Dari Sawah Kajoran, Feri Ali Yunanto Merambah Bisnis Ekspedisi hingga Lintas Pulau

5 Min Read
Feri Ali Yunanto, pemilik ekspedisi PT Zenkai Nusantara Global yang berdomisili di Kajoran (foto: rist/DMNetwork)

Ia tidak hanya menjalankan usaha angkutan, tetapi juga mulai mengembangkan jaringan perdagangan hasil bumi

MAGELANG, DMNETWORK – Feri Ali Yunanto (29) tumbuh dari lingkungan pertanian di Dusun Sepaten, Desa Madugondo, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Dari sawah di kampungnya, ia kemudian melihat peluang lain yang masih berkaitan erat dengan dunia pertanian: distribusi.

Kini, Feri mengembangkan bisnis ekspedisi dan perdagangan dengan armada yang terus bergerak dari satu kota ke kota lain. Ia memiliki sekitar 12 armada, mulai dari truk tronton, pikap hingga kendaraan travel.

Hampir setiap hari, armada tersebut tidak berhenti di kandang.

Ada kendaraan yang mengangkut hasil bumi dari sentra pertanian, ada yang membawa barang kebutuhan industri, dan ada pula yang melayani perjalanan antarkota untuk kebutuhan perdagangan.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Kalau armada berhenti, bisnis juga ikut berhenti. Jadi sebisa mungkin setiap hari ada perjalanan. Ada yang membawa hasil bumi, ada juga barang dari pabrik atau kebutuhan perdagangan lainnya,” kata Feri.

Bagi Feri, pengalaman sebagai petani justru membantunya memahami bisnis ekspedisi. Ia mengetahui bahwa persoalan petani tidak berhenti ketika tanaman dipanen.

Hasil pertanian harus segera keluar dari desa, bertemu pedagang, masuk ke pasar atau dikirim ke wilayah lain. Karena itu, transportasi menjadi bagian penting dari mata rantai tersebut.

Badan Pusat Statistik mencatat perdagangan antarwilayah merupakan aktivitas perdagangan dan pendistribusian barang dari satu provinsi ke provinsi lain. Perbedaan produksi dan kebutuhan komoditas antarwilayah menjadi salah satu faktor yang mendorong aktivitas tersebut.

Sementara itu, BPS menyebut sektor pergudangan, ekspedisi, dan kurir berperan sebagai bagian penting dalam rantai pasok yang menghubungkan produsen dan konsumen.

- Iklan -
Ad image

Feri mencoba mengambil posisi di antara kebutuhan tersebut.

Ia tidak hanya menjalankan usaha angkutan, tetapi juga mulai mengembangkan jaringan perdagangan hasil bumi. Komoditas pertanian dari desa-desa dapat dibawa menuju pembeli di daerah lain. Sebaliknya, kebutuhan dari pabrik maupun pusat perdagangan dapat dikirim ke berbagai daerah.

“Saya melihat hasil bumi sebenarnya banyak. Masalahnya kadang bukan produksi, tetapi bagaimana hasil itu bisa keluar dari desa dan menemukan pasar. Ekspedisi ini bisa menjadi jembatan antara petani dengan pembeli,” ujarnya.

Jangkauan usahanya kini bahkan mulai merambah ke luar Pulau Jawa.

Bagi Feri, perjalanan lintas daerah itu sekaligus membuka mata terhadap perbedaan potensi pertanian di setiap wilayah. Setiap daerah memiliki komoditas unggulan dan persoalan distribusinya sendiri.

Karena itu, aktivitas Feri tidak berhenti pada bisnis.

Ia juga aktif dalam organisasi tani dan tercatat sebagai sekretaris Tani Merdeka Kota Magelang. Melalui organisasi tersebut, ia ikut membantu eksplorasi potensi pertanian di sejumlah desa.

Kegiatan itu membuat Feri semakin sering bertemu petani, melihat lahan pertanian, mengenali komoditas yang dikembangkan masyarakat, sekaligus mencari kemungkinan agar produk pertanian memiliki akses pasar yang lebih luas.

“Kalau kita sering turun ke desa, kita bisa tahu sebenarnya petani punya potensi apa. Ada desa yang punya hasil cabai, ada yang punya sayuran, ada hasil bumi lainnya. Tinggal bagaimana produksinya bisa dikembangkan dan pasarnya bisa dibuka,” katanya.

Pengalaman sebagai petani sekaligus pelaku ekspedisi membuat Feri melihat pertanian dalam satu rangkaian yang utuh.

Petani menanam. Panen menghasilkan barang. Pedagang mencari pembeli. Dan kendaraan membawa hasil produksi itu menuju tempat yang membutuhkan.

Di titik itulah, menurut Feri, usaha ekspedisi memiliki peran.

Ia pun mulai melihat peluang untuk mengembangkan bisnis pengangkutan hasil bumi secara lebih serius, termasuk menghubungkan sentra produksi pertanian di daerah dengan pasar maupun mitra usaha di luar daerah.

“Harapannya bukan hanya kendaraan saya yang jalan. Kalau ekspedisi hasil bumi berkembang, petani juga ikut mendapatkan pasar yang lebih luas. Jadi yang bergerak bukan cuma truknya, tetapi ekonomi di desa juga,” ujar Feri.

Kini, ketika sebagian besar orang melihat truk hanya sebagai kendaraan pengangkut barang, Feri melihatnya dari sisi yang berbeda.

Bagi dia, setiap truk yang meninggalkan kampung membawa lebih dari sekadar muatan. Ada hasil kerja petani, produksi pabrik, kebutuhan pedagang, dan harapan agar barang tersebut sampai ke tempat yang membutuhkan.

Dari Dusun Sepaten, jalan bisnis Feri pun semakin panjang. Dari sawah Kajoran, ia belajar menanam. Dari jalan raya, ia belajar mengirimkan hasilnya.

Layanan ekspedisi Feri Ali Yunanto:
0895-3718-09528

Share This Article
error: Content is protected !!