Pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan benih sehat, sanitasi, membuang buah yang terserang, serta penggunaan varietas yang sesuai.
BANYUMAS, Ritam, petani tembakau sekaligus Bendahara Tani Merdeka Indonesia (TMI) Wilayah Adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali memetik cabai dari kebunnya.
Pagi itu, tanaman cabai keriting merah di lahan yang berada di kawasan perbukitan tersebut tampak masih produktif. Sebagian buah mulai memerah dan siap dipanen.
Dalam sekali panen, Ritam bisa mendapatkan sekitar dua karung cabai dengan total berat mencapai 80 kilogram.
Harga jual cabai yang diperolehnya saat ini mencapai Rp30.000 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan awal masa panen yang hanya berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
“Awal-awal petik harganya sekitar Rp15.000. Sekarang sudah sampai Rp30.000 per kilogram. Mudah-mudahan harga ini bisa bertahan, bahkan naik, sehingga hasil tanaman juga bisa memberikan keuntungan bagi petani,” kata Ritam.
Tanaman cabai milik Ritam juga terbilang panjang umur produksinya. Kebun tersebut telah memasuki petik ke-13, tetapi tanaman masih tampak segar dan terus mengeluarkan buah.
Bagi Ritam, menjaga tanaman tetap produktif menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibandingkan mengejar hasil panen.

Bukan Sekadar Menanam dan Memetik
Budidaya cabai memiliki sejumlah tantangan. Kementerian Pertanian mencatat tanaman cabai rentan terhadap berbagai organisme pengganggu tumbuhan, antara lain thrips, kutu daun, kutu kebul, lalat buah dan tungau. Penyakit yang umum menyerang antara lain virus kuning, antraknosa, layu fusarium dan layu bakteri.
Karena itu, perawatan kebun perlu dilakukan sejak tanaman masih muda.
Salah satu hal yang penting adalah menjaga sanitasi kebun. Buah atau bagian tanaman yang terserang penyakit perlu segera dipisahkan dan dimusnahkan agar sumber penyakit tidak menyebar.
Drainase juga menjadi perhatian. Genangan dan kondisi terlalu lembap dapat meningkatkan risiko serangan penyakit. Kementan menyebut drainase buruk, pemupukan nitrogen berlebihan, pengendalian hama yang terlambat, serta penanaman cabai terus-menerus tanpa rotasi dapat membuat tanaman lebih mudah terserang hama dan penyakit.
Pada penyakit antraknosa, misalnya, gejalanya dapat terlihat berupa bercak gelap pada buah yang kemudian berkembang menjadi busuk. Pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan benih sehat, sanitasi, membuang buah yang terserang, serta penggunaan varietas yang sesuai. Jika diperlukan, pestisida yang terdaftar dan direkomendasikan dapat digunakan sesuai petunjuk.
Kementan juga mendorong petani menerapkan prinsip budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), termasuk menggunakan pupuk dan pestisida yang telah terdaftar dan teruji.
Petani juga dianjurkan melakukan pemantauan tanaman secara rutin. Pengendalian tidak harus menunggu sampai serangan penyakit meluas.

Menjaga Tanaman Tetap Berbuah
Di kebun Ritam, panjangnya masa produksi tanaman menjadi salah satu hal yang menarik perhatian.
Setelah 13 kali petik, tanaman belum menunjukkan tanda berhenti berproduksi. Buah baru masih bermunculan di antara daun yang tampak hijau.
Kondisi itu membuat setiap perawatan menjadi penting, terutama ketika harga cabai sedang memberikan harapan bagi petani.
Harga cabai sendiri memang dikenal mudah berubah mengikuti pasokan, permintaan, cuaca, dan kondisi produksi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya mencatat perubahan harga cabai turut dipengaruhi kondisi hortikultura dan faktor cuaca.
Karena itu, harga Rp30.000 per kilogram yang diterima Ritam hari ini belum tentu menjadi harga pada panen berikutnya.
Bagi petani, yang diharapkan bukan semata-mata harga tinggi, tetapi kombinasi antara tanaman yang terus menghasilkan, biaya produksi yang terkendali, dan harga jual yang memberikan ruang keuntungan.
“Kalau tanaman sehat dan buahnya banyak, kemudian harga juga bagus, tentu petani lebih semangat. Harapannya cabai terus melimpah dan harganya tetap baik,” ujar Ritam.
Kebun cabai itu menjadi salah satu bagian dari aktivitas Ritam sebagai petani di wilayah adat Banokeling.
Sebelumnya, Ritam bersama Ketua TMI Wilayah Adat Banokeling Aris Munandar juga mendampingi kunjungan ke sejumlah petani di kawasan tersebut. Mulai dari petani tembakau, kakao hingga komoditas hortikultura.
Rangkaian kunjungan itu dilakukan menjelang Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September.
Dari kebun cabai Ritam, Hari Tani Nasional terasa bukan sekadar peringatan di atas kertas. Ada tanaman yang harus dirawat setiap hari, buah yang harus dipetik sebelum terlalu matang, penyakit yang harus dicegah, dan harga pasar yang setiap saat bisa berubah.
Di antara semua itu, seorang petani tetap berharap sederhana: tanaman sehat, panen melimpah, dan hasil jerih payahnya dihargai dengan layak.***