

5 Min Read
Pameran seni Post-Machine Algorithm di ISI Yogyakarta menyoroti hubungan manusia dan kecerdasan buatan (gh/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – YOGYAKARTA – Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian meresap ke dalam industri kreatif global, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menempatkan diri dalam pusat perdebatan penting: apakah seni masih sepenuhnya milik manusia, atau sudah mulai dibagi dengan mesin?

Melalui pameran bertajuk Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner yang digelar di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta pada 20–26 Juni 2026, kampus seni tersebut tidak sekadar menampilkan karya, tetapi mengajukan pertanyaan kritis tentang masa depan kreativitas di era algoritma.

Pameran yang menjadi bagian dari Dies Natalis ISI Yogyakarta ini menghadirkan lebih dari 120 karya dari 167 peserta lintas negara, lintas generasi, dan lintas disiplin. Namun, yang paling menonjol bukan jumlah karya, melainkan konteks besar yang menyertainya: bagaimana AI mengubah cara manusia memproduksi seni.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menegaskan bahwa tema Redefining Art Impact dipilih sebagai respons terhadap disrupsi teknologi yang tidak lagi berada di pinggiran, melainkan sudah masuk ke inti proses kreatif.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Disrupsi itu bisa datang dari algoritma maupun aspek lainnya,” ujarnya dalam pembukaan pameran.

Pernyataan ini menegaskan satu hal penting: AI tidak lagi hanya alat bantu teknis, tetapi telah menjadi entitas yang ikut memengaruhi cara berpikir, estetika, bahkan keputusan artistik.

Dalam kerangka kuratorial, Nadia Tunnikmah menjelaskan bahwa istilah post-machine tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai cara membaca ulang posisi manusia setelah mesin menjadi bagian dari proses kreatif.

Namun, di balik narasi ini, tersimpan isu yang lebih tajam: apakah manusia masih menjadi pusat kreativitas, atau hanya salah satu node dalam sistem algoritmik yang lebih besar?

Ketika AI mampu menghasilkan visual, musik, bahkan narasi dalam hitungan detik, batas antara karya manusia dan mesin menjadi semakin kabur. Dalam konteks ini, seni tidak lagi hanya soal ekspresi, tetapi juga soal otoritas—siapa yang dianggap “pencipta sah”.

- Iklan -
Ad image

Kampus Seni di Persimpangan: Adaptasi atau Kehilangan Identitas?

Posisi ISI Yogyakarta dalam lanskap ini menarik untuk dibaca lebih jauh. Di satu sisi, kampus seni dituntut untuk adaptif terhadap teknologi. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa terlalu jauh masuk ke ekosistem AI justru dapat menggeser nilai dasar seni: rasa, intuisi, dan pengalaman manusia.

Irwandi menyebut bahwa pendidikan seni harus menyiapkan sivitas akademika untuk menghadapi disrupsi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan. Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya adaptasi, melainkan redefinisi: apa yang masih disebut “karya seni” ketika mesin ikut terlibat dalam proses penciptaannya?

Dengan 23 peserta internasional, 30 dosen, tujuh alumni, dan mayoritas mahasiswa, pameran ini memperlihatkan bahwa isu AI bukan lagi wacana akademik semata, tetapi sudah menjadi pengalaman kolektif global.

Karya-karya yang dipamerkan mencakup seni murni, desain, kriya, hingga proyek kolaboratif industri. Ini menunjukkan bahwa seni kini bergerak di antara dua dunia: dunia pendidikan dan dunia produksi profesional yang sama-sama semakin terdigitalisasi.

Namun di balik keberagaman itu, pertanyaan fundamental tetap menggantung: apakah kolaborasi manusia dan AI benar-benar setara, atau justru memperkuat dominasi sistem algoritmik atas manusia?

Pameran Post-Machine Algorithm pada akhirnya tidak bisa hanya dibaca sebagai agenda seni tahunan. Ia adalah arena konflik ideologis baru—antara humanisme dan otomatisasi, antara intuisi dan data, antara ketidakterdugaan manusia dan prediktabilitas mesin.

Di titik ini, seni tidak lagi berdiri netral. Ia menjadi ruang negosiasi, bahkan mungkin pertarungan, tentang siapa yang berhak mendefinisikan kreativitas di masa depan.

Melalui pameran ini, ISI Yogyakarta secara tidak langsung mengakui satu hal: era AI bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi perubahan epistemologi seni itu sendiri.

Jika sebelumnya seni bertumpu pada subjektivitas manusia, kini ia harus berdamai dengan sistem yang mampu meniru, mempercepat, bahkan menggeneralisasi kreativitas itu sendiri.

Dan di tengah semua itu, pertanyaan paling penting belum terjawab: apakah seni masih akan menjadi ruang paling manusiawi di dunia yang semakin tidak manusiawi? (*)

Share This Article