Maryono: Petani Harus Mampu Mengamati dan Memutuskan Sendiri Pengendalian Hama Tembakau

4 Min Read
Peserta pelatihan budidaya tembakau yang sedang praktek tanam tembakau (rist)

TEMANGGUNG, DMNETWORK – Pengendalian hama pada tanaman tembakau tidak cukup hanya mengandalkan pestisida. Petani dituntut mampu memahami kondisi pertanamannya, mengenali perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga menentukan langkah pengendalian berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.

Prinsip tersebut disampaikan Maryono saat memberikan materi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dalam Pelatihan Budidaya Tembakau yang berlangsung di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Temanggung, pada 13-16 Juli 2026.

Di hadapan peserta pelatihan, Maryono menjelaskan bahwa konsep PHT menempatkan petani sebagai pelaku utama dalam pengelolaan lahan. Karena itu, setiap keputusan pengendalian hama harus didasarkan pada kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan menyemprot pestisida secara berkala.

“Petani PHT adalah petani yang mampu mengamati, menganalisis, kemudian memutuskan sendiri tindakan pengendalian yang paling tepat sesuai kondisi di lahannya,” kata Maryono.

Menurut dia, kemampuan tersebut hanya dapat dibangun melalui pengamatan yang dilakukan secara rutin. Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan melakukan monitoring pertanaman setiap lima hingga tujuh hari dengan mengamati kondisi tanaman, populasi hama, gejala penyakit, hingga keberadaan musuh alami yang hidup di sekitar tanaman.

Pengamatan berkala menjadi dasar untuk mengetahui apakah populasi hama masih berada pada tingkat yang dapat ditoleransi atau sudah melewati ambang pengendalian yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi.

- Iklan -
Ad imageAd image

Maryono menjelaskan, pada serangan ulat daun, tindakan pengendalian baru dilakukan apabila tingkat serangan telah mencapai sekitar 10 persen. Sementara pada kutu daun, pengendalian dilakukan ketika sekitar 20 persen tanaman telah terserang koloni kutu.

“Kalau populasinya masih di bawah ambang pengendalian, jangan buru-buru disemprot. Biarkan musuh alami bekerja. Itu prinsip dasar PHT,” ujarnya.

Ia mengatakan, penggunaan pestisida yang tidak didasarkan pada hasil pengamatan justru berisiko membunuh serangga-serangga bermanfaat yang selama ini membantu petani mengendalikan populasi hama secara alami.

Selain monitoring, Maryono juga memaparkan pentingnya konservasi lingkungan dalam budidaya tembakau. Langkah tersebut dilakukan melalui penggunaan pestisida secara selektif, penentuan waktu tanam yang tepat, pemanfaatan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah, penanaman vegetasi di tepi lahan sebagai habitat musuh alami, penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, serta penerapan rotasi tanaman guna memutus siklus hidup organisme pengganggu tanaman.

Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis. Menurutnya, banyak bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan pertanian dan dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.

“Di sekitar kita sebenarnya banyak tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Tidak harus selalu bergantung pada pestisida kimia,” tutur Maryono.

Ia menyebutkan sejumlah tanaman yang dapat dimanfaatkan, di antaranya daun mimba, daun sirsak, serai wangi, daun pepaya, bawang putih, cabai, lengkuas, gadung, hingga daun tembakau. Berbagai tanaman tersebut mengandung senyawa alami yang mampu menekan perkembangan hama apabila diolah dengan cara yang tepat.

- Iklan -
Ad image

Menurut Maryono, penggunaan pestisida nabati memiliki sejumlah keunggulan karena lebih ramah terhadap lingkungan dan relatif aman bagi musuh alami seperti laba-laba, kepik predator, kumbang predator, parasitoid, serta berbagai serangga yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

“Tujuan PHT bukan membunuh semua hama. Yang kita jaga adalah agar populasinya tetap berada di bawah ambang yang merugikan petani. Kalau keseimbangan alam tetap terpelihara, tanaman juga akan lebih sehat,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami teknik budidaya tembakau, tetapi juga memiliki kemampuan menjadi pengamat di lahannya sendiri. Dengan bekal tersebut, petani diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat, mengurangi biaya produksi akibat penggunaan pestisida yang berlebihan, serta mewujudkan budidaya tembakau yang produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.***

Share This Article
error: Content is protected !!