Lewati Enam Presiden, Proyek Abadi Blok Masela Akhirnya Dimulai di Era Prabowo

4 Min Read
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memimpin groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, 16 Juli 2026. Proyek senilai sekitar US$20,9 miliar ini menjadi salah satu investasi energi terbesar di Indonesia (foto: istimewa)
  • proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas LNG, melainkan simbol konsistensi negara dalam menyelesaikan proyek strategis yang selama puluhan tahun tertunda

TANIMBAR, DMNETWORK – Penantian panjang hampir tiga dasawarsa terhadap pengembangan Lapangan Gas Abadi Blok Masela akhirnya memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya konstruksi proyek strategis nasional tersebut melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).
Groundbreaking tersebut menjadi tonggak penting setelah proyek yang ditemukan sejak 1998 itu melewati perjalanan panjang lintas enam pemerintahan tanpa pernah memasuki tahap konstruksi fisik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan momentum tersebut menjadi sejarah baru bagi sektor energi nasional.
“Pada hari ini, tepat tanggal 16 Juli 2026, kita menandai babak baru Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah enam presiden. Presiden Prabowo Subianto-lah yang bisa mengeksekusi hari ini,” kata Bahlil dalam laporannya di hadapan Presiden Prabowo saat groundbreaking.
Menurut Bahlil, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas LNG, melainkan simbol konsistensi negara dalam menyelesaikan proyek strategis yang selama puluhan tahun tertunda akibat berbagai dinamika kebijakan, investasi, hingga perubahan desain pengembangan.
Nilai investasi proyek mencapai sekitar US$20,95 miliar atau setara Rp390 triliun, menjadikannya salah satu investasi sektor migas terbesar dalam sejarah Indonesia.

Dari Penemuan Gas Hingga Groundbreaking
Lapangan Gas Abadi pertama kali ditemukan oleh INPEX pada 1998. Namun, pengembangannya berjalan lambat karena berbagai perubahan kebijakan.
Perdebatan mengenai penggunaan kilang terapung (Floating LNG) atau kilang darat (Onshore LNG), pergantian mitra investasi, penyelesaian perizinan, hingga penyempurnaan desain proyek membuat realisasi pembangunan terus tertunda.
Baru pada pemerintahan Presiden Prabowo, seluruh tahapan utama dapat diselesaikan sehingga pembangunan fisik resmi dimulai.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menyebut dimulainya proyek tersebut sebagai penanda kesungguhan pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia.

Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Proyek LNG Abadi Masela dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 150 MMSCFD gas pipa, serta sekitar 35.000 barel kondensat per hari.
Produksi tersebut diproyeksikan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen LNG dunia sekaligus mendukung kebutuhan energi domestik dalam jangka panjang.

- Iklan -
Ad imageAd image

 kesungguhan pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia.

Selain menghasilkan energi, proyek ini juga dilengkapi fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon.

Menjadi Mesin Baru Pertumbuhan
Pemerintah memperkirakan proyek ini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Selain meningkatkan penerimaan negara, proyek tersebut diproyeksikan menjadi penggerak pembangunan di Provinsi Maluku, khususnya Kabupaten Kepulauan Tanimbar, melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja baru.
Bahlil menegaskan pemerintah ingin memastikan manfaat proyek tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Ini bukan hanya proyek energi, tetapi juga proyek pemerataan pembangunan Indonesia Timur,” tegasnya.
Dengan dimulainya pembangunan fisik setelah penantian hampir 28 tahun, Blok Masela kini memasuki fase baru yang diharapkan menjadi salah satu fondasi utama ketahanan energi Indonesia pada dekade mendatang. ***

Share This Article
error: Content is protected !!