Jas Hitam dan Ikat Kepala Sarung Batik Jadi Identitas Warga Adat Bonokeling Saat Perlon Besar
BANYUMAS, DMNETWORK – Pemandangan seragam terlihat dalam pelaksanaan ritual Perlon Besar masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Para peserta ritual mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan ikat kepala berbahan sarung batik, busana yang telah lama menjadi ciri khas komunitas adat tersebut.
Bagi masyarakat Bonokeling, pakaian itu bukan sekadar perlengkapan upacara adat. Busana tersebut menjadi simbol identitas sekaligus wujud kepatuhan terhadap tata nilai yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.
Dalam setiap pelaksanaan Perlon Besar, para pengikut adat mengenakan pakaian yang sederhana dan seragam. Jas hitam melambangkan penghormatan serta keteguhan sikap, sedangkan ikat kepala yang dibuat dari lilitan sarung batik mencerminkan kesederhanaan, kerapian, dan semangat kebersamaan.
Keseragaman pakaian itu turut menghadirkan suasana khas dalam prosesi ritual. Di tengah rangkaian kegiatan yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan, warga adat tampil tanpa atribut yang mencolok maupun kemewahan berlebihan.
Tokoh adat muda Bonokeling, Ritam, mengatakan pakaian adat tersebut memiliki makna penting bagi masyarakat Bonokeling.
“Pakaian ini adalah kebanggaan kami. Selain menjadi identitas, juga menjadi simbol pemersatu bagi kami yang sudah terikat dalam kehidupan bersama,” kata Ritam.
Menurut dia, jas hitam dan ikat kepala dari sarung batik tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas komunitas, tetapi juga menjadi simbol persatuan bagi seluruh warga adat.
Ia menuturkan, keseragaman pakaian dalam Perlon Besar menciptakan rasa kebersamaan yang kuat di antara para peserta ritual. Seluruh warga adat hadir dalam kedudukan yang setara dengan mengedepankan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
“Dalam pelaksanaan ritual, semua menjadi satu kesatuan. Yang diutamakan adalah kebersamaan dan penghormatan terhadap adat yang telah diwariskan para leluhur,” ujarnya.
Melalui penggunaan pakaian adat tersebut, masyarakat Bonokeling berupaya menjaga kesinambungan nilai-nilai tradisi sekaligus memperkuat ikatan sosial antarsesama warga adat. Bagi mereka, jas hitam dan ikat kepala sarung batik bukan hanya atribut seremonial, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus dipertahankan hingga kini. (gk)